
Lima panggilan tak terjawab dari Zea? Tumben. Sabian.
" Kenapa?" Tanya Kevin, melihat Sabian seperti sedang kebingungan.
" Ssttthh!" Sabian langsung menelfon Zea kembali.
" Hallo sayang, kangen ya? Tadi sedang rapat bulanan dengan karyawaan, ponsel aku tinggalkan di laci meja." Menjelaskan semuanya kepada sang istri, agar tidak ada kecurigaan diantara mereka.
" Pulanglah, ada kejutan untukmu bee. Kami tunggu dirumah ya." Zea memutuskan perbincangan mereka.
Tanpa menunggu lama, Sabian bergegas berjalan menuju pintu keluar.
" Eh eh, tunggu. Mau kemana?"
" Pulang! Menemui istri tercinta."
" Bucin, bucin, bucin."
" Hahaha, makanya segeralah untuk membuka hatimu untuk wanita Vin. Bye!"
" Dasar bos se***an, giliran susah. Gue jadi tumbalnya, tapi sekarang disaat sudah senang. Gue masih tetap jadi tumbalnya, arkh!" Mengusap wajahnya dengan kasar, Kevin harus menyelesaikan sisa pekerjaan yang ada.
...----------------...
__ADS_1
Mobil yang Sabian kendarai, kini telah sampai dirumah orangtuanya. Dengan cepat, ia melangkahkan kakinya memasuki rumah tersebut.
" Sayang, sayang!" Teriak Sabian mencari keberadaan sang istri.
Dengan sedikit berlari, Zea muncul dari arah dapur. Ia pun tersenyum melihat suaminya dengan keadaan sedikit berantakan.
" Bee."
" Sayang! Dari mana? Kamu nggak apa-apa kan?" Sabian dengan tingkat kecemasannya.
" Iya bee, dari dapur kok. Ambil makanan untuk mama, sudah lihat kesana?"
Betapa bahagianya Sabian, melihat wanita yang menjadi cinta pertamanya telah sadar. Zea mendekatnya tubuh suaminya itu untuk meluapkan kerinduan yang ada diantara mereka. Memberikan ruang dan waktu bagi Sabian, menebus rasa bersalahnya kepada Vita.
" Tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali sesuatu hal yang baik." Zea tersenyum menatap kedua ibu dan anak yang sedang bercengkrama.
Memilih untuk menghirup udara segar dihalaman taman belakang rumah, sambil melihat beberapa tanaman hias disana sembari menunggu suaminya.
Ddrrttt...
Ddrrttt...
__ADS_1
" Hallo kak." Zea menerima panggilan pada ponselnya.
" Zea! Kamu harus bertanggung jawab! Bilang sama perempuan bar-bar itu, jangan menemui kakak lagi. Bikin heboh saja!" Terdengar suara Osmond dari seberang sana sedang berteriak.
" Telingaku sakit jika kakak berteriak seperti itu, memangnya ada apa? Perempuan barbar? Siapa?" Zea tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya.
" Pokoknya, kakak tidak mau tau, kamu urus perempuan itu." Sambungan telfon terputus.
Perempuan bar-bar? Apa yang dimaksud kak Osmond itu Clara. Ngatain orang semaunya saja, nanti jatuh cinta baru tau rasa! Zea.
Lalu Zea menghubungi Clara, dimana disaat bertemu dahulu. Mereka berdua sempat untuk bertukaran no ponsel, ternyata tidak sia-sia semuanya itu. Dan mereka berjanji akan bertemu nanti malam, tepatnya Zea mengundangnya.
" Sedang menelfon siapa, sayang?" Sabian tiba dan langsung memeluk Zea dari belakang.
" Bee, aku punya rencana deh! Sini, aku bisikin."
Sabian menuruti apa yang dikatakan oleh Zea, mendengar cerita itu. Sabian menggerutkan keningnya, tak lama kemudia. Senyuman itu tercipta, memeluk erat Zea dan menghujamkannya kecupan bertubi-tubi pada wajahnya.
" Bee, hentikan! Geli." Akibat dari ulah Sabian, membuat Zea tak bisa menahan rasa gelinya. Karena wajahnya ditumbuhi oleh rambut-rambut halus, bergesekan pada wajah Zea yang halus.
" Biarin, biar kamu lebih akrab dengan wajah suamimu yang tampan ini." Sabian semakin membuat Zea tertawa.
Tak sengaja, Reza yang saat itu membawa Vita untuk keluar dari kamarnya dengan menggunakan kursi roda. Melihat momen dimana anak dan menantunya sedang tertawa lepas, menambah kebahagian yang kini sedang mereka rasakan. Vita mengajak suaminya untuk berputar arah, agar tidak mengganggu kebahagian yang sedang terjadi.
__ADS_1