
Tak tak tak...
Langkah kaki terdengar mendekati mereka berdua, orang itu ikut menyaksikan kedua pria tersebut berkelahi dan bertengkar.
" Sudah puas bertengkar ni ceritanya." Dengan tangan yang terlipat dibagian dada, Ammar dengan tenangnya mengejek kedua sahabatnya. Dengan nafas mereka yang masih ngos-ngossan, Ammar tersenyum seperti orang tidak waras.
Klek!
" Kalian sedang apa?" Reza yang tiba-tiba saja keluar dari ruang perawatan, melihat keadaan Sabian dan Arvin yang membuatnya terkejut.
" Nggak apa-apa om, mereka baru saja selesai olahraga kecil." Menyenggir bagai kuda, Ammar senang sekali mengejek keduanya.
" Hem, Bian. Gunakan perusahan papa, papa ingin beristirahat dan fokus menjaga mama. Sudah waktunya, kau mempimpin dan menjalankannya. Dan, buktikan ucapan yang sudah kau katakan pada papa tadi. Kali ini, jangan kecewakan kami lagi." Setelah mengatakan perihal itu, Reza kembali masuk kedalam kamar perawatan sang istri.
Sabian menjadi terperanggah dengan ucapan yang baru saja papanya katakan, seperti tidak percaya jika semuanya itu harus ia kendalikan.
" Nggak jadi melarat dong lu, ah nggak keren. Masa' langsung jadi kaya mendadak."
Plak!
" Mulutlu emang bener-bener perlu dipermak, Mar. Dokter Kurang segaris." Arvin memukul kepala Ammar menggunakan tangannya.
" Busset, yang dibicarain saja nggak komen. Lah elu, sewot amat."
" Kalian mau kan bantuin gue?" Disela-sela kegaduhan Ammar dan Arvin, ucapan Sabian membuat mereka berdua kaget.
" Maksud lu, bantuin apa? " Ammar yang begitu penasaran dengan perkataan Sabian, membuat salah satu alisnya menjadi naik keatas.
" Bantuin gue ngembaliin apa yang sudah diambil oleh Vania, dan..."
" Dan apa?" Arvin mengulang perkataan Sabian sebelumnya.
" Bantu gue untuk membawa Zea kembali."
Ketiga sahabat itu pun pada akhirnya menyepakati apa yang sudah menjadi rencana mereka sebelumnya, Reza yang masih berada dibalik pintu kamar sembari mendengar setiap percakapan dari ketiganya. Hanya senyuman yang terukir dari sudut bibirnya, berharap sang putra bisa mewujudkan apa yang telah ia katakan sebelumnya.
__ADS_1
......................
Keseharian yang Zea lalui, hanyalah berdiam diri didalam rumah sang kakak. Ingin sekali ia menikmanti kehidupannya yang terdahulu, bebas untuk pergi kemana pun yang ia inginkan.
" Kak."
" Hem, ada apa? Bagaimana keadaanmu hari ini, jika ada sesuatu yang kamu inginkan. Katakan saja." Osmond yang sedang sibuk melihat beberpa pekerjaan pada ponsel genggamnya, hanya berbicara namun tidak menatap sang adik.
" Aku baik-baik saja. Bolehkah aku pergi sebentar berjalan-jalan ke taman kota?"
" Tidak! Berapa kali kakak harus bilang, Zea. Jangan pernah membantah larangan kakak, cukup berdiam diri dirumah." Nada bicara Osmond meninggi, terdengar seperti bentakan dikarenakan suasana hatinya yang sedang dalam keadaan tidak baik.
" Hem, baiklah." Zea berlalu dari hadapan Osmond, ia tidak ingin membuat sang kakak menjadi semakin marah.
Dengan ucapan yang begitu tinggi, membuat Zea merasa ketakutan. Ia menyembunyikan hal tersebut, karena tidak ingin terlihay lemah dihadapan Osmond. Setibanya ia didalam kamar, tubuh itu langsung bersandar dibalik pintu kamarnya. Tanggis yang ia tahan, kini pecah dan membuatnya terisak-isak.
