
" Berhenti! Kalian berdua, duduk!" Suara Reza terdengar sangat tegas, membuat kedua pria yang dimaksud menjadi menurut.
" Rasain, siapa suruh jadi anak bandel." Vita tersenyum sinis kepada kedua pria yang baru saja mendapat bentakan.
Sabian dan Arvin duduk dengan keterpaksaan, baru kali ini mereka tidak menolak atas apa yang diperintahkan oleh Reza, dan biasa mereka selalu mempunyai seribu macam alasan untuk tidak menjalankannya.
" Kalian tahu, kesalahan apa yang telah kalian lakukan?!" Ucapan itu terdengar begitu sangat tegas.
Walaupun Sabian menuruti apa yang telah dikatakan oleh Reza sebelumnya, tapi untuk sikapnya ia tetap todak berubah sama sekali.
" Kalau papa nggak bilang, kita tidak akan pernah tahu." Jawabnya dengan menyilangkan kaki kanannya pada kaki kiri.
Mampus! Ni anak masih bisa bercanda, bapaknya sudah kayak singa yang kelaparan. Sial bener hidup gue, selalu terjebak dalam situasi dan kondisi yang seperti ini. Arvin.
" Dasar anak tidak tahu diri, sudah cukup papa bersabar selama ini, Sabian! Kurang apa, papa mengajarimu agar tidak bersikap kurang ajar, hah! Bahkan disaat kau sudah bangkrut seperti ini, masih saja kau bersikap angkuh!" Luapan emosi Reza terhadap anak semata wayangnya akhirnya pecah.
" Pa." Vita mencoba menarik tangan Reza, ia khawatir akan situasi tersebut.
" Mama diam! Anak ini sungguh sangat keterlaluan, bagaimana bisa orangtuanya tidak pernah ia hargai. Bahkan demi wanita yang tidak jelas, dia bisa melawan orangtuanya sendiri! Dosa apa aku, sampai mempunyai anak seperti dia!"
" Lihat, kau sudah tidak punya apa-apa lagi. Istri yang sudah dengan sabarnya menerima sikap dan prilakumu saja pergi, apa lagi yang harus kau banggakan. Wanita tidak jelas itu? Heh, kau memang bodoh." Menghembaskan tubuhnya untuk duduk di kursi, kaki ini Reza sangat murka terhadap anaknnya.
" Istri? Yang papa maksud adalah Zea? Kenapa, kaget. Aku sudah mengingat semuanya, bahkan menantu papa dan mama yang selama ini kalian anggap suci. Dia tidak jauh berbeda dengan Vania!"
" Asal papa dan mama tahu, Zea hamil! Dia hamil dan pergi dengan laki-laki lain yang bukan suaminya! Aku memang sudah bangkrut pa, tapi aku akan merebut kembali semuanya itu! " Sabian langsung berjalan, pergi meninggalkan semua orang yang masih merasa kaget dengan apa yang Sabian ucapkan.
__ADS_1
" Ha ha mil? Zea hamil dengan pria lain? Ti tidak, ini tidak benar. Ini tidak benar."
Vita yang shock mendapati berita, bahwa menantu wanitanya telah hamil dengan orang lain. Begitu pun dengan Reza, ia tak kalah kagetnya seperti istrinya. Arvin menghembuskan nafasnya, situasi seperti ini sudah semakin tidak kondusif.
Sepertinya, aku harus mengatakan yang sejujurnya kepada om dan tante. Kasihan Zea yang selalu menjadi korban, Oh Tuhan. Arvin.
" Om, tante. Ada yang sesuatu yang harus saya katakan, ini menyangkut persoalan Zea."
" Katakan, katakan jika apa yang Sabian ucapkan itu tidak benar. Pasti itu tidak benar kan, Vin?" Dengan terisak-isak, Vita merasa tidak siap untuk menerima kenyataan.
Reza hanya bisa menenangkan istrinya, bicara pun ia takkan akan sanggup dalam situasi tersebut. Bahkan keberadaan sang menantunya pun, mereka tidak mengetahuinya.
" Zea memang sedang hamil."
" Apa?!!" Vita dan Reza semakin terpuruk.
Kedua pasang suami istri itu semakin bingung dengan penjelasan yang Arvin katakan.
" Jelaskan semuanya, om tidak mau kau menceritakan yang tidak penting."
" Baiklah om, ada baiknya bik Maryam juga bisa memberikan penjelasan pada kalian."
Arvin memerintahkan Titik untuk membawa Maryam, untuk bisa bersama mereka. Denagn berjalan tergopoh-gopoh, Maryam segera menghadap majikan besarnya.
" Tuan, nyonya."
__ADS_1
" Bik, om dan tante ingin mendengar penjelasan tentang kehamilan Zea. Bibik tidak usah takut, sudah saatnya kita menceritakannya."
Arvin menyakinkan Maryam untuk memberikan penjelasan kepada tuannya. Terlihat jika Maryam ragu untuk mengatakannya, karena ia sebelumnya sudah berjanji kepada Zea.
" A anu tu an, nyo nya. Nona Zea memang sedang mengandung."
" Jelaskan Maryam!" Vita sudah tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan.
" I iya nyonya. Nona Zea ..."
Akhirnya Maryam menceritakan semuanya, dari awal mulanya Zea hadir di rumah tersebut sampai akhirnya ia pergi. Vita dan Reza begitu sangat tidak percaya, bagaimana bisa anaknya memperlakukan istrinya dengan begitu buruk. Bahkan sampai menikah sirih tanpa sepengetahuan mereka sebagai orangtua, seketika saja dada kiri Vita merasakan rasa sakit yang begitu kuat.
" Pa pa, dada ma ma sa kit!" Tangan Vita mencengkram bagian tubuhnya yang terasa sakit.
" Mama! Ada apa ma" Reza panik melihat istrinya yang menahan rasa sakit.
" Tante!"
" Nyonya!"
" Vin, kerumah sakit! Cepat!"
" Baik om." Arvin segera berlari menuju keluar, dan menyiapkan kendaraan yang akan mereka gunakan.
Dengan segera, Reza mengendong tubuh istinya yang sudah tidak sadarkan diri dan merebahkan dirinya pada kursi penumpang, Arvin segera menekan gas mobil dan menuju rumah sakit.
__ADS_1
" Nyonya, maafkan saya. Semoga nyonya tidak apa-apa Ya Tuhan, nona Zea maaf." Maryam meneteskan airmata.
......................