Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 62


__ADS_3

Melihat Osmond menjauhi sisi Zea, Kedua orang kepercayaannya mengkerutkan dahinya.


" Adikku ingin bicara denganmu, jika terjadi sesuatu padanya. Maka kau, akan berurusan denganku. Camkan itu!" Menyenggol bahu Sabian, Osmond memilih duduk pada sofa yang masih menghadap tempat tidur pasien.



Tatapan tajam itu terasa seperti sebuah pisau tajam, yang tertancap cukup dalam pada tubuh korbannya. Hanafi dan Kenzie bergidik merinding melihat sikap dari bosnya, seandainya mereka tau siapa sebenarnua seorang Osmond Owen.


" Itu mata atau pisau, Ken? Serem banget lihatnya, tuan benar-benar posesif sama nona Zea." Dengan mata yang masih tertuju melihat bosnya, dua orang kepercayaan dari leader dunia bawah itu saling bertatapan satu sama lainnya.


" Lebih baik kita keluar saja, daripada membangunkan jiwa aslinya tuan." Berjalan berbalik arah menuju pintu, Kenzie menarik ujung dari pakaian yang digunakan Hanafi.


Sedangkan Sabian, setelah dilewati oleh Osmond. Dirinya berusaha untuk berbesar hati, tidak ingin menghakimi orang lain lagi dengan sikapnya yang egois. Merasa dirinya memang berperan, sehingga kejadian yang sangat masalah besar ini terjadi.


" Bagaimana keadaanmu, sayang." Sapa Sabian yang sangat kikuk, saat berhadapan dengan Zea.


" Sudah terasa lebih baik, kamu apa kabarnya?"


Keadaan saat itu membuat mereka berdua, seperti dua orang sepasang kekasih yang baru saja bertemu. Senyuman yang mereka berikan, mengartikan jika diri mereka sama-sama sedang menahan perasaa yang cukup dalam.

__ADS_1


" Maaf, maafkan atas semua sikapku selama ini yang sudah aku lakukan padamu Zea. Aku tau, semuanya itu tidak akan sebanding dengan perjuanganmu untuk mempertahankannya. Maaf." Sabian menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada lengan Zea yang berada diatas tempat tidur.


Airmata tak henti-hentinya mengalir dari sudut mata Sabian, isakan tanggis itu membuat bahunya bergetar. Osmond yang menyaksikan peristiwa tersebut, hanya berdengus kesal.


" Berhenti mengeluarkan airmata yang penuh dengan kepalsuan." Suara Osmond bergema didalam ruangan tersebut.


Namun Zea tidak seperti wanita yang lainnya, ia memiliki hati yang begitu tulus dan bersih. Seberat-beratnya kejahatan yang dilakukan seseorang, mereka berhak mendapatkan kesempatan untuk melakukan peruban dalam hidupnya menjadi lebih baik.


" Kakak." Tegur Zea atas perkataan sang kakak. Tapi Osmond tetaplah Osmond, tingkat egois dalam dirinya begitu tinggi.


" Tuan." Tegur Zea kepada Sabian yang masih dalam keadaan menunduk.


" Tuan Sabian, bisakan anda untuk tidak menunduk? Lenganku terasa kebas." Dengan terpaksa Zea mengatakan hal tersebut, dengan tujuan agar Sabian dapat menegakkan kepalanya.


" Hei ke***rat! Lengan adikku bisa lebih parah karena kepala kotormu itu! Menyingkirlah dari sana!" Kembali lagi jiwa posesif itu pada diri Osmond.


Bukannya tidak ingin mengangkat kepalanya, Sabian merasa sungguh sangat malu dan hina dihadapan Zea. Ia begitu menyadari kesalahan yang sudah ia lakukan, kepada wanita yang berstatus sebagai istrinya.


" Kakak, bisakah untuk meninggalkan kami berdua? Aku mohon, untuk saat ini." Kesal dan emosi mendera diri Zea, ia menilai sikap kakaknya itu sudah terlalu over posesif kepadanya.

__ADS_1


Disaat kepala Sabian telah berdiri, tampak mata yang begitu sembab dan merah. Dengan penuh keyakinan, ia meraih talapak tangan Zea dan menggenggamnya dengan perlahan.


" Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Sabian bermaksud untuk menarik dirinya, sungguh saat ini ia merasa sangat rendah diri dihadapan istri dan kakak iparnya.


" Tidak, tetaplah disini. Kakak, jika kau masih tidak mengabulkan perkataanku. Maka bersiaplah untuk melepaskanku untuk kembali kepada suamiku!"


Zea sedikit memberi penekanan pada perkataannya, dan genggaman tangan Sabian pun ia balas dengan begitu kuat. Sehingga membuat Sabian terpana akan perlakuan Zea, dimana juga ia menyebut dirinya 'suami'.


" Baiklah! Kau menang!" Terlihat jelas jika Osmond sangat kesal dengan apa yang ia dapati saat itu.


Brak!!!


Hempassan pintu yang tertutup, membuat kedua insan itu menjadi terkejut.


Awas saja kau, Sabian. Berani-beraninya kau menggambil perhatian dari adikku, bersiaplah untuk menerima pembalasan dariku! Osmond.


Melihat bos mereka seperti sedang murka, Hanafi dan Kenzie menghela nafas mereka dengan begitu pasrah.


Semoga saja jalan pikiran tuan Osmond tidak seperti seorang kakak yang cemburu kepada pasangan adiknya, jika tidak habislah kami menjadi racunnya. Kenzie dan Hanafi.

__ADS_1


__ADS_2