Mendapati Zea yang sudah hilang dari pandangannya, Osmond menyadari jika dirinya sudah terlalu keras dengan berbagai aturan dan penjagaan yang ia lakukan untuk Zea. Hal itu terpaksa harus ia lakukan, karena keselamatan Zea sedang terancam.
Ddddrttt..
" Hem..." Osmond menjawab panggilan telfon pada ponselnya.
" ..."
Sang penelfon memberikan laporan, jika perusahan mereka mengalami ledakan dari orang tidak dikenal. Dan yang membuat kemarahan Osmond semakin besar, salah satu markas miliknya juda diledakkan. Banyak sekali korban jiwa yang di akibatkan oleh kejadian tersebut, dan hal ini membuat dirinya tidak bisa menahan kemarahan tersebut.
" Kalian siapkan semuanya! Lakukan penyelidikan dan bawa semuanya ke markas besar!" Melalui ponselnya, Osmond memberikan perintah dengan kemarahannya.
Menyiapkan diri untuk segera menjalankan aksinya, Osmond segera berjalan memasuki ruang rahasia miliknya. Tanpa memperhatikan hal yang lain, ia meninggalkan rumah dengan sangat terburu-buru.
Seluruh pasukan yang berada dalam naungan pimpinannya, bergerak menuju tempat kejadian dan mulai menyelusuri setiap jejak yang ada. Melihat bangunan yang masih dipenuhi dengan asap tebal, Osmond mendekatinya tanpa adanya rasa takut sedikit pun.
Raut muka yang begitu tegang dan mata elang itu menatap tajam ke setiap sudut bangunan, mendapati suatu gerakan yang mencurigakan.
" Tutup akses!!" Dengan teriakan, Osmond berjalan sangat cepat untuk mendekati salah satu sudut ruangan.
__ADS_1
Mendengar perintah bos mereka, seluruh akses untuk masuk dan keluar dari area dimana mereka berada ditutup, serta mereka kepung dengan seluruh pasukan. Pergerakan beberapa orang yang mencurigakan tersebut, dengan sangat mudah mereka lumpuhkan.
" Siapa kalian?" Dengan halus, Osmond bertanya kepada beberala orang yang tertangkap.
Tidak ada jawaban dari mereka, hanya tertunduk dan mata menatap lantai. Kondisi mereka pun bisa terbilang mengenaskan, sebelum dihadapkan kepada bosnya.
Crash!
Osmond memainkan senjata yang berada pada tangannya, memberikan hukuman kepada para penyelinap.
Salah satu lidah orang tersebut tergeletak begitu saja di lantai, mendapati rekannya bernasib tragis. Mereka segera menggigit bibir bagian atas dengan sangat kuat, nampak cairan berwarna biru yang keluar dan segera menelannya. Dalam hitungan detik, nyawa mereka lenyap begitu saja.
" Hah! Apa ini! Cepat kalian selidiki!"
Semua pasukan bergerak untuk menyelidiki kejanggalan yang terjadi, namun disaat Osmond akan meninggalkan tempat tersebut.
Dor!
Dor!
" Sialan!!" Salah seorang dari penyusup tersebut belum tewas, ia telah merampas senjata api dari bawahan yang sedang lengah.
Tembakan itu mengenai punggung kanan Osmond, dengan penuh amarah. Osmond menghujamkan senjata tajam yang ia miliki kepada penyusup tersebut secara membabi buta, hingga akhirnya ia tergeletak tak berdaya.
"Tuan, punggung anda." teriak pengawal.
" Kalian bereskan mereka."
" Baik tuan."
Dalam tarikan nafas terakhirnya, penyusup itu berkata.
" Kami tewas, adikmu juga akan tewas." kalimat terbata-bata yang pada akhirnya berujung tewas.
" Zea!"
__ADS_1