
Tubuh Sabian kini sedikit mengalami penurunan daya imunitas, disebabkan oleh tanggung jawabnya yang baru sebagai pemimpin dari perusahan papanya. Kemudian memastikan keadaan Zea yang masih belum mendapatkan izin dari iparnya, hanya menunggu dari luar ruangan dan mencari informasi tentang kondisi istrinya dari dokter yang menanganinya.
" Kau harus fokus dulu dengan pekerjaan, jika tidak. Kau akan terlihat lemah dihadapan manusia batu itu, jangan jadi ayam sayur seperti dulu. Sok-sokan kuat dan pemberani, tapi keok sama wanita. Apalagi wanita bunglon, heleh." Kevin menasehati Sabian, untuk memberikan totalitasnya sebagai pemimpin perusahaan.
" Aku harus bagaimana? Sampai saat ini, kondisi Zea belum mengalami peningkatan. Bagaimana aku bisa tenang, Vin."
" Kau pasti bisa, om Reza sudah memberikan tanggung jawab perusahaan seluruhnya kepadamu. Buktikan jika dirimu memang layak untuk mendampingi wanita hebat seperti Zea, jangan seperti ini. Seperti hidup mau tapi mati pun enggan, hayolah." Arvin dengan semaunya bicara.
Dengan bertopang dagu, Sabian perlahan menelaah setiap ucapan yang Arvin katakan. Membutuhkan waktu beberapa saat, hingga akhirnya Sabian mengambil keputusan untuk menjalankan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya.
" Baiklah, tapi sebelum itu. Aku ingin kerumah sakit sebentar, memastikan keadaan Zea dan mama. Kau mau ikut atau langsung ke perusahaan? Hem, tapi sebaiknya kau langsung saja kesana. Persiapkan saja apa yang bisa kau lakukan, jangan cerewet. Kepalaku sudah mau pecah mendengar setiap omelan dari mulutmu, lebih pedas dari cabai setan. Hush, sana pergi."
__ADS_1
" Dasar bos set***an! Tidak pernah berubah!" Sungguh kesalnya Arvin mendengar Sabian mulai mempermainkannya seperti dulu, namun ada kebahagian dengan perubahan tersebut.
" Terserah kaulah, mau dibilang raja set**n pun tidak masalah. Karena aku tetaplah bosmu, dan kau tetap menjadi anak buahku. Hahaha." Sabian segera berlari meninggalkan Arvin yang sedang begitu kesal atas ucapannya.
" Sabian!!!" Teriak Arvin begitu kerasnya, membuat gendang telingga orang yang mendengarnya menjadi berdengung.
Sesampainya dirumah sakit, Sabian harus menghelas nafasnya seperti biasa. Pengawal yang selalu berjaga, akan melihat dirinya dengan tatapan yang begitu tajam. Saat akan menuju ruang dokter yang menangani perawatan Zea, ia dikejutkan oleh suara kegaduhan dan penampakan beberapa dokter dan tim medis lainnya, berlarian menuju kamar perawatan Zea.
" Apa yang terjadi didalam sana, mereka masih saja melarangku. Argh!"
Hanya bisa menunggu dan menunggu, itulah yang Sabian harus terima. Beberapa saat kemudian, terlihat Kenzie yang baru saja keluar dari ruang perawatan Zea dan Sabian langsung saja menghampirinya.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Zea? Apa yang terjadi!" Kedua telapak tangan Sabian mencengkram kedua bahu milik Kenzie dengan begitu kuat.
" Tiba-tiba saja keadaan nona menurun, tenanglah. Dokter sedang mengatasinya didalam, semoga tidak terjadi apa-apa."
" Bagaimana aku bisa tenang! Kalian terus menahanku disini! Aku suaminya dan aku berhak untuk istriku!"
Amarah Sabian sudah begitu memuncak, dengan sekuat tenaga. Ia mendorong tubuh Kenzie untuk menyingkir dari hadapannya dan masuk kedalam, menyadari keadaan tersebut. Kenzie membiarkannya saja dan menghalau pengawal yang mencoba mengejar Sabian, berharap dengan kehadiran Sabian dapat membantu Zea untuk kembali pulih.
" Biarkan saja, kalian tetap berjaga." Kenzie mendaratkan tubuhnya untuk berisitrahat sejenak dari keletihan, menghadapi bosnya yang begitu keras kepala dan tidak mau menerima saran dari orang lain.
Tuan, tuan. Sikapmu itu, mengalahkan sebagai seorang kakak. Terlalu sangat berlebihan, kasihan nona Zea. Kenzie.
__ADS_1