Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 80


__ADS_3

Dua bulan kini telah berlalu, perjalanan kehidupan rumah tangga Zea dan Sabian semakin harmonis.


" Bee, bawa apa?" Zea melihat kantong kresek yang berada ditangan suaminya.


" Oh ini sayang, rujak. Kamu mau? Enak lo, tadi di kantor habis dua bungkus." Sabian masuk ke dapur dan mengambil piring, lalu ia menuangkan isi bungkusan yang ia bawa.


Rujak? Bee tumben sekali, biasanya paling anti sama makanan yang pedes sama asam. Lah ini, habis dua bungkus dikantor. Di rumah bawa satu bungkus lagi, makannya nggak ada nawarin. Aneh, kayak orang ngidam. Zea.


Melihat Sabian makan dengan lahap rujak yang ia bawa, Zea malah meringis melihatnya.


" Sayang, kamu kenapa?" melihat Istrinya menatap dengan tatapan heran, membuat Sabian menghentikan kegiatan makannya.


" Tidak apa-apa Bee, jangan terlalu banyak makan pedas dan asam. Tidak baik untuk perutmu."


" Tenang sayang, suami kamu ini adalah orang yang kuat. " Senyum lebar Sabian persembahkan kepada Zea.


Tidak ingin berdebat, Zea memilih masuk kedalam kamarnya untuk menyiapkan pakain ganti buat suaminya. Sabian yang masuk setelah menghabiskan rujak bawaannya, dengan keringat memenuhi wajahnya dan wajah sedikit memerah.


" Mandi saja dulu Bee, setelah itu beristirahatlah."


" Iya sayang, sini dong. Kangen." Sikap Sabian yang manja, semakin membuat Zea kebingungan.

__ADS_1


Karena rasa kantuk yang sudah sangat berat, Zea akhirnya membiarkan sikap Sabian terhadap dirinya. Hingga keesokan harinya, disaat Zea membuka matanya. Meraba tempat tidur disampingnya yang terasa kosong, perlahan ia membuka matanya. Terlihat suasana kamarnya yang sunyi.


" Huek huek, huek."


Terdengar suara seperti orang yang sedang muntah, dari arah kamar mandi. Suara itu semakin kuat dan terdengar sangat memilukan, Zea segera beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.


" Bee, kamu didalam?" Zea memanggil Sabian, karena pintu kamar mandi yang terkunci.


" Huek huek!"


" Bee."


Klek!


Pintu itu akhirnya terbuka, memperlihatkan wajah pucat pada orang yang baru saja memperlihatkan wajahnya.


" Bee! Kamu tidak apa-apa?" Zea semakin panik, saat mendapati suaminya dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.


" Ti tidak apa-apa sayang, hanya sedikit mual. Hu huek! " Sabian kembali memasuki kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Membantu Sabian untuk mengeluarkan apa yang didalam perutnya, Zea dengan sabar menghadapinya. Setelah selesai, mereka berdua berjalan menuju tempat tidur. Merebahkan tubuh suaminya yang begitu sangat lemas, Zea meninggalkannya sebentar untuk mengambil air hangat. Setibanya kembali kedalam kamar, Zea langsung memberikan air hangat tersebut kepada Sabian.

__ADS_1


" Bee, sepertinya kamu kebanyakan makan rujak kamarin. Perut kamu nggak kuat menerimanya dalam jumlah yang banyak, jadinya kayak gini. Apa, sebaiknya kita ke dokter saja."


" Tidak usah sayang, istirahat sebentar juga akan sembuh sendiri. Tapi kamu temenin ya jangan jauh-jauh." Sabian mulai melingkarkan tangannya pada perut dan pinggang Zea.


Tidak hanya memeluk, Sabian mengeliat dan menciumi bagian perut Zea. Hal itu membuat Zea merasa geli dan tidak nyaman, perasaan Zea pun tidak dapat dipungkiri memikirkan keadaan suaminya yang semakin aneh.


Dengan kuat, Zea melepaskan tangan suaminya yang masih nyaman melingkar di perutnya.


" Ada apa sayang?" Sabian kaget dengan sikap Zea yang tidak seperti biasanya.


" Perutku tidak nyaman Bee, lebih baik kita ke dokter saja ya. Aku akan meminta Kak Kevin mengantarkan kita."


" Tidak usah sayang."


Seakan telah kalah telak, Sabian tidak bisa menahan Zea untuk melakukan hal tersebut. Sebelum ia melanjutkan acara berbaring di tempat tidur, perutnya kembali bergejolak dengan sangat kuat.


" Huek! Huek!"


💐💐💐


Outhor mohon maaf atas keterlambatan updatenya untuk semua, beberapa hari ini outhor sedang tidak badan. Alhamdulillah, saat ini sudan bisa melanjutkan ceritanya. Jangan lupa untuk tetap suport outhor ya, terima kasih😊.

__ADS_1


__ADS_2