
Setelah kepergian Sabian, Zea memanggil kembali pria keras kepala tersebut untuk berbicara.
" Kak, bisakah jangan terlalu keras kepadanya?"
" Memangnya kenapa? Apa kau ingin membelanya, setelah apa yang dia perbuat kepadamu?" Osmond bersedekap dihadapan Zea.
" Bukan begitu kak, bukannya kita harus saling memaafkan. Dari wajahnya, terlihat jika dia begitu menyesali perbuatannya. Tuhan pun Maha Pengampun atas dosa-dosa hambanya, jika kita sudah memaafkan. Namun orang tersebut kembali mengulangi kesalahan yang sama, maka kita sudah sepatutnya kita memaafkannya kembali kak. Walaupun sangat berat untuk melakukannya, Zea paham akan maksud yang kakak inginkan. Hanya saja, Sabian juga berhak untuk mendapatkan kesempatan memperbaiki diri."
" Terserah apa yang menjadi keputusanmu, Zea. Jangan kau paksakan hal itu kepadaku, aku sungguh ingin melenyapkannya dari muka bumi ini!" Begitu tegasnya, Osmond mengucapkap perasaannya yang sangat tidak menyukai Sabian.
" Terima kasih kakakku tersayang, senyum dong. Nanti tampannya diambil semua oleh suamiku, hehehe." Dengan sengaja, Zea menggoda kakaknya yang sangat kaku itu.
" Mana mungkin dia bisa mengalahkan ketampananku, bahkan aku bisa dengan mudahnya menghancurkan wajahnya saat ini juga!" Merasa sangat tertantang, Osmond sangat murka jika membandingan dirinya dengan orang lain yang tidak sepadan.
" Hahaha, iya iya. Kakakku ini memang paling tampan didunia, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Hanya saja, dia masih jomblo. Akut lagi, sungguh kasihan sekali kakakku ini. Hahaha."
" Zea!!"
__ADS_1
Hahaha...
Senyuman dan tawa itu, sudah sejak lama kakak rindukan Zea. Baru kali ini, kau bisa selepas itu dan tidak ada beban didalamnya. Tetaplah seperti saat ini. Osmond.
" Sudah puas menertawakan kakak, lebih baik kamu beristirahat lagi saja."
" Kak, apakah Sabian tau. Kalau aku keguguran?" Disaat tawa mereka mereda, Zea menanyakan sesuatu yang dari tadi tahan.
" Kau sudah mengetahuinya?"
" Sudahlah, jangan bersedih lagi. Kakak tidak tau, pria itu sudah mendengarnya atau belum. Nanti bisa kau pastikan sendiri, ayo istirahatlah. Kakak akan menemui klien sekarang, tidak apa-apa kan kau sendirian?"
" Ehm, tidak apa-apa kak. Pengawal darimu saja sudah sangat membuatku pusing kak, karena jumlahnya terlalu banyak."
" Ya sudah, kakak hanya sebentar. Jika pria itu datang lagi, jangan biarkan dia terlalu lama disini. " Osmond memberikan kecupan pada dahi Zea, dan berlalu pergi.
......................
__ADS_1
Saat ini, Sabian dengan sangat fokus memeriksa berkas yang akan ia bawa untuk berjumpa dengan kliennya.
" Vin, coba kau baca berkas ini." Sabian memberikan dua berkas yang ia baca kepada Kevin.
Dengan sangat fokus membaca ulang berkas tersebut, setelah beberapa saat. Untuk lebih menyakinkan, Kevin kembali membolak-balik berkas tersebut.
" Wow, tak kusangka dan tak kuduga. Satu klien, kakak ipar. Dan satunya lagi, mantan saingan. Luar biasa." Kevin berceloteh dengan memandangi kedua berkas ditangannya.
" Sudah, tidak perlu baperan. Siapkan saja mentalmu, mereka adalah orang-orang yang perlu kau perhitungkan. Apalagi sang kakak ipar, jika kau mengecewakannya. Habislah tak bisa berjumpa sama istri, dan satunya lagi. Ah tau lah, urus saja nanti." Kevin merasa muak menyebutkan si bunglon dan pasangannya itu.
" Baiklah, siapkan saja semuanya. Aku ingin cepat pertemuan ini cepat selesai, setelahnya aku akan menemui Zea."Ujar Sabian yang bersandar pada sandaran kursi kerjanya.
" Zea sudah sadar?" Tanya Kevin dengan mulut membeo.
" Hem, makanya jangan lama-lama pertemuannya nanti. Kau harus atur waktunya, dan jangan sampai iparku itu berulah lagi." Sabian tidak ingin dirinya kembali dihalangi untuk bertemu Zea.
" Siap bos, gue juga mau bertemu Zea."
__ADS_1