
" Dokter kandungan?"
Jawab Zea dan Sabian secara bersamaan, lalu mereka berdua beradu pandangan satu sama lainnya. Tanpa ragu, Sabian menggenggam tangan Zea dan membawanya menuju bagian spesialis kandungan dengan perlahan.
" Bee." Nampak keraguan dari ucapan yang baru saja ia lontarkan.
" Ada apa sayang?"
" Bee, aku takut. Aku takut itu hanya perkiraan saja, nanti kamu malah kecewa." Mata Zea mulai mengembun dan mengeluarkan air mata.
Bukannya marah, Sabian malah tersenyum dengan begitu lebarnya. Ia meraih tubuh istrinya dan membawanya kedalam pelukannya, mengelus rambut kepalanya dengan begitu lembut.
" Aku tidak akan pernah kecewa sayang, jika ia belum hadir. Kita akan mencobanya lagi, jangan bersedih, itu akan membuatku semakin merasa bersalah atas dirimu dan juga calon bayi kita. Percayakan semuanya sama Tuhan, kita hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Biarkan untuk hasilnya, Tuhan yang menentukannya."
Mendengar perkataan Sabian, memberikan ketenangan didalam hati Zea. Mereka melanjutkan langkah kakinya menuju tempat yang sebelumnya disarankan oleh Ammar, mempersilahkan Zea untuk duduk. Sabian mendaftar dan mengambil nomor untuk anteran dalam pemeriksaan. Kedua tangan mereka masih saling menyatu dan keromantisan itu membuat para pasien lainnya menjadi iri.
" Lihat, suaminya ganteng dan istrinya cantik sekali. Semoga saja, anak kita nanti akan ganteng dan cantik seperti mereka ya Pa."
__ADS_1
" Pasangan yang serasi, duh seandainya suamiku ini bisa romantis seperti itu."
Sabian dan Zea hanya bisa tersenyum dengan setiap ucapan yang mereka dengar dari mulut sesama pasien yang menunggu, kini giliran mereka yang dipanggil untuk masuk. Dengan perlahan, Zea mengikuti langkah kaki Sabian yang sudah terlebih dahulu berjalan didepannya. Sabian terlihat begiti sangat antusias dengan ucapan yang Ammar berikan, apakah itu benar ataupun hanya menduga.
" Selamat datang, silahkan duduk." Seorang dokter wanita menyambut hangat kehadiran mereka.
" Dengan tuan Sabian dan nyonya Zea?"
" Iya dokter."
" Ada keluhan yang bisa dibantu?"
" Begini dokter, teman saya mengatakan kalau saya ini menderita sindrom simpatik. Karena gejala yang saya miliki, dia juga menyarankan untuk mengajak istri saya diperiksa pada dokter kandungan..." Sabian menjelaskan secara terperinci dan lengkap, mengenai apa yang ia alami.
Dokter pun menganalisa setiap ucapan yang Sabian sampaikan padanya, senyuman pun terlihat diwajah sang dokter. Mempersilahkan Zea untuk tiduran di atas tempat tidur, dengan bantuan salah satu perawat yang ada. Dokter tersebut meminta Zea untuk membuka pakaiannya sedikit dan di lapisi dengan selimut tipis untuk menutuli bagian yang terbuka. Lalu mengoleskan gel pada perut bagian bawahnya, mengarahkan alat ditangannya kepada perut Zea.
" Tuan, nyonya. Anda bisa melihat monitor disana, apa anda bisa melihatnya?" Tanya dokter untuk memastikan jika mereka menyaksikannya.
__ADS_1
" Iya dok."
Jawab mereka bersamaan, karena pengalaman sebagai pasangan suami istri masih minim. Apalagi masalah kandungan, Sabian masih buta, namun Zea sedikit mengerti. Ia kembali mengenang masa lalu, dimana ia juga pernah mengandung, Zea menutup mulutnya dengam telapak tangan. Embun pada matanya tak tertahankan lagi, untuk mengeluarkan air.
" Sayang, kenapa menanggis? Sakit?" Sabian menjadi panik, saat melihat reaksi Zea.
Tanpa menjawab, Zea hanya lebih menguatkan genggaman tangannya pada tangan Sabian.
" Sepertinya, istri anda sedang terharu tuan. Baiklah, saya akan menjelaskan mengenai yang terlihat pada layar monitor. Disana, terlihat seperti ada lingkaran kecil. Dan ini adalah embrio, yang nantinya akan berkembang dan mengalami perubahan menjadi bayi. Jadi, sudah dapat dipastikan. Jika istri anda sedang mengandung tuan, untuk usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke sepuluh. Selamat ya."
Print out hasil USG telah didapatkan, Sabian masih terdiam setelah mendegarkan penjelasan sang dokter. Setelah ia sadar, pelukan erat ia berikan kepada Zea. Menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi pada puncak kepala dan keningnnya, hingga Zea merasa malu.
" Bee stop, malu!"
" Tidak apa-apa nyonya, hal ini biasa terjadi dikarenakan mendapat kabar bahagia."
" Iya dok."
__ADS_1
Disaat Zea dan Sabian diminta kembali duduk di kursi, dokter menjelaskan beberapa nasihat mengenai anjuran yang diperbolehkan dan juga tidak. Karena rasa bahagia itu sendiri, Sabian tidak mendengarkan lagi apa yang dokter katakan. Hingga pada saat mereka pulang, Sabian masih seperti anak kecil yang tertawa sendiri, manja dan juga pamer kepada seluruh keluarga mengenai kehamilan Zea.