
Semenjak tragedi kecelakan yang Sabian alami, maka sejak itu juga kedua orangtua Sabian tidak pernah bertemu lagi dengan Zea, terutama Vita sang Ibu mertua. Mendengarkan cerita dari Maryam, jika Zea telah pergi dari rumah tersebut. Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah dan begitu mengkhawatirkan keadaan menantunya tersebut, apalagi yang ia ketahui jika Zea tidak memiliki siapa-siapa lagi.
" Apa yang harus aku lakukan, dimana Zea berada saat ini. Ya Tuhan, anak itu sudah benar-benar kelewatan tidak warasnya." Vita mengomel sepanjang perjalanan didalam mobil menuju perusahaan suaminya.
Sesampainya Vita, ia langsung menuju ruangan suaminya dengan masih mengomel dan wajah yang begitu masam. Dimana sepanjang perjalanan, setiap karyawaan yang bertatap muka padanya. Menundukkan sebagian tubuh mereka, sebagai tanda penghormatan kepada istri dari pemilik perusahaan tersebut.
" Selamat siang nyonya." Sapa Ronald, orang kepercayaan Reza.
" Siang, aku ingin menemui suamiku."
" Tunggu sebentar nyonya, tuan masih ada tamu dari klien penting. Saya harap, anda bisa menunggunya."
" Berapa lama?" Vita sudah begitu tidak sabar, ingin menemui Reza.
Klek!
Suara pintu terbuka, terlihat jika pertemuan itu telah selesai.
" Terima kasih atas kunjungan anda, tuan Osmond. Semoga kerjasama kita dapat segera berlangsung dan tidak ada hambatan."
" Sama-sama tuan Reza, saya juga berharap kita bisa bekerjasama."
Osmond menyambut tangan Reza sebagai tanda jika mereka mempunyai hubungan dalam pekerjaan. Disaat akan menghantarkan kliennya keluar dari ruangannya, Reza melihat keberadaan sang istri yang sedang menunggunya.
" Mama."
__ADS_1
" Papa, mama mau bicara sesuatu yang sangat penting." Vita berjalan mendekati Reza dengan sedikit berlarian.
" Ada apa?" Reza tampak kebingungan dengan kehadiran istrinya yang tampak begitu emosi.
" Menantu kita pa, Zea. Dia tidak pulang-pulang semenjak peristiwa kecelakan itu pa, mama jadi semakin khawatir. Kita harus mencarinya pa, ayo!" Vita menarik-narik lengan Reza, agar ia menuruti keinginannya.
" Ma, sebentar. Ini masih ada klien papa, malu ma."
Mendengar perkataan suaminya, Vita langsung menolehkan wajahnya kearah orang tersebut. Betapa malu dirinya dihadapan klien suaminya, dengan wajah yang bersemu merah seperti buah tomat.
" Akh! Papa kenapa tidak bilang, mama malu jadinya. Ih, kebiasaan papanya." Vita segera berlalu memasuki ruangan suaminya dengan tergesa-gesa.
" Maafkan istri saya tuan, dia memang begitu orangnya." Raza menjadi tidak enak dengan kliennya tersebut.
" Huh! Begitulah, menantu kami saat ini pergi entah kemana. Pencarian kami sampai saat ini, belum menemui titik temunya." Terlihat begitu resahnya perasaan Reza.
Osmond tampak tersenyum sinis pada sudut bibirnya, namun hal itu tidak disadari oleh Reza.
" Baiklah tuan Reza, saya pamit. Semoga persoalan anda segera terselesaikan, mari." Osmond berjalan meninggalkan Reza.
" Terima kasih tuan."
Mengikuti langkah kaki tuannya, Kenzie yang mendampingi Osmond dalam pertemuan tersebut hanya bisa ikut memberikan senyuman tipisnya.
Kalian belum tau siapa sebenarnya nona Zea bagi tuan Osmond, jika kalian mengetahuinya. Habislah kalian. Kenzie.
__ADS_1
Dipertengahan perjalanannya, Osmond tak henti-hentinya memandangi pemandangan dari balik jendela mobil. Menghentakkan jemarinya diatas pahanya, ia menyungingkan senyuman.
" Kenzie!"
" Ya tuan."
" Lindungi semua data mengenai Zea, jangan sampai ada seorangpun yang mengetahuinya. Termasuk pada semua jaringan bawah, kau mengerti maksudku bukan."
" Baik tuan, saya mengerti."
Begitu besarnya perhatian yang Osmond berikan, untuk kepentingan dan keselamatan orang yang begitu ia sayangi. Bahkan nyawanya pun ia pertaruhkan untuk menjaganya, ia tidak ingin terpisahkan lagi dengan adiknya dan ia mau menebus segala kesalahan yang telah ia lakukan sebelumnya sehingga kehidupan sang adik menjadi seperti ini.
Didalam ruangan kerjanya, Reza mendapati istrinya sedang bersedekap dengan wajah yang bertekuk.
" Ada apa ma? Cantiknya hilang lo kalau cemberut." Reza ikut duduk berdampingan dengan sang istri.
" Papa sih! Gara-gara tadi, mama malu jadinya. "
" Iya iya, maaf mama yang cantik. Mama tadi mau membahas apa, tentang Zea?"
" Iya pa. Maryam bilang Zea pergi dari rumah semenjak Sabian pulang dari rumah sakit, dan si wanita itu jadi sering datang bahkan menginap disana. Dasar wanita tidak tau malu, kita harus memberitahukan Sabian yang sebenarnya pa. Mama tidak mau hal ini semakin keruh, apalagi Zea sekarang tidak tau dimana. Mama semakin bersalah atas semuanya ini, pa." Tanggisan itu akhirnya pecah, Vita menanggis dengan begitu pilunya.
Reza menarik Vita kedalam pelukannya, ia tau jika istrinya itu. Begitu teramat menyanyangi menantunya, dirinya juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh istrinya. Namun apa daya, ia hanya bisa menguatkan dirinya agar bisa terlihat tegar dan kuat. Orang yang ia bayar untuk menyelidiki dna mencari keberadaan Zea, sampai saat ini belum bisa menemukannya.
Dimana kamu berada nak, kembalilah. Maafkan kami yang belum bisa melindungimu. Reza.
__ADS_1