Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 52


__ADS_3

Dengan minimnya cahaya disana, mata Sabian menyipit dan menangkap sesuatu.


" Zea!"


Tubuh wanita itu meringkuk tanpa alas, dengan tangan dan kaki yang terikat. Sungguh sangat miris untuk melihatnya, Sabian meraih dan memeluk tubuh Zea, tangqn itu menelusuri setiap sudut wajah sang istri yang sangat ia rindukan. Namun, semuanya itu berubah. Tatkala tangan Sabian merasakan jika tubuh Zea terasa sangat dingin, wajahnya begitu pucat dan hembusan nafasnya sangat lemah.


" Zea, zea. Buka matamu, Zea! Zea..."


Berusaha untuk terus membuatnya tersadar, disaat Sabian meraih tubuh Zea untuk ia gendong. Tangan itu seketika basah dan berubah warna menjadi merah pekat.


" Da darah! Ti ti dak, Zea. Sadarlah, buka matamu sayang! Zea!" Sabian menguncang tubuh Zea yang sudah semakin dingin, air mata tak tertahankan mengalir dengan begitu deras.


Dengan berlarian, Sabian membawa tubuh Zea dalam pelukannya mencari pertolongan. Mendengar teriakan yang Sabian ucapkan, membuat semua orang yang mendengarkan segera mendekatinya.


" Tolong! Tolong Zea!" Teriak Sabian.


Ammar dan Arvin yang mendapati Sabian seperti itu, dengan cepat Ammar mengambil alih tubun Zea dan membaringkannya untuk segera memberikan pertolongan pertama. Terlihat dari wajahnya, Sabian sangat mengkhawatirkan Zea.


Rangkaian pertolongan pertama Ammar berikan, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil. Keadaan Zea masih belum ada reaksi, tidak ada respon yang diberikan oleh tubuj wanita tersebut. Melihat cairan berwarnah merah pekat itu terus mengalir, Ammar mengambil keputusan untuk segera membawa Zea kerumah sakit.

__ADS_1


" Kita harus segera kerumah sakit, keadaannya sudah sangat kritis. Cepat!" Kalimat tegas itu Ammar berikan, mengerahkan semua orang yang berada disana untuk membantu mereka membawa Zea.


Kenzie yang mengetahui kondisi tersebut, ia pun segera memberikan perintah kepada bawahannya untuk melindungi dan mengawal Zea. Karena saat itu, masih ada beberapa orang dari musuh mereka yang menyerangnya.


" Apa yang terjadi Mar?" Sabian bertanya untul keadaan Zea yang membuat seorang Ammar menjadi panik.


" Denyut nadi dan jantungnya melemah, pendarahannya juga tidak berhenti. Ini bisa membuat istrimu mati, cepat. Kita tidak punya waktu yang banyak!"


Mendengar penjelasan Ammar tersebut membuat tubuh Sabian seperti tak bernyawa, apalagi keadaan nyawa kedua orang yang ia sayangi sedang terancam. Pengawalan yang diberikan, membuat evakuasi berjalan dengan aman. Mereka pun dengan kecepatan yang luar biasa, membawa Zea menuju rumah sakit.


Osmond yang kala itu sedang menghakimi Mateo, mendengar suara sang adik disebut. Membuat dirinya mengalihkan pikirannya, dan disusul dengan kehadiran Hanafi yang memberitahukan tentang Zea.


"Tuan! Nona Zea sudah ditemukan, cepat!" Dengan tergesa-gesa, Hanafi memberitahukan keadaan Zea.


" Kalian menemukannya. Aku pastikan, jika wanita itu sudah tidak bernafas! Hahaha."


Mateo dengan sangat percaya dirinya mengatakan jika Zea sudah mati, ia berkeyakinan dengan cairan yang telah mereka berikan untuk membunuh wanita yang begitu sangat dicintai oleh rivalnya.


" Apa maksudmu?!" Osmond menaikkan satu alisnya, menatap Mateo agar dia menjelaskan maksud dari perkataannya.

__ADS_1


" Kau sungguh bodoh, Osmond. Cairan itu pasti sudah bereaksi, wanita dan anak didalam kandungannya past sudah tidak benyawa. Kali ini, kau akan hancur Osmond! Seperti dulu, kau sudah menghancurkan keluargaku! "


" Kau!!" Osmond menampakkan kemarahan diwajahnya, tanpa menunggu dan berpikir lagi.


Srash!


Bugh!


Sebuah senjata tajam yang terkenal dengan sebutan Shotel, ia adalah pedang yang jadi senjata paling berbahaya sepanjang masa. Penampilan fisik pedang menghasilkan kurva seperti struktur membentuk bentuk berliuk-liuk, telah memisahkan kepala tersebut dari tempatnya. Dengan begitu geramnya, Osmond menendang kepala itu bagaikan sebuah bola yang hendak dimasukan kedalam gawang.


" Bereskan! "


" Baik tuan." Hanafi menundukkan sebagian tubuhnya untuk menghormati Osmond.


Berlarian seperti sedang bermain petak umpet, Osmond segera menuju kendaraannya yang telah dipersiapkan oleh Kenzie. Sebagian lagi dari anak buah mereka, sedang menghabisi sisa-sisa komplotan musuh yang masih ada.


" Bagaimana keadaann Zea?" Dalam mobil tersebut, Osmond menanyakan hal tersebut kepada Kenzie.


" Nona Zea sangat kritis dan mengalami pendarahan yang cukup serius, tuan Sabian menemukannya dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri."

__ADS_1


" Bre****ek!!" Sungguh kalutnya kondisi Osmond saat itu, mendengar keadaan sang adik yang begitu mengkhawatirkan.


Zea, bertahanlah! Jangan tinggalkan aku lagi Zea, kumohon bertahanlah. Sabian.


__ADS_2