
Hanya berdua saja disana, mata Osmond mencuri-curi untuk melirik Clara. Walaupun diluarnya Osmond terkenal sangat dingin dan cuek kepada wanita, hanya Clara yang berhasil membuatnua berbicara panjang lebar dan juga mencuri pandangan.
" Apa lihat-lihat, mau di colok apa tu mata!" Clara membalas tatapan itu dengan lebih tajam.
Ketahuan disaat mencuri pandangan, membuat Osmond menjadi salah tingkah. Dengan sikap dinginnya, ia memutar bila matanya dengan malas.
" Jangan kepedean, siapa juga melihatmu. Ngapain si datang kemari, membuatku repot saja."
" Tolong ya, saya di undang oleh saudari anda yang bernama Zea. Apa hak anda melarang saya untuk datang kemari? Asal nyaplok saja tu mulut." Begitu geramnya Clara menghadapi pria yang begitu angkuh dihadapannya.
Perang argument semakin memanas, hingga tak terasa waktu semakin larut. Hal itu membuat Clara menjadi gelisah, mana yang punya rumah nggak muncul-muncul. Melihat wanita itu berdiri dan sorot matanya seakan-akan mencari sesuatu.
" Mau apa kau?"
" Ish! Mau pamitan!" Clara masih mencari dimana keberadaan dari pemilik rumah tersebut.
" Mereka tidak akan muncul, sudah asik dengan olahraga malamnya. Kalau mau pulang, tu pintunya." Osmond mengarahkan jarinya.
__ADS_1
" Jadi orang itu, jangan suka membuat orang kesal. Dasar pria aneh, pantas saja jomblo." Clara mencibirkan bibirnya, menandakan jika ia begitu kesal dengan Osmond.
" Jaga ucapanmu! Wanita mana yang menolak pesonaku, bahkan mereka mau dengan sukarela memberikan mahkotanya untukku." Dengan angkuh Osmond membanggakan dirinya.
" Semua wanita? Hellow... Gue nggak la ye. Permisi!"
" Ongkos habis, makan nggak jadi, perut laper, apes bener gue malam ini. Mana bertemu pria aneh ini lagi, ampun banget." Clara menggedumel sepanjang perjalanan menuju pintu untuk keluar.
Pada awalnya, Osmond tidak mau tau akan apapun yang terjadi pada Clara. Namun disaat telingganya mendengar celotehan yang begitu miris, entah mengapa hatinya terasa sakit.
" Tunggu, biar aku mengantarkan kau pulang. Diam dan jangan banyak membantah, cepat." Sambil berjalan melalui Clara yang masih tercengang dengan perkataan dari pria aneh.
" Cepat, lamban sekali jadi wanita." Tegas Osmond dari dalam mobilnya.
" Jika bukan karena terpaksa, aku tidak akan mau seperti ini. Dasar manusia aneh." Kini Clara sudah memasuki dan duduk manis di dalam mobil.
" Woi, woi! Kau kira aku ini supir taksi apa, pindah ke depan! Sembarangan saja, masih untung aku mau menghantarkanmu." Osmond menjadi semakin kesal, disaat mendapati Clara berada di bangku penumpang.
__ADS_1
Tak ingin membuat masalah baru, Clara menuruti apa yang diperintahkan oleh Osmond kepadanya. Selama di perjalanan, tidak ada satu kata pun yang mereka ucapkan. Sampai pada waktunya, suara berisik membuat suasana yang semulanya tegang menjadi riweh.
Kriuk, kriuk, kriuk.
Gawat, ini perut sudah mengamuk. Aduh, lapernya. Dapat undangan untuk makan, eh malah gagal. Sengaja tidak makan, eh malah tambah nggak makan. Clara.
" Kamu belum makan?" Tanya Osmond setelah mendengar suara alarm dari perut Clara.
" Em, tapi tidak apa-apa. Aku akan makan dirumah saja, jangan merasa tidak enak padaku."
" Tidak enak? Bila perlu kau sekalian saja pingsan, dasar wanita menyebalkan." Dengus Osmond, lalu ia menjalankan mobilnya melintasi jalanan.
Tiba-tiba saja laju mobil itu berhenti di sebuah hotel berbintang lima, hal itu membuat Clara menjadi was-was. Osmond langsung keluat dari mobilnya dan membuka pintu disamping kemudi, menarik tangan wanita yang terasa dingin dan tanpa memberikan penjelasan apapun.
" I ini, anda mau bawa saya kemana tuan aneh! Jangan macam-macam dengan saya!" Clara menjadi ketakutan dan mengira bahwa Osmond menyewa hotel tersebut untuk berbuat mesum kepadanya, ia terus memberontak untuk melepaskan genggaman tangan pria aneh itu dari tangannya.
" Diam! Kau ini cerewet sekali."
__ADS_1
Sambutan dari para pelayan kepada mereka berdua, membuat Clara menjadi semakin bingung. Tangan Osmond satunya membuka pintu ruangan dengan kasar, lalu ia menghempaskan tangan si wanita cerewet.
" Hah!" Clara kaget, saat matanya melihat isi dari ruangan yang ia kira adalah sebuah kamar hotel.