
Flashback on.
Setelah pertemuannya waktu itu gagal, David dan Vania merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Sabian.
" Aku harus membalas perlakuan mereka, berani-beraninya membatalkan perjanjian kerjasama itu. " Oceh David yang merasa terhina dengan sikap Sabian.
" Ada apa honey? kau terlihat sangat jengkel." Vania bergelayut manja seperti biasanya.
" Siapa lagi yang membuatku begini, mantan pacar dan mantan suamimu itu sangat kurang ajar."
" Sepertinya, kita harus membalasnya. Tidak ada salahnya kan memberikan mereka sedikit pelajaran? " Tatap Vania kepada David.
Dengan bertopang dagu, David nampak sedang berpikir dengan sangat keras. Mendengarkan ucapan Vania, tidak ada salahnya jika hal itu di coba.
" Baiklah, kau emmang bisa selalu di andalkan sayang." Seringai David.
Kedua manusia berhati licik itu merencakan sesuatu untuk membalas Sabian, entah apa yang ada di dalam pikiran mereka. Yang selalu merasa tidak puas dengan apa yang telah mereka capai.
Flashback off.
" Kau!!"
" Hallo sayang, sudah lama kita tidak berjumpa. Sepertinya kamu semakin menawan dan berisi, aku sungguh masih sangat tertarik padamu." Vania menghampiri Sabian yang masih berada tak jauh dari pintu masuk.
__ADS_1
" Mari kita mengobrol sebentar, tuan Sabian." Ternyata, disana juga ada David.
Kali ini, Sabian menghadapi kedua manusia serakah itu dengan begitu tenang. Tidak seperti dulu yang menghadapi sesuatu hal selalu gegabah dan tidak pikir panjang, perubahan yang terjadi setelah ia mendapatkan pelajaran hidup yang lebih berarti.
" Silahkan, mau minum apa?" Sabian menawarkan suguhan untuk tamunya.
Mata Kevin terbelalak besar, mendengar dan melihat sikap Sabian yang sungguh tidak biasa. Padahal dirinya sudah bersiap untuk memberikan perlawanan kepada tamunya, rasa kesal dan menahan diri kini yang Kevin rasakan.
" Tidak perlu repot-repot tuan, saya hanya menawarkan kembali kontrak kerjasama diantara perusahaan kita. Hanya saja, anda harus mempertimbangankan ini."
David memberikan Sabian sebuah map sedang, ia meminta untuk segera dibuka saja. Karena tidak mau berlama-lama, sabian membukanya. Cukup lama ia memandangi berkas itu, pada akhirnya hanya gerakan alis mata yang naik dan juga senyuman sinis ia berikan. Membuat orang yang berada di dekatnya menjadi heran dan bertanya-tanya, memang kali ini ekspresi wajah Sabian sulit untuk ditebak.
" Hanya ini?!" Sabian menatap David dan Vania dengan senyuman kecil.
" Ya, aku rasa masih ada banyak bukti lainnya yang bisa kalian gunakan. Dan aku hanya cuma akan menampilkan ini saja, pasti kalian akan menyukainya."
Bagaikan tidak percaya, Vania dan David melihat bukti rekaman dalam ponsel milik Sabian yang memperlihatkan diri mereka berdua yang sedang melakukan aktivitas panasnya dan juga beberapa bukti berkas tentang kejahatan mereka berdua. Hal itu sangat cukup untuk menjebloskan mereka berdua kedalam jeruji besi.
" Kau!!" David berdiri dari duduknya, mengerang dihadapan Sabian yang terlihat begitu tenang.
" Apalagi yang kalian tunggu, pintu keluarnya ada disana." Kevin mengarahkan kepada mereka untuk segera pergi dari ruangan tersebut.
" Awas saja kalian!!" David mengepalkan tangannya dan pergi.
__ADS_1
Hanya tersisa wanita yang dulunya sangat iya cintai, lalu ia menatapnya seakan-akan sudah sangat memuakkan.
" Love, kamu nggak serius kan ngelakuin hal itu? Aku benar-benar masih sangat mencintaimu, David yang sudah memaksaku untuk melakukan semuanya ini. Kamu mau kan balikan lagi sama aku? Aku sangat merindukanmu, Sabian."
Di saat Vania akan bergelayut manja pada lengan Sabian, dengan cepat dan cermat. Kevin sudah terlebih dahulu menarik Sabian untuk bergeser, pada akhirnya hal itu telah membuat Vania jatuh dengan begitu cantiknya.
Bugh!
" Aaaa, sakit!" Ucap Vania disaat sudah mendarat pada lantai.
" Lain kali, cari cara yang lebih licik dan cerdik wanita bunglon! Keluar, aku benar-benar muak melihatmu disini." Begitu tegasnya Kevin berbicara kepada Vania, sudah lama ia menantikan hal ini.
" Awas kalian berdua, aku akan membuat perhitungan!" Vania beranjak pergi.
" Buat saja dan hitung baik-baik, bunglon liar!"
Begitu semangatnya Kevin menghardik seorang wanita yang selama ini sudah sangat ia nantikan, Sabian tersenyum akan peristiwa hari ini.
" Lampiaskan saja semuanya, bila perlu masukan dalam kurungan. Biar jadi peliharaan lu." Menggoda Kevin disaat seperti ini, sangat membuat Sabian bersemangat.
" Amit-amit gue melihara tu bunglon." Kevin bergidik merinding.
Sabian berjalan menuju meja kerjanya, lalu ia mengambil ponsel miliknya yang ia simpan didalam laci mejanya.
__ADS_1
Lima panggilan tak terjawab dari Zea? Tumben. Sabian.