
Flashback On
Selama masa pengobatan, sampai detik ini. Zea masih enggan untuk membuka matanya, segala upaya telah dilakukan oleh pihak medis untuk mengupayakan kesadarannya.
" Zea, bangunlah. Sampai kapan kau harus seperti ini, apa kau tidak kasihan pada kakak. Kita baru saja berkumpul lagi, jangan tinggalkan kakak."
Sekejam-kejamnya seorang leader dari dunia bawah, ia akan tetap terlihat rapuh disaat orang yang begitu ia sayangi dalam keadaan hidup dan mati. Baru kali ini, Kenzie dan Hanafi melihat kerapuhan dari tuannya, biasanya hanya akan ada bentakan dan juga teriakan dalam memberikan perintah. Namun tidak kali ini, ia terlihat seperti seorang anak kecil yang merindukan sosok seorang yang begitu ia cintai.
" Coba lihat, bos sepertinya beda sekali hari ini." Hanafi berbisik disamping telinga Kenzie.
" Benar, sudah satu bulan nona Zea tertidur. Keadaannya pun belum ada perkembangannya, wajar saja jika tuan Osmond menjadi seperti itu."
Seandainya saja, dirimu mau mengikuti atas apa yang dokter sarankan tuan. Pasti nona akan meresponnya, semoga saja perubahan itu segera membuat dirinya yang keras kepala menjadi lebih lebih penyabar. Kenzie.
Tiba-tiba saja alat monitor jantung berbunyi dengan sangat keras, garisnya pun bergerak naik turun tak beraturan. Membuat panik semua orang, Osmond yang begitu kaget pun langsung mendekati Zea.
__ADS_1
" Zea! Zea kamu kenapa? Zea bangun Zea!"
Hanafi menekan tombol darurat yang ada, begitu pula dengan Kenzie. Ia dengan cepat keluar ruangan untuk memanggil dokter, para medis pun berlarian menuju ruang perawatan.
Flashback Off
Menerobos masuk ke dalam ruangan dengan nafas yang terputus-putus, Sabian sangat terkejut dan shock mendapatkan tubuh istrinya sedang mendapat penanganan yang cukup serius dari dokter. Air mata mengalir dengan cukup banyak dari matanya, mencoba melangkahkan kakinya yang terasa sangat berat dan sempat terhenti.
" Keluar kau!!" Teriakan Osmond memecahkan suasana.
Tanpa sepatah katapun, Sabian tetap melangkahkan kakinya. Tarikan yang cukup kuat pada lengannya, hampir membuat dirinya terhuyung mundur ke belakang.
Mendengar teriakan keras itu, membuat kinerja para dokter dan perawat menjadi terganggu. Hanafi menghampiri bosnya yang sedang dalam keadaan sangat emosional, namun sikapnya mendapatkan penolakan bahkan hantaman kepalan tangan yang cukup lumayan membuat rasa sakit.
" Jangan coba untuk menghalangiku!"
__ADS_1
Sakit cuy, gila. Tu pukulan tangan apa pukul besi, sakitnya sampai ke ubun-ubun. Hanafi.
Pihak dokter maupun perawat jadi ikutan melerai perkelahian yang terjadi, membuat pekerjaan mereka menjadi bertambah.
" Zea, bangun! Jangan pura-pura lagi, Zea! Buka matamu sekarang!" Tiba-tiba saja Sabian berteriak ketika sudah berhadapan dengan Zea.
" Kau!! Sudah kubilang jangan mendekatinya!!"
Kepalan tangan Sabian mengeras, tubuh itu berputar dari tempatnya semula. Dengan penuh keberanian, ia menghampiri orang yang sudah memisahkan dirinya dengan istrinya sendiri.
" Jangan sampai aku membalas semua perlakuanmu ini, Osmond! Jangan pernah memisahkan aku dengan istriku lagi, dia sudah menjadi hakku."
" Sampai kapanpun, aku tidak akan membiarkan Zea hidup bersama dengan orang yang bre***ek seperti kau!"
Kegaduhan semakin menjadi, tim medis semakin serba salah dalam situasi seperti ini. Beruntung mereka telah menstabilkan kondisi pasien, jika tidak. Maka habislah mereka saat itu juga, terkena amukan dari seorang Osmond.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan Osmond yang selalu menghalanginya untuk mendekati Zea, dibantu oleh Kenzie dan Hanafi yang menahan bos mereka. Akhirnya, Sabian bisa menatap wajah wanita yang selama ini sudah sangat ia rindukan.
" Zea, ini aku. Buka matamu Zea, aku mohon. Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya, kita akan memulainya kembali dari awal. Maafkan aku Zea, aku mohon bangunlah." Menggenggam tangan putih pucat itu dengan lembut, tanggis Sabian pun pada akhirnya pecah.