
Keesokan paginya...
Selepas kedatangan ibu mertuanya, mereka sepakat untuk merahasiakan semuanya dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Zea saat itu sudah menyiapkan sarapan seperti biasanya, melakukan hal tersebut semenjak ia sadar akan statusnya sebagai istri.
" Bu, lebih baik kita sarapan bersama." Tawar Zea kepada Maryam, agar bisa makan bersama.
" Adu, non. Bibik sudah biasa makan sendirian didapur, lebih baik non temanin tuan muda saja ya. Buat hati tuan muda bertekuk lutut pada non, jangan sampai si rayap merajarela dirumah ini non. Ayo, bibik akan terus mendukung non." Maryam dengan semangatnya.
" Tidak bu, lebih baik makan bersama ibu disini. Lebih kenyang, hehehe." Zea masih terus menolak untuk makan bersama dengan suaminya, karena ia tidak ingin terjadi pertengkaran diantara mereka.
" Iih non Zea, sini." Maryam menarik tangan Zea dan menuntunnya menuju meja makan.
Terlihat disana, pasangan pengantin baru itu sedang menikmati masakan yang Zea masak bersama Maryam.
" Hem, masakan pembantu kamu enak sekali love. Tidak salah jika mama kamu menempatkannya disini." Vania yang sangat merasakan kelezatan dari makanan yang ia santap.
Rasa masakan ini, tidak seperti biasanya. Bik Maryam tidak seenak ini masakannya, tumben. Apa Jangan-jangan, wanita itu yang memasaknya? Sabian.
" Love?! Ada apa?" Melihat Sabian yang hanya terdiam sembari mengaduk-aduk makanannya.
" Ah, tidak apa-apa. Kamu nikmati saja makanannya."
" Hem, baiklah."
__ADS_1
Dengan tergopoh-gopoh, Maryam menyeret Zea dan akhirnya mereka tiba disana. Menarik salah satu kursi dari meja tersebut, dan mempersilahkan Zea untuk duduk disana.
" Hei! Kenapa kamu ikut duduk disini? Tempat kamu itu didapur, buat nafsu makan hilang saja." Dengan begitu kerasnya, Vania menghempaskan peralatan makannya dan menimbulkan suara dentingan yang cukup keras.
" Maaf, non Zea memang harus makan disini. Silahkan non." Maryam mengambilkan beberapa makanan ke atas piring dan memberikannya kepada Zea.
Raut muka Vania begitu tidak suka, berbagai cacian ia lontarkan kepada Zea.
Brak!!!
Sabian memukul meja dengan cukup keras, membuat yang lainnya menjadi sangat kaget.
" Diamlah!" Bentaknya dengan sangat keras.
Merasa kehadirannya telah membuat kekacauan, Zea berdiri dan beranjak dari sana. Tidak ingin semakin menambah kemarahan pada suaminya, ia ingin kedamaian didalam rumah tangganya. Walaupun hanya dirinya saja yang berjuang, untuk keutuhannya tersebut. Namun, disaat Zea akan meninggalkan meja makan. Sebuah tamparan mengenai pipinya.
" Aaa..." Zea sangat kaget dengan apa yang ia terima.
" Non Zea." Maryam segera mendekatinya.
" Ti tidak apa-apa bu, maaf jika sudah merusak suasana makan kalian. Permisi, bu ayo kita kebelakang." Zea menarik lengan Maryam dan berjalan menuju dapur.
" Dasar wanita tidak tau diri, bikin suasana hatiku rusak saja. Love, kamu lihatkan dia. Sungguh menyebalkan." Vania mencari pembelaan dari Sabian.
__ADS_1
Mulut Vania terus-menerus mengomel tentang ketidaksukaan dirinya terhadap Zea, hal tersebut semakin membuat telingga Sabian terasa sakit. Melihat Zea terkena tamparan dari Vania, Sabian hanya menyaksikannya tanpa pembelaan.
" Sudah hentikan Vania, masalah kecil tidak perlu dibesar-besarkan."
" Apa, kamu bilang ini masalah kecil?"
" Honey."
" Diamlah, kamu sudah merusaknya. Huh, lebih baik aku pergi saja."
Sabian mengejar Vania yang sedang marah, namun terjadi penolakan yang mengakibatkan Vania pergi menggunakan mobilnya sendiri. Dengan hal tersebut, membuat sabian berjalan kembali menuju meja makan untuk mengambil tas kerjanya. Darisana, terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang bercengkramaa dari arah dapur.
" Aduh non, kenapa si selalu mengalah dengan si rayap itu. Gini-gini kan non Zea itu istri sahnya tuan muda. Pipinya sakit nggak non, merah." Maryam berceloteh membela Zea.
" Alhamdulillah nggak apa-apa kok bu, hanya perih sedikit dan nanti juga sembuh sendiri. Untuk apa saling bertengkar, karena tidak semua kekerasan dibalas dengan kekerasan juga bu. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka." Walaupun sebenarnya fisik dan batin Zea sangat sakit dan lelah atas perlakuam yang ia terima, namun semuanya itu ia coba untuk menerimanya.
" Hati non ini, terbuat dari apa sih. Sabar bener, kalau bibik. Habis tu rayap kena semprotan pembasmi serangga, biar mampus. Lagian, tuan muda Sabian. Tahan bener sama tu rayap, dari mukanya saja sudah terlihat kalau sifatnya nggak bagus."
" Bu, tidak baik seperti itu. Lebih baik kita lanjutin makannya di kebun belakang saja yuk, sepertinya lebih asik." Zea sengaja mengalihkan arah pembicaraan mereka, agar Maryam berhenti membicarakan kejadian tersebut.
" Wah bener tu non, sebentar. Bibik bawa tambahan lauknya, biar kenyang." Bagitu antusiasnya Maryam tatkala mendengar kebun.
Setelah persiapan selesai, mereka pun beranjak pergi dan menikmati hidangan yang telah dibawa. Hal itu semuanya tak luput dari pengawasan Sabian, melihat semuanya itu, membuat hatinya merasakan rasa bersalah.
__ADS_1
Maaf
Hanya kalimat tersebut yang terucap dari dalam hatinya yang terdalam, namun ke-egoisan masih menyelimuti dirinya. Lalu ia beranjak pergi menuju perusahaannya.