Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 88


__ADS_3

" Air?" Zea mendadak menjadi tegang.


" Itu air ketubannya sudah pecah nak, Pa. Cepetan ngebut, kasihan Zea!"


" Iya Ma, Bian. Kamu cepat telfon dokter kandungannya Zea, biar mereka bisa menyiapkan proses bersalinnya disana." Vita begitu panik mendapati menantunya itu sudah mengalami pecah ketuban.


Reza yang saat itu mengemudikan mobil, menjadi ikutan panik. Sementara itu, Zea semakin merasakan sakit pada perutnya. Suasana di dalam mobil semakin tegang, ketika mereka tiba dirumah sakit. Dokter kandungan yang akan menangani Zea sudah menunggu, mereka segera membawa Zea ke dalam ruang persalinan. Hanya Sabian yang diperbolehkan untuk menemani Zea didalam, keinginannya untuk melahirkan secara normal kini telah pupus. Jumlah cairan ketuban sudah sangat kering, hal itu jika tidak segera dilakukan tindakan. Akan sangat berbahaya bagi janin dan ibunya, Sabian segera menandatangani segala persyaratan yang diperlukan. Semua tenaga medis yang bersangkutan sedang menyiapkan semua peralatan yang diperlukan, sementara itu Sabian keluar sejenak dari ruangan untuk mengambil udara segar dan melepas ketegangannya.


" Bian, bagaiamana Zea?" Tanya Vita yang begitu khawatir.


" Zea harus segera di ceasar Ma, air ketubannya sudah mengering. " Sabian mengusap wajahnya dengan kasar.


" Tidak apa-apa nak, dokter sudah memperhitungakan segalanya. Kuatkan Zea dan terus berdoa untuk keselamatan mereka."


" Iya, terima kasih Ma, Pa." Sabian kembali memasuki ruangan persalinan.

__ADS_1


Osmond dan Clara yang baru saja tiba, segera ikut bergabung bersama kedua orang tua Sabian. Mereka semua sedang sangat cemas dan tegang, menantikan proses persalinan dari Zea. Didalam ruang tindakan, Zea mulai mendapatkan anastesi untuk tubuhnya. Sabian terus berada di sisi istrinua, untuk memberikan kekuatan dan juga ketenangan dalam menghadapi persalinan buah hati mereka.


" Bee, aku takut."


Dengan memberikan senyuman yang lembut, Sabian mengecup kening Zea dan menggenggam tangannya.


" Jangan takut sayang, kamu adalah wanita terkuat dan terhebat dalam hidup ini. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja."


Sementara di lain tempat...


" Kamu bisa diam tidak! Dasar mulut besar dan cerewet sekali." Seorang penjaga yang sudah merasa kesal akan tingkah dari tawanannya.


" Lepaskan! Aku tidak akan diam, sampai kalian melepaskanku!"


Benar-benar wanita ini, aku sudah begitu sabar menghadapinya. Tapi mulutnya tidak berhenti berceloteh yang membuat telinggaku sakit, sungguh membuatmu pusing.

__ADS_1


Penjaga itu mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi bos mereka, berharap mendapatkan solusi dari suara yang menyakitkan telinga.


" Hallo tuan."


" Ada apa?"


" Wanita ini selalu meminta untuk dilepaskan, dia juga berteriak yang tidak jelas." Lapornya kepada bos mereka.


" Kalian boleh melepasnya, lakukan dengan rapi dan tidak ada jejak sedikit pun."


Percakapan itu berakhir begitu saja, membuat pria itu bernafas dengan sangat lega. Lalu ia menatap Vania dengan tatapan tajam penuh arti, menjentikkan jemarinya sebagai pertanda untuk anggota yang lainnya.


" Perintah bos, ...." Pria itu menjelaskan kepada yang lainnya, tentang apa yang ia dapatkan dari bosnya.


Satu persatu, mereka pun mulai melaksanakan aksinya. Melihat kedatangan dari beberapa orang pria disana, membuat Vania semakin ketakutan. Mulutnya kini telah ditutup menggunakan lakban hitam, kedua tangan dan kakinya di ikat tali yang cukup kuat. Untuk memudahkan aksinya, kedua mata Vania juga mereka tutup menggunakan selembar kain hitam yang cukup tebal. Dan selanjutnya, mereka menyingkirkan Vania dengan cara mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2