
Jam istirahat tiba, Zea kembali membuka bekal yang telah disiapkan oleh Maryam seperti biasanya. Tapi kali ini, Zea menikmati makanan tersebut bersama dengan begitu tenang. Pertemuan mendadak yang diajukan oleh salah satu klien perusahaan, membuat Sabian mau tidak mau harus menemuinya.
" Akhirnya, nak. Tumbuh berkembang dengan baik di dalam sana, bunda akan berusaha yang terbaik untukmu." Setelah makanannya habis, Zea dengan perlahan mengelus perutnya yang masih rata dan mengajak calon bayinya berbicara.
Menyimpan kembali tempat bekal tersebut, Zea berjalan menuju pintu keluar. Ia akan mengambil berkaa laporan yang sebelumnya telah direvisi dari berbagai devisi, berkas tersebut berada diruangan Arvin.
Saat tiba diruangan tersebut, ia bergegas mengambil berkas yang dimaksud. Lalu menutup pintu ruangan dan kembali keruangan, Sabian melarang Zea untuk berinteraksi dengan karyawan lainnya. Dengan alasan, jika tugasnya hanya untuk membantu pekerjaan bosnya dan tidak ada yang lainnya.
" Hufh! Ternyata, menjadi sekretaris khusus ini cukup menguras tenaga dibandingan dengan kerja yang dulu." Menaruh berkas tersebut diatas mejanya, Zea bermaksud untuk mengambil air minum pada pantry diruangan tersebut.
Pada saat ia membalikkan tubuhnya dari pantry tersebut, tiba-tiba saja ia mendengar suara telfon diatas meja Sabian berbunyi. Ada rasa engan untuknya menerima panggilan tersebut, namun rasa takutnya jika itu merupakan telfon penting teramat besar.
" Selamat siang, dengan p...."
" Hallo sayang! Jangan lupa untuk makan siangnya, setelah urusannya selesai. Aku akan segera kembali ke kantor, jangan merindukanku."
" Hah?!"
" Hahaha, jangan berlebihan seperti itu. Aku tau kamu begitu merindukanku, sampai jumpa nanti sayang. Bye."
Sang penelfon tersebut adalah Sabian, membuat Zea tak habis pikir dengan kelakuannya. Perubahan sikap yang Sabian tunjukan, membuat Zea menjadi bertanya-tanya. Masih ada keraguan di dalam hatinya untuk menerima kehadiran Sabian seutuhnya, walaupun kini ia sedang mengandung buah cinta mereka berdua.
__ADS_1
......................
Dilain tempat, di salah satu restoran ternama. Sabian dan Arvin sedang menemui seorang klien yang tiba-tiba saja memutuskan untuk mempercepat kerjasama diantara perusahaan mereka. Setelah mencapai kata sepakat, kedua belah pihak menandatangani berkas-berkas yang ada.
" Langsung balik ke kantor." Ujar Sabian kepada Arvin yang sedang merapikan berkas-berkasnya.
" Iya. Baru tau kan rasanya jatuh cinta pada orang yang tepat. Bunglon dipercaya!" Kata penuh sindiran yang Arvin berikan kepada Sabian.
" Makanya, cari itu perempuan. Biar tu mulut stop bicara untuk menjelekkanku, dasar sekretaris karatan." Sabian meninggalkan Arvin yang masih sibuk.
" E eh, main tinggal saja tu orang. Bukannya berterima kasih."
" Apa!! Dasar bos s**tan!! " Arvin pun membalas teriakan Sabian yang menyuruhnya menggunakan taksi untuk balik ke kantor.
Namun hal itu menjadi percuma dan sia-sia, karena Sabian telah menghilang dengan laju mobilnya. Dengan mendengus kesal, Arvin kembali untuk duduk pada tempat tersebut. Menyandarkan bahunya untuk menarik nafas, memejamkan matanya sejenak. Amarahnya saat itu begitu memuncak, apalagi dengan kekonyolan Sabian yang baru menemukan cinta sebenarnya.
" Jika saja dia itu orang lain, sudah lama akan aku awetkan untuk menjadi pajangan." Ketika hendak mengambil ponsel dalam saku jasnya, ekor mata Arvin mendapati seorang wanita yang begitu sangat ia kenal. Vania!
Perlahan-lahan Arvin mengatur nafasnya untuk teratur, membawa berkas-berkas yang telah ia rapikan. Lalu ia beranjak dari sana dan sedikit berjalan menuju salah satu meja pegunjung disana, tanpa kata dan suara. Ia hanya berdiri, tepat didepan dihadapan orangnya. Menatapnya dengan begitu tajam, hingga akhirnya Vania menyadari kehadiran Arvin disana.
" A Ar vin!!" Muka panik yang diperlihatkan oleh Vania pada saat itu, setelah melihat Arvin.
__ADS_1
Vania yang saat itu sedang bersama seorang pria, mereka beradengan sangat mesranya. Bagaikan dua sejoli yang sedang dimabuk cinta, tidak memandang tempat. Membuat sakit mata pada orang lain yang melihatnya, beberapa waktu berlalu. Arvin dengan diamnya beranjak pergi dari sana, pria yang sedang bersama Vania saat itu menjadi menaikan salah satu alisnya.
" Ada apa? Siapa pria ini?" David Maxlian, pria yang saat itu sedang bersama Vania.
" A a tidak ada apa-apa, aku tidak mengenalnya. Mungkin saja dia mengira kita adalah orang yang dia kenal, tidak usah diperdulikan." Membela dirinya, Vania menutupi kebohongannya.
Puas membuat Vania kalang kabut, Arvin meninggalkan restoran tersebut. Masih dalam diamnya, membuat orang lain yang melihatnya begitu dingin.
Sial! Kenapa sekretaris itu ada disini? Membuat moodku rusak saja, akh! vania.
" Siapa dia? Kau tau bukan, aku tidak suka dengan kebohongan." Jari-jari tangan kanan David memain-mainkan ujung rambut Vania.
" Dia sekretaris pria sialan itu! Argh! Sepertinya, dia harus aku singkirkan." Dengan ucapan yang penuh tekanan, Vania berniat untuk mencelakai Arvin. Agar kebohongannya tidak diketahui oleh Sabian.
" Itu yang terbaik, aku mendukungmu. Apa perlu aku turun tangan?"
" Tidak usah! Biar aku sendiri yang menanganinya."
" Oke!"
Sejauh mana kau bisa bermain, Vania. Bahkan untuk karirmu saja begitu bobrok, bisa apa kau, hah. Dasae wanita tidak tau diri, setelah kau menghancurkan Sabian. Maka, kau juga akan kubuat hancur! David.
__ADS_1