
" Akh! Ssstt..."
Disaat sedang asik bercerita, tiba-tiba saja Zea mengerang kesakitan. Tangannya memengang perutnya yang terasa begitu menyakitkan, mendengar teriakan itu. Sabian dengan segera menghampiri Zea.
"Sayang!"
" Aaargh, sa sakit! Perutku sakit Bee!" Erang zea yang menggenggam tangan Sabian dengan begitu kuatnya.
Seperti orang yang kebingungan, Sabian tidak tau harus berbuat apa. Sampai pada akhirnya ada sebuah tangan yang menghampiri kepalanya, dan hal itu membuatnya memberikan tatapan tajam.
Plak!
" Mama!" Begiti kagetnya, mengetahui siapa yang telah berani memukul kepalanya.
" Kamu ini, cepat bawa Zea ke rumah sakit. Dia sudah mengalami kontraksi, Bian! Cucuku akan segera lahir, cepat!"
__ADS_1
Mendapati Mamanya memberikan informasi yang menurutnya tidak benar, Sabian membantah apa yang telah diberitahukan kepadanya.
" Tapi Ma, kata dokternya masih beberapa hari lagi. Mama ada-ada saja, aaaa..."
Mendapati tangan Zea telah mendarat mulus di kepalanya, yang kemudian menimbulkan rasa sakit yang cukup luar biasa.
" Sayang, sakit." Protes Sabian yang mendapati rambutnya ditarik Zea dengan begitu kuat.
" Ini sakit Bee, benar kata mama. Sepertinya akau akan segera melahirkan."
" Aaaaa, i iya Ma. Tapi jangan tarik telinga Bian, malu ih. Ayo sayang, kita kerumah sakit."
Sabian dengan gagahnya mengendong Zea yang sedang dalam keadaan hamil besar, Osmond dan Clara pun menjadi ikut-ikutan panik. Mereka semuanya bergegas membawa Zea, namun tidak dengan Osmond.
" Sweety, kenapa melarangku! Zea mau melahirkan, ayo kita menyusul mereka."
__ADS_1
Memutar bola matanya dengan malas, Clara harus menjelaskan kondisinya kepada pria yang baru saja menjadi suaminya itu.
" Dasar tidak berperasaan, bagaimana bisa aku datang ke rumah salit dengan pakaian seperti ini, Osmond Owen!" Clara menegaskan ucapannya dengan nada bicara yang cukup tinggi.
Pikiran Osmond segera tersadar dari ke egoisannya, yang tidak memikirkan keadaan wanita yang kini sudah berubah statusnya menjadi seorang istri baginya. Melihat pakaian yang sedang digunakan Clara pada saat itu, pikiran Osmond langsung terbayang akan kesusahan istrinya dalam melangkah. Gaun itu menjuntai menyapu lantai dengan panjang ekornya yang bisa menghambat penggunanya untuk berjalan, lalu ia menepuk jidatnya dengan menggunakan telapak tangan.
" Ya ampun, bagaimana aku bisa meleupakan hal ini. Maafkan aku Sweety." Menarik Clara ke dalam pelukannya.
" Suit suit, tolong dong jangan pamer kemesraan disini. Para jomblo merana melihatnya, sungguh aku ingin menjerit." Kenzie yang melihat adegan mesra dari bosnya, segera mengeluarkan ucapan sindirian yang begitu menyentuh hati.
" Jika tidak ingin melihatnya, buang saja kedua bola matamu itu!" Begitu tegasnya Osmond menjawab perkataan sang asistennya.
" Hah? Tidak tuan, saya tidak berani." Nyali Kenzie menciut mendengar perkataan bosnya. Osmond dan Clara berjalan menuju kamarnya untul segera berganti pakaian, para tamu pun perlahan pamit undur diri.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Zea tak henti-hentinya memberikan tanda cintanya pada Sabian. Sampai pada akhirnya, kondisi Sabian terlihat begitu mengenaskan. Melihat istrinya sedang merintih kesakitan, membuat kedua matanya mengembun. Merasakan sesuatu yang telah basah, Sabian melihat pakaian yang digunakan Zea saat itu telah basah dan cairan bening itu terus mengalir dari sela kakinya.
__ADS_1
" Sayang, ini air." Sabian menjadi panik dengan apa yang ia dapati saat itu.