Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 32


__ADS_3

Dor!


Dor!


Dor!


Tembakan tersebut, tepat mengenai sasaran. Tiga orang tumbang dan meregang nyawa, terkena tembakana dari Osmond. Mendengar suara tembakan dari dalam rumah, Kenzie menerobos untuk masuk kedalam.


" Tuan!"


" Aman. Ada apa ini?" Osmond kembali mendekati Zea, yang masih terlihat begitu ketakutan.


" Kelompok Dusa melakukan aksi balas dendamnya, tuan."


" Dusa?!"


" Iya tuan, mereka merupakan kelompok ilegal yang melakukan penjualan produk dibawah harga pasaran. Ketua kelompok mereka yang telah tuan lenyapkan, menuntut pembalasan atas hal tersebut."


" Ka ka lian!" Zea begitu kaget dengan penjelasan dari Kenzie, pikirannya mengarahkan kepada kekejaman dan pembunuhan.


" Zea! Dengarkan kakak, ..."


" Tidak! Pergi, pergi kalian!! Pergi!" Rasa takut yang menguasai dirinya, membuat Zea tidak bisa menerima apa yang baru saja ia dengar.


" Zea, dengarkan kakak dulu."


" Pergi! Aku bilang per... Akh!" Tiba-tiba perut Zea merasa kram, ia meringgis kesakitan dengan kedua tangannya memegang perutnya.


" Zea! Ada apa?"


Zea masih terus saja meringgis dengan rasa sakit yang ia rasakan pada perutnya, ingin rasanya ia memberitahukan keadaannya. Akan tetapi, ia masih ragu akan kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Osmond.


" Zea!


Dor!

__ADS_1


Dor!


Bugh!


Bugh!


Suara penyerangan masih terdengar dengan begitu jelas, Kenzie kembali memfokuskan dirinya untuk melindungi tuan dan adiknya.


"Argh, sa sakit." Erangan dari Zea yang terdengar begitu memilukan.


" Kenzie! Siapkan mobil! Arahkan mereka untuk menjauh dari sini!!" Nada suara Osmond sudah begitu tinggi, ia merasakan panik yang begitu besar melihat Zea yang meringgia kesakitan.


Mengetahui maksud dari tuannya, Kenzie segera menyiapkan semuanya. Pasukan mereka yang baru saja tiba, dengan cepat melaksanakan tugasnya.


" Darah! " Osmond melihat ada aliran darah yang mengalir dari kedua kaki Zea.


Tanpa ragu, Osmond memeluk tubuh itu dan membawanya menuju mobil yang telah dipersiapkan. Kenzie memberikan arahan dan aba-aba kepada pasukannya, sebagian dari mereka membereskan akai penyerangan dan lainnya mengawal mereka munuju rumah sakit.


" Bertahanlah Zea, bertahanlah." Mengemudikan mobil itu sendiri, Osmond begitu cepatnya menerobos arus lalu lintas yang ada.


Berjalan bak seperti setrikaan, Osmond bolak balik berjalan didepan pintu ruang tindakan. Kenzie hanya ikut menyaksikannya, baru kali ini ia melihat tuannya begitu khawatir dengan seseorang. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepatnya, Osmond menghampiri.


" Bagaimana keadaannya dokter? Apa yang terjadi?"


" Keluarga pasien? Pasien mengalami pendarahan akibat dari kehamilannya yang sangat lemah, untuk itu anda sebagai suaminya harus menjaganya dengan sebaik mungkin. Agar dapat menghindari dari yang namanya keguguran."


" Ha mil?!! Hamil dok?" Osmond benar-benar kaget dengan penjelasan dari dokter tersebut.


" Jadi, anda belum mengetahui kehamilan istri anda? Hem, kalau begitu. Anda harus lebih ekstra menjaganya, saya permisi." Dokter itu pun berlalu dari hadapan mereka.


Osmond langsung terduduk lemas, mendengar penjelasan dari sang dokter tentang keadaan sang adik.


" Bagaimana bisa, ia mengalami semuanya ini?!" Sambil memejamkan matanya, Osmond menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


" Lebih baik, kita fokus dengan kesehatan nona Zea terlebih dahulu tuan." Suara Kenzie menyadarkan Osmond.

__ADS_1


" Ah, kau benar. Bagaimana situasi disana?"


" Para anggota kita sudah mengatasinya tuan."


" Hem, aku tidak ingin Zea menjadi kepikiran. Untul saat ini, jangan sampai Zea mengetahui kegiatan kita. Huh! Kenapa mereka harus menyerang dalam keadaan seperti ini, kau urus itu semua." Osmond berlalu menuju ruangan , dimana Zea berada.


" Baik tuan, akan saya laksanakan."


Disaat mereka memasuki ruangan tersebut, ternyata Zea sudah sadar dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Terlihat seorang perawat yang masih menemaninya, dan perawat tersebut pun berlalu ketika pihak keluarga pasien sudah berada disana.


" Kau sudah sadar?"


Tidak ada jawaban yang Zea ucapkan, ia hanya menatap selang infus yang menancap pada punggung tangan kirinya. Begitu pun juga Osmond, ia mendudukkan dirinya pada kursi yang berada samping tempat tidur.


" Kau sedang hamil, Zea?"


Atas ucapan itu, pada sudut mata Zea telah mengalir air mata.


" Jangan menanggis, tidak baik untuk bayimu."


Namun bukannya berhenti, tanggisan itu semakin pecah. Tidak sanggup melihat sang adik yang ia sayangi bersedih, tubuh Zea perlahan ia bawa ke dalam pelukannya.


" Jangan menanggis, pikirkan anakmu."


" Bawa aku pergi dari sini."


Bola mata Osmond melebar, ucapan Zea sangat membuat tubuhnya bergetar. Perlahan-lahan, Osmond memberikan ruang untuk Zea menenangkan diri. Yang kemudian ia ajak untuk saling bertukar pikiran sebagai saudara. Tidak ingin kehilangan lagi, Osmond akan berusaha menjaga dan membahagiakan adiknya.


" Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu."


" Terima kasih, k kak."


" A apa, kau bilang apa tadi?"


" Ka kak, berikan aku waktu untuk menerima ini semuanya. "

__ADS_1


Perasaan bahagia itu begitu menyentuh hati Osmond, penantian yang menjadi impiannya perlahan terkabulkan. Menemukan keberadaan sang adik, panggilan 'kakak' dari Zea, hal itu sudah begitu membuatnya bahagia.


__ADS_2