
Hari-hari pun berlalu, sikap Sabian semakin menunjukkan kedekatan bersama Zea. Hingga berita itu sampai pada telingga Reza dan Vita, pada awalanya mereka sempat bingung dengan kejadian tersebut. Dimana Zea yang bekerja, apalagi dengan posisi sebagai sekretaris khusus.
" Pa, mama nggak habis pikir dengan jalan pikiran Sabian. Zea kok dizinin kerja, dasar anak itu."
" Ambil nilai positifnya saja ma, dengan begitu. Mereka akan sering bertemu dan berbicara, bukankah itu hal yang baik."
" Benar juga sih, semoga saja pa."
Mereka tidak mau terlalu ikut campur dalam hubungan rumah tangga anaknya, walaupun sebenarnya mereka tetap mengikuti setiap perkembangan yang ada, tak terkecuali pernikahannya dengan Vania.
Karena hari ini merupakan penghujung minggu, tidak ada pekerjaan kantor. Kini Zea memilih untuk berjalan-jalan disekitar perkarangan rumah, memandangi setiap keindahan yang ada. Setelah selesai dengan kegiatannya, Zea kembali memasuki kamarnya untuk bersih-bersih dan membantu pekerjaan yang ada.
" Bu, apa ada yang bisa dibantu?" Melihat Maryam yang sedang menyiapkan sarapan untuk penghuni rumah tersebut.
" Eh non Zea, semuanya sudah selesai. Tinggal menatanya saja di meja, non mau sarapan, biar bibik siapkan."
" Tidak usah bu, rasanya belum lapar. Nanti biar Zea ambil sendiri, bu. Bisa bicara sebentar."
Mendapati Zea yang terlihat seperti sedang risau, Maryam segera menghampirinya.
" Iya non, ada apa?"
Zea menarik tangan Maryam untuk mengikutinya masuk ke dalam kamarnya, yang terletak tidak jauh dari dapur.
" Bu, Zea sudah dua bulan ini tidak datang bulan. Apakah, apakah Zea..."
" Apa non, dua bulan? Apakah non pernah, itu itu lagi sama tuan? Ee, maksud bibik. Apa non pernah campur lagi sama tuan?" Maryam begitu panik setelah mendengar ucapan Zea.
" Tidak bu, setelah kejadian itu tidak pernah lagi."
__ADS_1
Maryam pun larut dalam pemikirannya sendiri, Zea telah menceritakan semuanya kepada dirinya. Dari awal ia bertemu Sabian dan hingga akhirnya menikah, dan akhirnya.
" Apa jangan-jangan non sedang hamil? Apa non mual-mual?"
" Ha ha mil? " Maryam pun menganggukkan kepalanya.
" Bisa saja, saat kejadian itu terjadi. Non Zea dalam keadaan masa subur, untuk memastikannya. Nanti biar bibik belikan alat penguji kehamilan, non jangan panik ya. Istirahat saja dikamar." Dengan segera, Maryam keluar dari kamar Zea, ia pu meminta seorang penjaga untuk menemaninya membeli alat tersebut.
Dengan beralasan sedang tidak enak badan dan kehabisan stok obat-obatan, karena untuk keluar dari rumah tersebut tidak di izinkan sembarangan. Setelah semuanya selesai dan kembali, Maryam bergegas mencari Zea.
" Non."
" Masuk saja bu."
Seperti orang yang sedang mengintai, dengan sangat perlahan ia memasuki kamar Zea dan memberikan alat tersebut untuk segera digunakan. Ada perasaan ragu pada diri Zea, namun Maryam menyakini dirinya untuk hal tersebut.
Beberapa menit berlalu, Zea keluar dari kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia langsung memeluk tubuh Maryam dengan sangat erat.
Mendapati Zea yang menanggis, membuat Maryam sudah mengetahui hasilnya. Ia pun membalas pelukan yang Zea berikan, mengusap kepalanya dengan sangat perlahan.
