
" Sial! "
Arvin dan Ammar yang mengikuti Sabian, melihat sahabatnya itu sangat uring-uringan. Arvin dan Ammar mengambil salah satu lembaran dari berkas yang ada disana, membacanya dengan sangat serius dan betapa terkejutnya mereka. Disaat mendapatkan fakta, jika aset-aset berharga milik Sabian telah berpindah tangan atas nama Vania.
" Gila! Melarat lu sekarang." Dengan entengnya mulut Ammar bergumam, ia pun tidak menyangka jika wanita itu begitu berani.
Sabian tentu tidak bisa mengontrol emosi yang sedang memenuhi dirinya, dengan sangat brutalnya. Ia mengacak-acak ruangan tersebut, hingga kedua sahabatnya itu hanya bisa menjaga dirinya agar tidak terluka. Setelah puas dengan melampiaskan emosinya, dengan nafas yang terenggah-anggah. Tubuh itu mendarat begitu mulus dilantai, bagaikan karung beras yang dijatuhkan kebawah.
Buggh...
" Berani-beraninya wanita sialan itu menipuku! Akh!" Kepalan tangan besar itu meninju angin, sebagai luapan emosinya.
Dengan keadaan sahabatnya seperti itu, Ammar ikut duduk berdampingan bersama Sabian, sedangkan Arvin masih membaca berkas-berkastl tersebut. Pada saat itu, pandangan mereka sama-sama menatap lurus kedepan dan kosong.
" Tidak perlu kau sesali lagi, ini sudah terjadi boy. "
" Bodoh, aku begitu bodoh! Zea sekarang berada dimana pun, aku tidak mengetahuinya." Menekuk lutut yang dijadikan sebagai tumpuan untuk kepalanya, Sabian merasakan jika dirinya sudah tidak ada apa-apanya lagi.
" Hayolah boy, enggak ada gunanya lu kayak gini. Mau diancurin semua juga, nggak akan ada perubahannya. Terkecuali kalau lu menyusun rencana yang topcer, gimana caranya semuanya balik lagi. Termasuk istri lu, itupun kalau lu masih setia. Atau lu mau balikan lagi sama tu wanita bunglon, seperti Arvin bilang. "
Bugh
Hantaman keras dari kepalan tangan Sabian mengenai rahang Ammar, hal itu membuat sang dokter sangat terkejut dengan perlakuan dari sahabatnya.
" Woi, kenapa lu tonjok gue! Sial, mana sakit banget lagi." Tangan Ammar mengelus-elus rahangnya yang begitu gilu.
" Jangan pernah menyentuh istri gue, paham!" Dengan sangat marahnya, Sabian memberikan hadiah kepada Ammar.
" Heh, istri. Kemane aje lu dari kemaren-kemaren, orangnya udah hilang baru diakui. "
__ADS_1
" Bisa diam nggak si conggor lu, lama-lama gue jahit juga tu mulut."
Mendengar perdebatan diantara diantara kedua sabahatnya, Arvin perlahan mendekati mereka berdua.
" Sudah puas lu berantem? Seperti orang pacaran yang sedang ribut, dasar gila."
" Eits, mulut lu Vin. Jahanam!" Keluh Ammar.
" Nih." Arvin menyerahkan berkas-berkas yang telah ia susun rapi kepada Sabian, dan itu membuat Sabian menjadi kaget dan bingung.
" Mereka meninggalkan celah untuk kita."
" Maksudnya? " Ammar dan Sabian menjawab bersamaan.
Dengan menggunakan tangannya, Arvin menunjukkan beberapa kejanggalan dalam berkas tersebut. Mengikuti petunjuk yang ada, mereka pun merasa sangat tidak yakin. Namun hal itu kembali Arvin jelaskan, hingga akhirnya kedua sahabatnya tersebut dan terutama untuk Sabian. Mengetahui apa yang dimaksudkan oleh Avirn, mereka sangat tercengang dengan keahlian Arvin.
" Wow, otaklu encer juga Vin. Tapi sayangnya, gesrek! Hahaha."
" Menurut pendapat kalian, bagaimana?" Sabian meminta pendapat dari kedua sahabatnya, untuk menghadapi permasalahan yang sedang ia alami.
Dengan penuh pencitraan, Arvin dan Ammar bergaya seperti orang yang sedang berfikir sangat serius. Mengalahkan seorang ilmuan yang sedang bereksperimen dan menantikan hasilnya, wajah mereka berdua sangat-sangat menyakinkan.
" Bagaimana?" Kembali Sabian bertanya kepada mereka berdua.
Hening, mereka berdua hanya memberikan kode menggunakan tangannya agar Sabian bersabar. Namun hal itu sangat tidak pasti, yang akhirnya membuat Sabian menjadi kesal.
" Kalian masih hidup atau pingsan, hah? Atau sudah tidak bernafas? Dasar manusia tidak berguna."
" Lu, lu bilang apa tadi. Tidak berguna? Gue dokter boy, banyak orang yang sudah gua sembuhin." Ammar dengan sombongnya menonjolkan kelebihannya.
__ADS_1
Merasa tidak terima dengan ucapan Sabian, Ammar dengan tegas membantah hal tersebut. Sedangkan Arvin, dia hanya menyaksikan pertengkaran diantara dua manusia yang menganggap dirinya sangat cerdas.
" Terus, dari tadi gue nanya pendapat kalian berdua. Gayanya luar biasa, tapi hasilnya nol. Benarkan?"
" Iya deh gue nyerah kalah masalah perusahaan kayak gini, tu... Orang kepercayaan lu tanyain. Otaknya cemerlang kalau masalah kayak gini." Ammar memilih untuk merebahkan tubuhnya pada kursi sofa yang ada.
" Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja. Kita ikut saja dulu permainan yang mereka buat, lu juga nggak melarat banget. Bokap nyokap lu ada."
" Ikuti permainan mereka? Gara-gara saran lu, gue sama Zea jadi kayak gini. Saran yang tidak berbobot, bukannya meringankan tapi malah menyesatkan."
" Heh, menyesatkan? Dasar otak lu saja yang sudah dibutakan oleh si bunglon, seandaninya saja lu saat itu nggak terbawa emosi, kecelakan itu tidak mungkin terjadi."
Mereka bertiga saling beradu argumen satu sama lain, tidak ingin direndahkan dan tidak ingin disalahkan. Begitulah persahabatan diantara mereka, penuh dengan suka duka dan lawakan, tapi sayangnya kebanyakan lawakannya.
......................
Kini, Zea sudah merasa begitu bahagia. Bisa bersama dan berkumpul kembali dengan keluarganya, namun tidak bisa untuk menyalahkan takdir yang ada. Ada sisi ruang yang kosong didalam hatinya, yaitu keberadaan suaminya.
" Morgan, dimana kak Osmond?"
" Tuan sedang ada pekerjaan diluar kota, nona."
" Hem, baiklah. Apa aku bisa pergi ke supermarket sebentar, ada kebutuhan wanita yang harus aku beli?"
" Sebentar nona." Morgan segera menghubungi tuannya dan memberitahukan keinginan dari nona mereka.
Menunggu untuk beberapa saat, yang akhirnya pembicaraan diantara bawahan dan tuannya telah selesai.
" Bagaimana Morgan?" Tanya Zea yang ingin mengetahui keputusan yang ada.
__ADS_1
" Anda diperbolehkan oleh tuan, nona. Dengan syarat, pengawalan kita dan Lisa akan ikut bersama nona." Jelaa Morgan.
" Huh, kakak selalu saja begini. Baiklah."