
Menekan beberapa tombol yang ada, hingga terbukalah pintu sebuah apartemen mewah tersebut. Ya! Sabian mendatangi Vania, mendapati jika kekasihnya itu mengetahui pernikahannya yang terkesan mendadak. Hal tersebut memicu pertengkaran diantara mereka.
" Honey." Mata itu menatap tajam seorang wanita, yang sedang duduk dengan tangan yang bersedekap didepannya.
Muka yang cemberut, begitu memperlihatkan jika wanita tersebut sedang menahan amarah yang sudah siap meledak. Sabian menghampirinya dan memeluknya dari arah samping, namun langsung saja mendapatkan penolakan yang begitu kasar.
" Dasar pembohong!! Pergi sana!!" Vania mendorong tubuh Sabian dengan begitu kuat.
Tubuh Sabian terdorong kebelakang, hal itu membuatnya sangat kaget.
" Ada apa denganmu, honey?"
" Kenapa kau malah menikahi wanita lain, hah?! Kamu berjanji akan menikahiku, pembohong! Kamu pembohong!" Memukuli dada Sabian dengan kedua tangannya, membuat Vania sangat merasa sedih.
" Tunggu dulu honey, aku menikahinya karena terpaksa." Menjelaskan semua dari awal, sampai akhirnya ia terjebak dalam sebuah pernikahan.
" Jika kamu benar-benar sayang dan cinta sama aku, nikahi aku juga. Kau bisa merahasiakan status pernikahan itu berarti kau juga bisa melakukannya untukku." Vania mulai merengek kepada Sabian.
Tubuhnya mendadak menjadi kaku, tanpa sadar. Sabian melepaskan genggaman tangannya dari Vania, ada sesuatu perasaan yang aneh dari dalam dirinya. Disaat Vania mengatakan untuk menikahi dirinya dan merahasiakan hal tersebut seperti yang ia lakukkan juga untuk Zea, ada perasaan tidak rela jika itu terjadi.
" Tuh kan! Kau benar-benar tidak mencintaiku (hiks, hiks, hiks), pembohong, dasar pembohong." Vania menatap Sabian dengan penuh amarah. Ia berlari menuju dapur dan terjadilah sesuatu yang tidak di inginkan.
__ADS_1
" Aakh!!" Suara jeritan Vania begitu keras, hingga membuyarkan pikiran Sabian saat itu.
Segera tersadar dan berlari menuju arah suara tersebut, betapa kagetnya Sabian melihat Vania sudah memegangi tangannya yang berdarah. Dengan sangat panik, Sabian langsung meraih tubuh Vania dan mengendongnya untuk memberikan pertolongan pertama untuk lukanya.
" Jangan bertindak bodoh seperti ini, Vania! Kau bisa mati." Dengan begitu tegang, Sabian mengobati luka dipergelangan tangan Vania dengan cekatan.
" Biarkan aku mati, biar kamu puas membohongiku!" Vania terus memberontak, ia mengetahui jika Sabian tidak akan sanggup untuk melepasnya.
" Tidak, aku tidak akan melepaskanmu honey." Kedua telapak tangan itu memegang erat wajah wanita yang ia cintai, dan memandanginya dengan begitu tajam.
" Untuk apa kau melakukamnya, hah. Selama kita perpacara, kau sama sekali tidak pernah menciumku ataupun lebih dari itu. Tapi mengapa kau berani melakukannya kepada wanita sialan itu, aku adalah pacarmu tapi tidak pernah kau perlakukan aku seperti selayaknya."
" Nikahi aku, dan kita bisa merahasiakannya seperti kamu merahasiakan pernikahanmu sebelumnya. Atau, kau akan melihatku mati." Dengan penuh penekanan, Vania berusaha merasuki pikiran Sabian agar menyetujuinya.
" Seperti yang aku katakan, rahasiakan semuanya seperti kamu merahasiakan pernikahanmu sebelumnya. Jika tidak, kau akan melihatku mati!" Ancaman yang terus Vania berikan, membuat Sabian goyah.
Apa yang harus aku lakukan, aku mencintai Vania. Tapi aku juga tidak ingin kedua orangtuaku mengetahuinya, apalagi sekarang wanita itu telah menjadi istriku. Sabian.
Sabian terus berfikir dengan keras, atas ucapan yang telah Vania berikan kepadanya. Setelah membutuhkan waktu yang cukup untuk merenungkannya, Sabian menggambil keputusan yang sangat diluar dugaan. Tanpa bertanya ataupun berdiskusi terlebih dahulu kepada orang kepercayaannya.
" Baiklah honey, kita akan menikah seperti yang kau sarankan. "
__ADS_1
" Benarkah! Benarkah itu love? Aah, aku mencintaimu sayang!" Vania langsung memeluk Sabian dengan begitu eratnya, dan Sabian juga melakukan hal yang sama.
Heh, akhirnya! Kau masuk dalam perangkapku, Sabian. Dasar pria bodoh, sangat bodoh. Mudah sekali terperdaya oleh yang namanya cinta, hahaha. Vania.
......................
Sebagai asisten pribadi yang sangat dipecaya, Arvin juga merupakan sahabat Sabian sejak mereka duduk di bangku sekolah menenggah atas. Sifat, karakter dan juga kepribadian yang Sabian miliki, sangatlah ia ketahui dan pahami.
" Apa kau sudah gila, hah! Menikahi wanita itu dan juga akan menikahi Vania?" Melalui ponsel genggamnya, kabar yang ia terima sungguh sangat mengagetkan dirinya.
" Benar Vin, kau aturlah semuanya agar bisa hari ini juga."
" Tunggu, apa kedua orangtumu mengetahuinya?"
" Tidak! Rahasiakan semuanya, akan aku jelaskan semuanya nanti padamu."
" Baiklah, aku harap kau tidak akan masuk kedalam kandang serigala yang tamak." Arvin memutuskan pembicaraannya dengan Sabian.
" Anak itu, selalu saja mencari masalah. Kasihan sekali yang menjadi istrinya, tapi siapa wanita itu?" Arvin yang begitu penasaran akan wajah dari istri sah Sabian, membangkitkan jiwa detektifnya kembali.
Dengan begitu beratnya, Arvin melaksanakan perintan dari atasan sekaligus sahabatnya sendiri. Menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan dan menjaga kerahasiannya, membuat otak Arvin seakan-akan ingin meledak.
__ADS_1
Kau benar-benar gila, Sabian. Bagaimana jika om dan tante mengetahuinya, benar-benar cinta sudah membutakan mata dan hatimu. Arvin.