Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 58


__ADS_3

Berusaha terus menerus, untuk memperjuangankan wanita yang kini telah memenuhi ruang dihati dan pikiranya. Sabian melakukan segala macam cara untuk mendapat simpati dan restu dari sang kakak ipar, dimana Osmond masih keras melarang Sabian untuk bisa bertemu dengan Zea.


" Belum ada tanda untuk nona, tuan. Apakah kita harus memindahkannya?" Ujar Kenzie, disaat mereka sedang menemani Zea.


" Kondisinya belum cukup stabil untuk kita pindahkan, itu nanti akan memperburuk keadaannya."


" Permisi, dokter mau memeriksa kondisi pasien." Seorang perawat yang memberitahukan kedatangan dokter dari balik pintu yang terbuka.


Osmond menerima kehadiran dokter dan perawat tersebut, namun disaat pintu akan tertutup. Terlihat seorang pria yang masih dengan setianya menunggu diluar ruangan, dengan keadaan yang sudah tidak terawat. Dia adalah Sabian, ia tetap memperjuangan wanita yang menurutnya adalah istrinya. Tapi hal itu, belum bisa untuk membuka pintu maaf dari sang kakak iparnya.


" Untuk saat ini, kondisi pasien belum banyak mengalami perubahan. Ada baiknya, pihak keluarga memberikan rangsangan melalui orang-orang terdekatnya. Mungkin suami, kakak, anak dan sebagainya." Dokter tersebut memberikan sedikit penjelasan tentang keadaan Zea.


Mendengar ucapan yang dokter berikan, Osmond hanya menanggapinya dengan wajah yang datar, tidak ada ekpresi apapun yang ia tunjukkan. Bahkan para medis pun kebingungan untuk menyikapinya, setelah menyampaikan apa yang dialami oleh pasien. Dokter dan perawat tersebut pergi dari sana, melihat penjagaan dan orang-orang yang berada disana. Membuat mereka menjadi bergidik merinding, berharapa jangan sampai mendapatkan masalah dengan mereka.


Hingga beberapa pekan, kondisi Zea masih belum mengalami perubahan yang cukup banyak. Hanya saja, beberapa alat medis yang berada pada tubuhnya sudah dilepas.

__ADS_1


" Zea, sampai kapan kamu seperti ini? Apa kamu tidak ingin melihat kakak lagi, sudah cukup lama kakak terpisah dari kamu. Jangan sampai hal itu terulang kembali, ayo bangun Zea." Tangan kecil dan pucat itu berada dalam genggaman tangan kekar sang kakak.


Berulang kali dan hampir setiap waktu, Osmond selalu mengajak Zea berbincang. Walaupun yang diajak bicara, masih nyaman dengan mata tertutupnya.


" Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Zea? Apapun yang membuatmu bangun dan kembali sehat, semua akan kakak lakukan. Bangunlah Zea!" Suara Osmond meninggi, rasa sesak didadanya begitu terasa.


Dimana saat Zea menutup matanya untuk beristirahat panjang, maka selama itu juga Sabian selalu berada disisi luar dari ruangan kamar perawatan istrinya. Keinginannya untuk bisa bertemu dan menemani Zea, namun itu semuanya hanyalah angan-angan. Setiap kali ia meminta dan memohon untuk menemui Zea, maka berulang kali juga ia mengalami penolakan dan bahkan kekerasa fisik yang diberikan oleh pengawal yang menjaga. Hal itu dikarenakan, Sabian bersikeras untuk masuk kedalam.


" Tuan, apa tidak sebaiknya anda menyampingkan semua permasalahan yang ada untuk kesembuhan nona Zea." Kenzie berusaha untuk membujuk bosnya yang susah untuk diajak bermusyawarah.


" Tapi tuan, kita belum mencobanya. Mungkin nona a..."


" Cukup!! Keluarlah!" Mata yang tertutup dan telapak tangan mengepal, menandakan jika saat itu Osmond sedang sangat emosi.


" Baik tuan." Kenzie segera keluar dari kamar tersebut, tidak ingin menambah amarah dari bosnya saat itu.

__ADS_1


Setelah Kenzie menghilang, Osmond meluapkan amarahnya dengan cara meninju dinding yang berada disampingnya dengan begitu kuatnya secara berulang-ulang kali. Hingga cairan berwarna merah itu mengalir dari sela-sela jarinya, sungguh miris melihat keadaannya yang tegar diluar namun sangat begitu rapuh.


Saat Kenzie berada diluar, ia menghampiri Sabian yang masih tetap mempertahankan keinginannya untuk menemui Zea.


" Tataplah berusaha sekuat tenagamu, tuan Sabian. Sekeras kerasnya batu karang, lama-lama akan terkikis dengan hempassan dan terjangan ombak yang menerpanya." Lalu Kenzie menepuk bahu Sabian dan pergi begitu saja.


Sabian yang saat itu tidak mengerti maksud dari perkataan Kenzie padanya, hanya bisa menatapnya dalam keheningan.


Apa yang sebenarnya terjadi didalam sana? Kanapa pria itu mengatakan hal seperti itu kepadaku? Ah... Sampai kapan ini semua akan terjadi Tuhan, berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan yang sudah kulakukan sebelumnya, terutama untuk istriku. Sabian.


πŸ’πŸ’πŸ’


Jangan lupa untuk like dan votenya😊 ya. Dengan vote atau hadiah yang kalian berikan, akan menambah semangat outhor untuk memberikan alur cerita yang terbaik. Berikan juga tanggapan kalian dalam bentuk komentar yang terbaik, agar dapat menjadi bahan acuan outhor dalam berkarya.


Terima kasih atas dukungannya πŸ₯°. Tanpa kalian, outhor bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


__ADS_2