Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 49


__ADS_3

Setelah kepergian Osmond, Zea yang terlelap akibat dari menanggis sebelumnya. Terbangun dengan keadaan mata yang sembab, Zea keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan orang-orang.


" Kemana semua orang? Kenapa sepi sekali."


Melihat keadaan rumah yang tidak ada siapa pun, Zea berjalan menuju dapur untuk sekadar meminum air agar melegak tenggorokannya.


" Bu Lisa, bu Lisa. " Tidak ada satupun jawaban yang terdengar.


" Kemana semua orang ya." Mata Zea melihat keseluruh sudut ruangan yang ada, namun tak ada satupun terlihat.


Terdengar suara langkah kaki, seperti orang yang sedang berlarian.


" Hosh, hosh... Capek sekali." Lisa yang baru saja tiba dari kebun belakang, membawa sesuatu dalam genggaman tangannya.


" Bu Lisa."


" Aaaa... Aduh, non Zea. Bikin kaget bibik, hampir saja ni jantung copot." Lisa mengusap dadanya, agar dirinya tenang.


" Maaf bu, kirain nggak ada orang. Ibu darimana, kok seperti habis berlari." Tanya Zea.


" Oh itu non, bibik dari kebun dibelakang. Tanaman tomat-tomatnya sudah pada banyak yang masak, pas bibik mau panen. Eh tahunya ada lebah, nggak jadi panennya." Dengan wajah kecewa, Lisa mencuci tangannya pada wastafel didapur.


" Bu, kak Osmond kemana ya?"

__ADS_1


" E e, bibik kurang tahu non. Mungkin saja, Morgan ..."


Prang!!!


Prang!!!


Terdengar suara pecahan kaca yang pecah, hal itu membuat mereka sangat kaget. Lisa dan Zea segera mencari sumber suara, darimana asalnya.


" Mph mmm..." Lisa yang saat itu berjalan dari arah belakang Zea, tiba-tiba ada tangan yang membekapnya.


Zea terus berjalan mencari sumber dari pecahan kaca tersebut, matanya melirik kesemua arah. Melihat tidak ada hal yang mencurigakan, dirinya bermaksud untuk membalikkan tubuhnya dan berbicara kepada Lisa.


" Siapa kalian?"


" Bu Lisa!"


Lisa yang melihat nonanya sedang dalam keadaan genting, tanpa sepengetahuan orang lain. Kakinya menekan tombol kecil yang terletak pada alas kaki yang ia gunakan. Letak benda tersebut dirancang secara khusus, berada pada titik dimana jika dalam keadaan yang begitu bahaya, akan bisa ditekan tanpa pengetahuan orang lain. Tombol tersebut memancarkan sinyal bahaya, agar bisa dilihat dan dilacak keberadaannya.


Dor!


Dor!


Terlihat Morgan dengan para pasukannya mengepung seluruh sudut rumah, keadaan mereka telah dimanipulasi oleh pihak lawannya. Kini, keselamatan Zea sedang terancam.

__ADS_1


" Lepaskan dia!" Morgan mengertak pria yang menyekap Zea.


" Biarkan kami pergi dari sini, jika ingin nyawa wanita ini selamat." Zea terus meronta untuk melepaskan diri, namun tangan pria tersebut begitu kuat menahan tubuhnya.


Situasi disana berubah menjadi sangat mencekam, pihak Morgan tidak ingin mengambil resiko. Karena keselamatan Zea yang menjadi prioritas mereka, dalam keadaan tersebut. Kedatangan Osmond menjadi kunci dari kejadian, dengan wajah yang begitu khawatir. Melihat wanita yang begitu sangat ia sayangi, menjadi tawanan.


" Lepaskan adikku! Atau nyawamu akan aku habisi saat ini juga!" Dengan begitu marahnya, Osmond meminta mereka menyerahkan Zea kembali.


" Jika kalian menginginkannya, akan kami berikan. Tapi dengan syarat."


" Katakan!" Osmond semakin emosi, melihat Zea yang terus meringgis tersakiti.


Sebelum mereka mengatakan apa yang menjadi keinginan mereka, terjadi kekacauan dari sisi luar. Dengan kejadian itu, membuat fokus semuanya teralihkan. Dan disaat mereka kembali, Zea telah hilang dari pandangan.


" Zea! Zea!" Teriakan Osmond dengan suara yang terdengar sangat menyeramkan.


Sumber kekacauan diluar tersebut, tak lain adalah kedatangan Sabian dan rekan-rekannya. Mereka bermaksud untuk menemui Zea dan membicarakan permasalahn yang ada diantara mereka, namun apa yang mereka saksikan kali ini. Sangat membuat dirinya tidak bisa berdamai dengan akal sehatnya.


" Zea! Apa yang terjadi pada Zea? Dimana Zea?!" Suara Sabian tak kalah garangnya.


Bugh!


Bugh!

__ADS_1


Secara bertubi-tubi, Osmond menyerang dan memberikan pukulan kepada Sabian. Kemarahan dalam dirinya begitu membara, dan setelahnya. Osmond meninggalkannya begitu saja, mengerahkan seluruh pasukannya untuk melacak dan mencari keberadaan Zea


__ADS_2