
Flashback On
Pagi hari yang cerah, Zea yang sedang berada di dapur untuk membantu Lisa untuk menyiapkan sarapan. Mendadak berhenti dari kegiatannya, Johnson meminta Zea untuk segera menemani tuan mereka yang sudah berada diruang makan.
" Nona Zea, tuan Osmond meminta anda untuk segera bergabung bersamanya."
" Paman, sebentar lagi ya. Ini hanya tinggal menyusun dipiring saja." Tangan Zea dengan begitu cekatan menaruh satu persatu kue yang ia buat bersama Lisa di atas piring.
Setelah selesai, Zea membawanya untuk dihidangkan di atas meja makan dan tentunya ia sudah memisahkan bagian lainnya. Agar penghuni rumah yang lainnya, dapat menikmani kue tersebut.
" Kak, sudah siap kekantor?" Meletakkan kue yang ia bawa diatas meja, lalu Zea duduk berdekatan dengan Osmond.
" Hem, jangan terlalu banyak bergerak. Keponakan kakak juga harus beristirahat, nanti kamu ikut dengan Maron."
" Maron? Memangnya mau kemana?" Zea dengan rasa penasarannya.
" Pilihlah salah satu mobil yang nanti mereka tunjukkan, untuk kau gunakan jika ingin kemana-mana." Osmond berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang sedang ia gunakan.
" Mobil? Tapi aku tidak membutuhkannya kak, tidak baik jika menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak terlalu penting."
" Pilih saja yang mereka tunjukkan kepadamu, jika kamu tidak menyukainya. Biarkan perusahaan mereka hancur dalam hitungan menit."
" Uhuk, uhuk!" Zea menepuk dadanya, agar dapat mengurangi rasa tersedaknya.
" Jangan banyak bicara, jika sedang sarapan. Ikuti saja, jangan menolak. Kakak harus berangkat kekantor, jaga diri dan keponakan kakak baik-baik." Osmond mengusap puncak kepala Zea dengan lembut, senyum kecil terukir pada wajahnya yang selalu dingin.
Zea semakin merasa aneh dengan perlakuan sang kakak, pekerjaannya yang belum diketahui. Membuat dirinya menjadi bingung, rumah mewah, kendaraan yang banyak.
__ADS_1
Pekerjaan kak Osmond ini sebenarnya apa? Sepertinya dia begitu sibuk dan tidak ada waktu untuk beristirahat, bahkan ia selalu sibuk dan keberadaannya di rumah ini sangatlah bisa dihitung jamnya. Tapi, dengan mudahnya ia membeli barang-barang yang begitu mewah. Zea.
Kepergian Osmond telah berlalu, tak lama kemudian orang yang dimaksud untuk menemani Zea telah tiba. Disaat ia sedang menantapi tanaman bunga yang terletak pada halaman samping.
" Nona Zea."
" Ah, iya saya." Zea kaget dengan sapaan tersebut.
" Perkenalkan saya Maron, apakah nona sudah siap?" Tanyanya dengan hormat.
" Hem, baiklah. Bisa tunggu sebentar, aku mau ambil tas dulu dikamar."
" Baik nona."
Zea bersegera berjalan menuju kamarnya, dan ia pun mengikuti langkah Maron yang membawanya menuju suatu tempat. Ketika tiba ditempat tersebut, mata Zea tak henti-hentinya memandangi mobil-mobil yang berada disana. Ia tak habis pikir, karena harus memilih salah satu diantara mobil tersebut. Ketika ia mendapatkan salah satu mobil yang menarik perhatiannya, namun disaat itu ada orang yang memperhatikannya.
Flashback off
" Kak Arvin."
Mereka berdua sama-sama kaget, melihat nonanya sedang berbincang dengan seseorang. Maron begitu sigap mendekatinya, dan Zea menyadari hal itu.
" Maron, ini kak Arvin. Dia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri." Dengan penjelasan dari Zea, Maron menarik mundur dirinya. Namun, tidak melepas pengawasannya terhadap Zea.
" Kemana saja? Kenapa rumah itu kosong?" Arvin langsung menanyakan tentang apa yang ia rasakan.
" Em maaf, sebenarnya kak, klien kalian yang bernama Osmond. Dia adalah kakak kandungku, yang selama ini memang sedang mencari keberadaanku."
__ADS_1
" What? Ah, sudah kuduga. Nama kalian terdengar begitu mirip, hanya saja si s***tan tidak menyadarinya. Syukurlah kalau begitu, kakak jadi tenang. Yang tadi itu siapa? Ngapain disini?"
" Dia adalah Maron. Orang yang menemaniku untuk melihat-lihat pameran disini, hem apa kabar dengan bos kakak?" Tidak bisa membohingi diri, jika Zea juga memikirkan keadaan suaminya.
" Lihatlah." Arvin mengarahkan jemarinya untuk menunjukkan keberadaan seseorang yang Zea tanyakan.
Dengan rasa tidak percaya, sebelumnya Zea sudah melihat pria yang berstatus sebagai suaminya itu sedang memandangi dirinya. Namun ia alihkan saat Arvin menegurnya, ada rasa cemas dan ingin kabur dari sana, akan tetapi semuanya akan percuma saja. Dengan keadaan sedang mengandung, dan amnesia yang diderita oleh Sabian. Zea memantapkan dirinya untuk tidak beranjak dari tempatnya.
" Sepertinya dia baik-baik saja kak, dilain waktu akan aku hubungi kakak kembali. Terima kasih atas bantuannya selama ini kak, jangan lupa jaga kesehatan."
Setelah berbicara kepada Arvin, Zea pun beranjak pergi dari hadapan mereka. Ia tidak ingin memperkeruh suasana yang ada, apalagi suaminya itu tidak mengingat sedikitpun tentang dirinya. Arvin memahami kondisi yang Zea alami, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan seperti ini.
Pukh!
" Akh! Kau mengangetkanku saja." Pundak Arvin yang saat itu mendapatkan sapaan dari tangan Sabian.
" Adikmu?" Dengan mengangkat satu alisnya ke atas, Sabian meminta penjelasan dari sekretarisnya itu.
" Huh, nambahin pekerjaan saja. Baiklah, akan aku jelaskan..."
Arvin menceritakan awal mulanya ia menganggap Zea sebagai adiknya, sampai akhirnya mereka menjadi dekat satu sama lain dan tak lebih dari seorang kakak dan adik.
" Tapi, ..." Sabian memejamkan matanya, dahinya ikut mengkerut.
Ia sedang berusaha untuk menenangkan pikirannya, dimana bayangan Zea selalu terlintas dalam ingatannya. Akan tetapi, jati diri Zea tidak ia ketahui.
" Akh!" Gelas dari tangan Sabian terjatuh kelantai, hingga pecah.
__ADS_1
" Sabian!" Arvin menangkap tubuh bosnya itu yang hampir terjatuh. Lalu ia membawanya untuk segera pulang.
Semoga saja ingatanmu segera pulih, kasihan Zea dan anak kalian. Arvin.