Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 11


__ADS_3

Menjadi tidak fokus atas pekerjaannya, membuat Sabian menyandarkan punggungnya pada sandara kursi kerjanya. Dengan mata tertutup, ia kembali teringat dengan kejadian saat pagi hari dirumahnya. Vania yang sudah menjadi istri saat ini, begitu berubah. Mengeluarkan kata-kata kasar dan juga berani menampar Zea, tidak ada perlawanan yang diberikan oleh Zea. Sakit itu pasti, tamparan Vania begitu berbekas pada pipi Zea.


Bagaimana bisa wanita itu menerima saja perlakuan yang menghina dan menyakiti dirinya begitu saja, aku saja merasa emosi melihatnya. Ah, itu hanya tipuannya saja. Agar bisa menarik rasa simpati dari diriku, tapi. Kenapa aku malah memikirkannya?! Aneh. Sabian.


Mengambil ponsel dari saku celananya, Sabian terus menghubungi ponsel Vania. Masih tidak ada jawaban, hanya operator yang menjawab jika nomor tersebut tidak bisa dihubungi. Hanya bisa berdengus kesal, namun cinta sudah mengalahkan segalanya. Sabian hanya berfikir, jika Vania membutuhkan waktu untuk meredakan emosinya.


Terdengar suara ketukan dari luar, hingga akhirnya pintu tersebut terbuka dan memperlihatkan wajah sekretaris kepercayaannya.


" Maaf tuan, sebentar lagi kita akan menghadiri pertemuan dengan klien dari perusahaan Osmond Owen. Mereka tidak pernah mengenal kata terlambat serta manipulasi, tuan." Arvin menjelaskan tentang profil dari klien mereka kali ini, bahkan dirinya juga merasa was-was untuk menghadapi mereka.


Nafas itu terhembus dengan begitu kasar, menegakkan tubuhnya kembali. Pikiran Sabian sudah tidak bisa lagi memahami keadaan yang ada, demi egonya. Semuanya akan ia lakukan untuk menjaga kewibawaan dan juga harga dirinya.


" Baiklah, kau atur saja Vin. Kepalaku sangat pusing, Vania masih belum.bisa dihubungi." Jemari itu mulai memijit keningnya yang berdenyut.

__ADS_1


" Aku harus bersikap sebagai sahabat atau sekretaris dalam menanggapi hal ini?"


" Harus berapa kali aku terangkan, Arvin!" Suara Sabian begitu tegas dan penuh penekanan, David selalu bersikap formal jika berhadapan dengan Sabian.


" Oke, oke. Sebagai sahabat, aku sudah melarangmu untuk.tidak menikahi wanita itu. Tapi kau begitu keras kepala, dan sekarang! Pusing sendiri kan."


Mendengarkan perkataan Arvin, ada rasa bersalah dalam hatinya. Namun kembali lagi, harga dirinya Sabian begitu mahal untuk digapai.


" Orangtuamu lebih mengetahui apa yang terbaik untuk anaknya, dengan mempertimbangkan baik buruknya. Dan kau, mengabaikan semuanya. Belajarlah bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan, terlebih utama untuk istri sahmu. Kau menghancurkan masa depannya, jika tidak bisa untuk memperbaikinya. Setidaknya kau bisa berdamai dengannya, mencoba memulai kehidupan yang baik dari nol. "


Mendapati Sabian yang berkata seperti itu, membuat Arvin memutar bola matanya dengan sangat malas.


" Jika aku jadi kau! Aku lebih memilih mati, jika harus menghancurkan hidup orang lain. Sudah tau wanita bunglon, tapi masih mau! Bukannya memperbaiki diri, tapi malah menyerahkan diri sendiri untuk semakin bobrok. Dasar s**tan!" Arvin berdengus kesal atas perkataan Sabian, begitu mudahnya mengganggap semua permasalahan itu dengan sangat remeh.

__ADS_1


Berjalan meninggalkan Sabian sendiri, yang masih terpaku atas jawaban yang Arvin ucapkan. Arvin benar-benar tidak habis pikir, jika Sabian berani mengambil keputusan untuk menikahi Vania. Dunia benar-benar sudah terbalik.


Setelah kepergian Arvib dari ruanganya, Sabian kembali berfikir keras. Menelaah setiap perkataan yang Arvin berikan untuknya.


Apa benar yang dikatakan pria sialan itu, kalau aku sudah menjadi penghancur kehidupannya? Aku sudah bertanggung jawab dengan menikahi keduanya, apa aku salah? Heh, dasar dianya saja yang tidak pernah merasakan cinta. Tapi, aku juga merasa heran dengan sikap Vania. Sabian.


Mengganggap perkataan Arvin hanyalah bualan, Sabian kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang ada. Namun, kembali lagi kalimat tersebut tergiang-giang di telingganya.


Sudah tau wanita bunglon, tapi masih mau! Bukannya memperbaiki diri, tapi malah menyerahkan diri sendiri untuk semakin bobrok. Dasar s**tan.


" Ah, dasar sekretaris sialan! Berani sekali dia mengataiku, awas saja. Gajimu akan aku tahan semuanya, sampai kau memohon semdiri untuk menyerahkannya."


Dan diruangan yang berbeda, Arvib sedang meminum kopi miliknya. Belum saja satu tegukan melesat kedalam tenggorokannya, tiba-tiba ia tersedak.

__ADS_1


" Uhuk huk uhuk!! Argh, uhuk!! Sialan, pasti s**tan itu sedang mengumpatku. Awas saja kau, jika terjadi sesuatu dengan wanita bunglon itu. Aku tidak akan membantunya, makan tu wanita bunglon! Sial, basah jadinya." Arvin mengumpat tumpahan kopi tersebut yang membasahi kemeja dan juga jasnya, menuduh Sabian yang telah menggosipkannya dan berakibat seperti ini. Padahal, belum tentu Sabian yang mengumpat.


💐 Namanya juga hanya dugaan, sabar Vin. Gajimu tidak akan nyangkut, outhor akan membantumu😁💐


__ADS_2