
Flashback On
Berbagai informasi yang diberikan oleh orang suruhannya mengenai Vania, Sabian kali ini benar-benar sudah tidak dapat menahan amarahnya.
Didalam kamar tersebut, ia melihat Vania yang sedang bersiap-siap dengan dandanannya. Tanpa membuang waktu, untuk membicarakan permasalahan yang ada.
" Mau kemana lagi? Tidak bisakah kau berdiam diri dirumah, satu hari saja!"
" Heh! Waktuku tidak akan terbuang sia-sia dengan hanya berdiam diri dirumah, aku bukanlah tipe wanita rumahan dan kampungan seperti istri sahmu itu." Masih sibuk dengan polesan make-up pada wajahnya, Vania menanggapi perkataan Sabian.
" Cukup Vania! Tidak perlu membawa orang lain dalam permasalahan kita!" Dengan nada perkataan yang begitu tinggi, kesabaran Sabian begitu di uji denga sikap Vania.
" Wow, kau sudah bisa membentakku Sabian! Jangan-jangan, kau sudah mulai jatuh cinta dengan Zea, katakan!"
" Kau! Jangan mengalihkan pembicaraan."
" Apa kau bilang, hah! Mengalihkan pembicaraan? Dengar sabian! Kau sendiri yang tidak menginginkn wanita itu, dan kau juga sangat tidak menyukainya. Sikapmu ini benar-benar sudah menunjukkannya."
" Cukup!! Jika kau tidak bisa menjadi istri yang baik, lebih baik kita berpisah!"
Mendapati perkataan Sabian yang ingin berpisah darinya, Vania begitu kaget.
" Coba saja jika kau berani untuk berpisah denganku!"
Sabian berlalu saja meninggalkan Vania, yang masih menatapnya dengan sangat tajam.
Flashback off
......................
" Aku akan bercerai dari Vania."
__ADS_1
" Bercerai?!!"
" Iya, benar. Selama ini, aku telah dibohongin oleh ulahnya. Aku benar-benar bodoh."
" Baru sadar ya, eh... Ma maaf." Karena begitu geramnya, Zea sampai kelepasan bicara.
" Hei!! Jadi, kamu juga ikut ngatain aku ya. Aku ini suami kamu, Zea. Sudah berani ya!"
" Aaa... Am ampun tuan, hen tikan!"
Merasa tersindir, Sabian langsung menggelitik tubuh Zea dengan begitu cepat. Membuat Zea yang tak tahan, memilih untuk berlari kesana kemari demi menghindarinya.
" Masih berani ngatain aku bodoh ya, ini hukumannya."
Zea masih terus menghindari Sabian dengan berlari, namun pada akhirnya ia bisa tertangkap dan mereka pun sampai terguling-giling disana.
" Akh!" Tiba-tiba Zea meringgis, perutnya terasa sakit dan kram. Tangannya memegang perutnya dengan begitu kuat, dan hal tersebut membuat Sabian seketika menjadi panik.
" Aa tidak apa-apa tuan, hanya sesikit sakit. Mungkin efek belum sarapan." Sedikit berbohong, agar kehamilannya tidak diketahui.
" Benar kamu tidak apa-apa?!"
" Benar tuan, ini tidak apa-apa."
Dengan cepat, Sabian mengendong tubuh Zea dan meletakkannya pada kursi sofa yang ada disana.
Meninggalkan Zea sendiri dan ia segera berlarian menuju ruangannya kembali dan membawakan air dan beberapa makanan ringan untuk Zea. Perlahan meminumnya dan menerima pemberian itu, membuat perasaan Zea menjadi begitu tersentuh dengan perhatian yang Sabian berikan padanya.
Jangan cepat percaya dengan apa yang dia berikan padamu, Zea. Perubahan sikapnya itu perlu kau waspadai, jangan terperdaya lagi padanya. Zea.
__ADS_1
" Terima kasih."
" Maukah kamu memaafkanku, Zea? Berikan aku kesempatan untuk kedua kalinya, agar bisa memperbaiki semuanya ini. Aku mohon, berikan aku kesempatan."
" Maaf, aku tidak bisa percaya begitu saja dengan semuanya ini. Aku sangat bersyukur, karena kamu mulai membuka hatimu untukku. Tapi, ada hati lainnya yang akan tersakiti oleh semua ini. Dan aku tidak bisa melakukannya, Vania dan anda sangat saling mencintai. Walaupun saat ini, kalian sedang ada masalah. Selesaikanlah secara baik-baik."
" Aku tau, ini pasti sangat sulit untukmu mempercayaiku. Semuanya itu akan aku buktikan, jika aku benar-benar menyukaimu. Dan rasa cinta itu akan segera hadir, untuk masalah Vania. Ah! Semua kebusukannya, perlahan akan terlihat dan kamu akan melihatnya."
"Ta tapi..."
" Percayalah, aku mohon. Percaya padaku untuk membuktikan semuanya."
Memberanikan diri untuk melihat wajahnya, terlihat tidak ada kebohongan disana.
" Baiklah, aku akan memberikan anda kesempatan untuk semuanya itu. Tapi, bisakah anda menjaga jarak diantara kita. Baik itu saat dikantor dan juga rumah, sampai semuanya itu terselesaikan?" Dengan menghembuskan nafasnya dengan kasar, Zea mencoba berdamai dengan hatinya untuk memberikan kesempatan pada Sabian.
" Terima kasih sayang." Wajah yang begitu bahagia, tersirat padanya.
Cup!!
" Hai!"
Mendapatkan kecupan secara mendadak dari Sabian pada pipinya, membuat Zea begitu kaget dan sontak saja berteriak.
" Hahaha, kenapa? Kan sah-sah saja, suami mencium istrinya. Habisnya, kamu sangat menggemaskan, sayang."
" Kan sudah dibilangin, kalau dikantor itu harus jaga jarak. Dasar pria mesum!" Wajah Zea bertekuk, menampakkan jika dirinya saat itu sedang marah.
" Tapikan aku tidak berjanji, sayang."
" Sabian!!!"
__ADS_1
" Hahaha."