" Jangan menyalahkan semuanya non, ada kalanya harus berdamai dengan takdir. Semuanya adalah ujian hidup, bibik yakin non Zea pasti bisa melaluinya. Cep cep cep, jangan menanggis. Nanti kasihan sama bayinya non."
Membawa Zea yang masih larut dalam tanggisannya untuk duduk pada pinggiran dari tempat tidur, membuat Maryam semakin terenyuh dengan perjalanan hidup yang harus ia lalui.
" Non harus memberitahukannya pada tuan muda, bagaimana pun itu adalah darah dagingnya." Namun hal itu langsung mendapat penolakan dari Zea.
" Tidak, tidak bu. Jangan beritahukan hal ini pada tuan, Zea takut kehadirannya tidak diinginkan. Tolong bu, biarkan ini menjadi rahasia kita."
" Tapi non, lambat laun nanti perut non semakin membesar dan itu semua tidak bisa lagi untuk dirahasiakan."
__ADS_1
" Untuk saat ini, tolong dirahasiakan bu. Zea tidak ingin anak ini menjadi bahan Vania untuk semakin berbuat jahat pada Zea. Zea mohon bu." Isakan tanggis kembali terdengar.
Begitu teririsnya hati, melihat seseorang yang sudah dianggap sebagai anak sendiri sedang menderita. Akhirnya dengan penuh pertimbagan, Maryam menyetujui keinginan dari Zea untuk merahasiakan kehamilannya.
......................
Kegiatan sehari-hari berjalan kembali seperti rutinitas biasanya, Zea pun sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja. Maryam pun telah menyiapkan beberapa bekal makan untuk Zea, hal itu sudah menjadi kewajibannya untuk memastikan Zea memakannya.
Prang!!
Terdengar suara gaduh dari pecahan sesuatu, mendapati hal demikian. Membuat Maryam dan yang lainnya segera menuju sumber suara, yang ternyata berasal dari ruang makan.
" Selalu saja begini, menghambur-hamburkan uang begitu saja. Pergi entah kemana dengan alasan pekerjaan, aku tidak bodoh Vania!" Sabian dengan suaranya yang penuh dengan amarah.
" Memangnya kenapa? Aku juga sudah seperti ini sebelum kita kenal, kau sendiri yang bilang menerima semuanya. Kenapa sekarang malah dipermasalahkan." Teriakan Vania yang tak kalah kerasnya dengan Sabian.
" Aku sudah menuruti semua keinginanmu, tapi kau! Sebagai istri, apa kau pernah menjalankan tugasmu hah! Bahkan untuk hal kecil pun tidak pernah kau lakukan, apa ini yang harus dikatakan saling memahami!! Jawab!"
Prang!!
Rupanya, Sabianlah yang menghempaskan beberapa perlengkapan makanan ke lantai. Sebagai luapan dari rasa amarahnya saat itu.
" Heh, istri kau bilang? Aku pun tidak sudi menjadi istrimu, jika sifatmu seperti ini. Istri sahmu saja tidak pernah kau anggap, dasar pria aneh."
" Kau!!"
" Apa?!"
Dengan luapan amarah yang begitu besar, manik mata Sabian pun menangkap kejadiran Zea disana. Menatapnya dalam diam, yang akhirnya dimana Sabian memilih untuk pergi. Begitupun Vania, ia juga segera berlalu. Namun sebelum ia pergi, melihat Zea yang berada disana menyaksikan pertengkaran yang terjadi.
__ADS_1
" Kau pasti melihatnya bukan, hanya aku yang bisa menyentuhnya. Jika kau berani mendekatinya, akan kubuat kau menderita bagai dineraka. Jadi, jangan coba untuk bermain-main denganku. "
Menyenggol bahu Zea menggunakan bahunya, Vania pun berlalu dan menghilang. Begitu sakit yang Zea rasakan atas kejadian tersebut dan mencoba untuk menerimanya dengan lapang dada, berharap semuanya akan segera berlalu.