Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 66


__ADS_3

" Bekerja untukku, jika kau dipecat!" Ucap Osmond dan ia pun berlalu.


" Benarkah itu?" Clara terpukau dengan apa yang dikatakan oleh Osmond kepadanya.


What? Dia mengatakan untuk bekerja dengannya? Gila ni anak, konslet tiba-tiba. Sepertinya, aku mencium aroma-aroma merah jambu kayaknya. Kenzie.


Melihat bosnya sudah berjalan menjauh, Kenzie segera mengejarnya. Dengan Clara yang masih diam ditempatnya semula, yang kemudian dikejutkan oleh tepukan tangan pada bahunya.


" Kau ini, kenapa jadi begong seperti ini? Bukannya membantuku, malah kau berdiri disini. Dasar ditidak becus, proposal yang kau buat ini sungguh tidak berbobot! Kau dipecat!!"


" Hei! Kesalahanku apa tuan aneh? Kau sendiri yang sudah membaca dan menyetujui proposal yang aku ajukan, makanya dibaca yang benar. Ini malah sibuk menyalahkan orang lain, dasar pria aneh." Clara mengeluarkan protesnya atas apa yang sudah ia dapatkan.


" Apa kau bilang, hah! Sekretaris itu harus mempunyai pikiran yang luas, melebihi bosnya. Apa gunanya aku memperkerjakanmu kalau tau hasilnya akan seperti ini, dasar tidak berguna." David terus mengumpat Clara dengan kata-katanya yang cukup kasar.


Brak!


bruk!


" Ambil ini! Berkas-berkas dan juga peralatanmu ini, sehari saja aku sudah muak bekerja dengan seorang pria aneh seperti mu! Terima kasih telah memecatku!" Melemparkan semua berkas yang berada padanya, Clara pun pergi meninggalkan David.

__ADS_1


" Berhenti kau!" Mengejar langkah Clara yang sudah mempermalukannya, David menarik lengannya dengan cukup kuat.


Tanpa sadar, disaat David menarik lengan Clara. Mereka berdua hilang keseimbangan, pada akhirnya berakhir dengan mendarat cantik di lantai.


" Aaa..."


Bugh!


Semua mata orang yang berada disana terfokus kepada mereka berdua, dimulai dari pertengkaran sampai saat ini. Sorot mata keduanya saling bertemu dan bertatapan, deg deg deg. Suara jantung keduanya terdengar sangat jelas dan berderak cepat.


" Dasar pria aneh, mesum, kurang ajar!" Clara langsung memposisikan dirinya untuk segera berdiri dari atas tubuh bosnya.


" Dasar pria tidak waras, mesum, kurang ajar, tidak tau diri." Umpatan terus keluar dari mulut Clara.


Namun tidak pada David, setelah kepergian sekretarisnya itu. Ia pun berdiri, menatap wanita yang sudah mengumpatnya itu telah hilang dari tatapan matanya. Melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat tersebut dan disaat berada didalam mobil, tangan itu memegang dadanya.


Apa ini? Baru kali ini aku merasakan perasaan seperti ini, sudah banyak sekali wanita bersamaku. Tapi tidak seperti ini, dia sungguh berbeda dari yang lainnya. Arkh! David.


......................

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, Zea sudah berada dikediaman sang kakak. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, Zea memutuskan untuk kembali kerumah kakaknya.


" Kak, apakah kau tidak mau menikah?" Saat mereka sedang menikmati sarapan paginya, Zea menanyakan hal yang cukup sensitif kepada Osmond.


" Tidak perlu memikirkanku, cukup dengan kalian yang berada disampingku. Itu sudah membuatku bahagia."


" Hem, sepertinya kalau dirumah besar ini ada kehangatan dan juga suara anak-anak darimu. Akan terasa lebih berwarna dan bahagia kak, cobalah untuk membuka hatimu untuk wanita. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan, siapa yang akan meneruskan perjuangan kakak ini kalau bukan darah dagingmu sendiri."


Zea menatap Osmond yang saat itu sedang melihat ponselnya, ia tidak ingin sang kakak hanya memikirkan kebahagian dirinya dan juga pekerjaan. Tapi tidak memikirkan untuk dirinya sendiri, sudah saatnya ia harus menikmati hidupnya. Walaupun sampai saat ini, Zea hanya tau jika kakaknya adalah seorang CEO dan bukan leader dunia bawah.


" Permisi tuan, nona. Ada tamu yang datang, ingin bertemu dengan nona Zea." Seorang maid wanita datang dan mengatakan hal tersebut.


" Tamu, siapa bik?" Tanya Zea yang penasaran.


" Ee, katanya nona harus melihat sendiri kesana." Lalu maid tersebut berlalu dari hadapan mereka.


" Biar kakak saja yang melihatnya." Osmond pun merasakan rasa penasaran dengan tamu tersebut.


" Tidak usah kak, biar Zea saja. Kakak terus sarapannya."

__ADS_1


Zea berjalan menuju ruang utama, pikirannya mencoba menerka siapa yang bertamu dan mencari dirinya diwaktu sepagi ini. Pintu tersebut ia buka dan memperlihatkan seorang pria yang sudah lengkap dengan pakaiannya formalnya, Zea tersenyum melihatnya.


__ADS_2