
Menunggu adalah hal sangat membosankan dan juga menegangkan, apalagi menunggu proses kelahiran dari cucu dan juga keponakan pertama di dalam keluarga. Sudah satu jam mereka menunggu di luar ruangan, membuat hati dan perasaan semakin deg-deg kan.
Klek!
Sabian keluar dari ruang tindakan, terlihat jelas di wajahnya yang begitu tampak tegang.
" Bian! Bagaimana keadaan Zea?" Tanya Vita yang sudah tidak sabar mendengar berita baik.
" Adikku, Zea bagaimana?" Osmond yang tidak mau kalah untuk segera menanyakan keadaan sang adik.
Perlahan Sabian melepaskan topi khusus yang ia gunakan selama di dalam ruang operasi, lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup kuat. Membuat orang-orang yang sedang menunggu tersebut semakin cemas, namun hal itu berubah disaat Sabian memberikan senyuman yang begitu melegakan.
" Anak Bian sudah lahir Ma, Pa." Air mata tak terbendung dari pelupuk matanya.
" Benarkah, cucu Mama sudah lahir. Perempuan atau laki-laki?" Tanya Vita yang sangat gembira.
Osmond dan Clara masih menyimak penjelasan dari Sabian, karena perkataannya belum terlalu jelas.
" Laki-laki Ma, Pa. Anak kami sangat tampan." Sabian mendapatkan pelukan dari Reza dan Vita.
Hati Osmond sangat terenyuh dengan ucapan Sabian, kebahagian kini sudah mereka gapai. Roda kehidupan selalu berputar, mengalami perjalanan hidup yang cukup tragis. Kehilangan kedua orangtua dan sang adik, membawanya menjadi seorang pria yang begitu dingin dan terlibat dalam dunia kelam. Kini, pertemuannya dengan wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Perlahan membawa perubahan positif untuk dirinya, bahkan sang adik telah ia temukan dan hidup bahagia.
" Selamat, sekarang kalian sudah menjadi orangtua yang sempurna. " Osmond bersalaman dengam Sabian.
" Terima kasih kakak ipar, sepertinya. Sudah saatnya kalian juga memproduksi Owen junior berikutnya, apalagi yang kau tunggu."
__ADS_1
" Heh, kau kira aku ini lemah. Lihat saja nanti, akan ada banyak Owen junior berikutnya." Osmond tak ingin kalah dari sindiran Sabian kepadanya.
" Buktikan saja, anakku akan menunggu saudaranya itu lahir."
Kedua pria itu asik dalam sial sindir menyindir, seperti biasanya. Mereka tidak akan pernah mau mengalah satu sama lainnya, apalagi jika itu sudah menyangkut masalah pasangam hidup. Melihat keduanya masih asik bertengkar, Clara membawa kedua orangtua Sabian untuk mengikuti brankar rumah sakit berjalan menuju kamar perawatan. Bahkan disaat Istrinya dipindahkan ke ruang perawatan, Sabian tidak menyadarinya. Ketiga orang tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya, pertengkaran itu tidak akan berhenti kalau tidak ada pawangnya.
" Tante, Om. Kita temani Zea saja, kedua orang itu tidak akan pernah selesai untuk saling sindir dan nantinya juga mereka akan berhenti dengan sendirinya." Celoteh Clara kepada Reza dan Vita.
Kedua orang paruh baya itu hanya tersenyum menanggapi perkataan Clara, mereka pun berjalan mengikuti brankar yang berisikan Zea yang masih belum sadar dari efek persalinannya. Kedua pria tersebut baru menyadari, jika hanya ada mereka berdua saja disana. Hal itu membuatnya panik, apalagi disaat Sabian melihat ruangan tersebut telah kosong. Kehebohan pun terjadi, hampir saja kedua melakukan pelampiasan kepada sekitarnya.
" Argh!"
Tiba-tiba saja Osmond berteriak disaat salah satu telingganya terasa tertarik, ingin rasanya ia marah dan membalas orang yang melakukan hal tersebut. Namun disaat ia melihat sang pelakunya, nyalinya langsung menciut.
" Apa?! Sudah berumur masih saja bertengkar seperti anak kecil, ini rumah sakit. Bukan arena bermain!" Clara menegaskan perkataannya.
" Gimana nggak panik, Zea hilang sayang!" Osmond pun mengadu dengan nada penuh kecemasan.
" Benar Clara, Ruangan itu sudah kosong!" Sabian menambahkan kekhawatirannya.
Memutar bola mata dengan sangat malas, Clara menghembuskan nafas dengan kasar. Menatap kedua pria itu secara bergantian dengan tatapan tajam, bahkan mata elang pun akan kalah tajamnya.
" Makanya, ingat-ingat umur dan tempat kalau mau bertengkar. Zea dari tadi sudah dipindahkan ke ruang perawatan, huh! Dasar pria-pria aneh." Gerutu Clara.
Tanpa komando, Sabian dan Osmond berlari meninggalkan Clara. Dengan mulut yang sudah berkomat kamit, Clara merasa sangat geram dengan keduanya yang telah meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
" Awas saja kalian berdua ya!"
Baru saja Clara akan berjalan, keduanya telah kembali menghampiri dirinya dengan nafas yang tak teratur.
" Hosh, hosh. Kamar Zea dimana?" Dengan bersamaan mereka menanyakan perihal tersebut kepada Clara.
Ingin rasanya Clara memukul kepala kedua pria itu, yang sudah benar-benar membuatnya sangat kesal.
" Heh, kalian sangat menyebalkan!" Clara dengan acuhnya berjalan mendahului keduanya.
Mereka pun menuju kamar perawatan Zea, dimana tampak sekali rona kebahagian telah datang kepada mereka.
......................
Hari-hari pun berlalu, kebahagian selalu menghampiri kehidupan setiap insan yang selalu menjaganya. Kebahagian tidak akan pernah datang menghampiri kita, jika kita tidak pandai bersyukur. Jalani kehidupan tanpa berkeluh kesah dan menyerah pada takdir, karen usaha tidak akan pernah menghianati hasil yang akan dicapai.
TAMAT...
💐💐💐
Cerita Air Mata Keikhlasan telah selesai, outhor mohon maaf jika para pembaca tidak puas dengan jalan ceritnya. Outhor ucapkan terima kasih telah mampir untuk membaca, ditunggu jejaknya pada karya outhor yang lainnya.
Dan, jangan lupa mampir pada karya outhor yang berjudul " Mafia Psycopath jatuh cinta".
Terima kasih😊
__ADS_1