
Mendapatkan berita kecelakan yang dialami oleh Sabian, sebagai orang tua. Reza dan Vita segera bergegas menuju rumah sakit yang telah di informasikan oleh Arvin, dengan perasaan yang begitu khawatir.
" Pa, bagaimana keadaan anak kita? Kenapa bisa terjadi seperti ini." Tanggisan Vita pun pecah.
" Kita berdoa saja, semoga Sabian tidak apa-apa." Reza memenangkan istrinya, agar tidak terlalu berfikiran yang terlalu jauh.
" Tapi pa..."
" Ssttt, lebih baik kita sampai dulu disana." Reza mencoba menutupi rasa resah akan keadaan anak semata wayangnya.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu sangat lama dan juga menegangkan, sepasang suami istri tersebut saling menguatkan satu sama lainnya.
Setibanya mereka disana, dengan bergegas bahkan sedikit berlari kecil agar bisa segera sampai. Melihat Arvin yang sedang duduk di kursi ruang tunggu, mereka menghampiri.
" Arvin, bagaimana keadaan Sabian?!" Reza begitu mencemaskam keadaan anaknya.
" Tuan besar, nyonya besar. Dokter masih menanggani tuan muda di dalam." Mempersilahkan kedua orangtua dari bosnya untuk duduk.
" Dimana Zea? Apa kau sudah memberitahukan kepadanya, tentang keadaan Sabian?"
" Hem, iya tuan. Nanti nona Zea akan menyusul." Menepati janji yang telah ia sepakati bersama Maryam sebelumnya.
" Baguslah, semoga keadaan Sabian baik-baik saja." Dengan ikut mendudukkan dirinya disamping sang istri, fikiran Reza menjadi sedikit tenang.
Dua jam berlalu, perlahan pintu ruang tindakan terbuka. Terlihat seorang dokter berjalan keluar dari sana, dengan sigap. Mereka bertiga pun segera mendekati dokter tersebut.
" Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Begitu paniknya, Vita langsung menanyakan keadaan Sabian.
" Keluarga dari pasien, atas nama Sabian?" Dokter bertanya kepada mereka.
__ADS_1
Dengan menganggukkan kepala, menandakan jika mereka adalah orangtua ataupun keluarga dari pasien.
" Baiklah, pasien saat ini sedang dipersiapkan untuk dipindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya tidak cukup mengkhawatirkan, hanya saja. Akan kita pantau terus, untuk meminimalisir keadaan yanh tidak di inginkan." Penjelasan tersebut membuat kedua orang tua Sabian, sedikit menghembuskan nafas lega.
" Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi. Saya permisi." Dengan tersenyum, dokter tersebut beranjak dari hadapan orang-orang disana.
Vita langsung memeluk tubuh Reza dengan begitu erat, dirinya begitu lega mendengar perkataan dari dokter tersebut. Kemudian disusul oleh beberapa perawat yang sedang memproses perpindahan Sabian menuju ruang perawatan, dan mereka pun mengikutinya.
Disaat semua sedang fokus pada Sabian, Maryam terus menjaga Zea. Kedua kelopak mata itu bergerak dan perlahan terbuka, membuat Maryam seketika menghampirinya.
" Non, non Zea." Maryam mengusap punggung tangannya perlahan.
" Ibu." Dengan suara yang lirih, lalu mata Zea mengitari setiap sudut ruangan.
" Dimana ini bu?"
" Sepertinya belum bu, bagaimana keadaan tuan Sabian?"
" Tuan Arvin sedang menungguinnya nona, sepertinya nyonya dan tuan besar juga ada."
" Semoga saja, keadaannya baik-baik saja. Bu, apa sebaiknya aku kesana atau ..."
" Maaf non, kata tuan Arvin. Non Zea disuruh istirahat dulu, nanti kabar tuan muda akan ia sampaikan. Jadi non Zea istirahat saja ya, itu bayinya juga perlu istirahat yang cukup. Jangan kecapean dan jangan banyak pikiran non, nanti takutnya pendarahan lagi. Bahaya." Maryam menegaskan perkataannya, dengan tujuan agar Zea lebih memperhatikan keadaan dirinya.
" Baiklah bu, jangan cerewet ya. Nanti tambah banyak burung yang terbang di kepala, hehe." Dengan sedikit bercanda, Zea mencoba mencairkan suasana yang ada.
" Burung? Di kepala non, nggak ada burung. Non Zea ngigo ni, lagian juga burung kan ada di alam bebas non." Maryam masih belum memahami perkataan Zea, jika itu hanyalah sebuah kiasan.
Zea menjadi terhibur dengan kelucuan dan kepolosan dari Maryam, menjalang malam harinya. Arvin mendatangi ruang perawatan Zea, terlihat diwajahnya Ia begitu lelah.
__ADS_1
" Kak."
" Belum tidur? Tidak baik, bumil tidur terlalu malam. " Menghampiri dan duduk pada kursi yang berada disamping tempat tidur.
" Bagaimana keadaannya?"
Tidak ada jawaban ataupun bahasa tubuh lainnya yang Arvin tampakkan, wajahnya yang datar memandang lurus kedepan.
" Kak, ada apa?" Tangan Zea melambai-lambai di udara, tepat dihadapan wajah Arvin.
" Kau harus kuat menjalaninya."
Ucapan Arvin terdengar begitu mengagetkan, membuat Zea seketika menjadi heran dan bertanya-tanya.
" Maksud kakak?"
Flashback on
Didalam ruang perawatan, Sabian masih terlelap. Vita dan Reza terus mendampinginya dengan begitu sabar, Arvin pun tak kalah. Ia pun berada disana, memastikan jika keadaan bosnya.
" Va Va nia, Vania."
Suara yang keluar dari mulut Sabian, membuat mereka menjadi kaget. Perlahan mata Sabian terbuka, ia mulai melirik semua orang yang berada didalam ruagan tersebut.
" Vania? Vania dimana? Vania. Ma, Vania dimana?" Hanya kalimat tersebut yang terucap dari Sabian.
Arvin menekan tombol darurat, agar dokter segera datang. Dokter pun tiba dan beberapa perawat bersamanya, melihat situasi yang ada. Mereka langsung melakukan pemeriksaan pada tubuh pasien, untuk mengetahui keadaan yang sedang dialami. Penuh perjuangan untuk membuatnya menuruti perintah dokter tersebut, dengan sabarnya meladeni sikap Sabian.
Dokter yang telah selesai memeriksa keadaan Sabian, menjelaskan beberapa persoalan yang baru untuk mereka hadapi. Karena Sabian menderita amnesia. Yang berarti, dia tidak akan mengingat jika dirinya sudah menikah dengan Zea.
__ADS_1