
Dalam keadaan sudah tidak sadar, Mateo memerintahkan anak buahnya mengecek keadaan Zea.
" Cairan itu sudah bereaksi, tuan."
" Biarkan saja, kita akan melihat pertunjukkan lainnya. Menunggu sang pahlawan kesiangan itu datang, sudah saatnya aku membalaskan dendam kepadanya!" Dengan sangat geram, terdengar suara retakan gigi yang membuat telingga menjadi sakit.
Sabian dan yang lainnya, masih mengikuti laju mobil yang berada didepannya. Sedangkan Osmond beserta kelompoknya, masih mengikuti arah yang diberikan oleh Hanafi. Ia menyabotase seluruh akses dari CCTV yang ada, agar bisa mendapatkan jejak keberadaan Zea.
Setibanya mereka semuanya pada sebuah bangunan kosong, sama seperti yang telah disampaikan oleh sang hacker.
" Tunggu! Jangan gegabah, kita harus menyusun rencana terlebih dahulu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Zea." Sabian yang tidak mengerti tentang kejadian tersebut, hanya mendengar keterangan dari beberapa asisten rumah tangga sebelumnya.
" Apa pedulinya kau, hah! Adikku seperti ini karena ulah bodoh yang kau ciptakan, diam dan tidak usah ikut campur!" Maki Osmond kepada Sabian dengan penuh amarah.
Menghela nafas panjang, Ammar menarik Sabian untuk tidak membuat kegaduhan lebih lanjut.
" Ikuti saja aturan yang mereka berikan, nyawa Zea saat ini harus kita utamakan." Ammar menepuk bahu Sabian.
Osmond dan lainnya menyusun recana kilatnya, tujuan mereka adalah menyelamat Zea. Setelah persiapan mereka telah matang, Osmond melirik Sabain dan teman-temannya. Dengan memejamkan matanya sejenak, ia pun menghampiri.
__ADS_1
" Persiapkan diri kalian, tidak usah banyak bertanya dan selamatkan diri kalian sendiri-sendiri. Ambil senjata yang bisa kalian gunakan, dan kau. laki-laki bodoh!" Osmond menunjuk Sabian dan mengumpatnya.
Dengan pasrah, Sabian menerima setiap ucapan yang ditujukan kepada dirinya. Mereka pun bergerak, melakukan penyerangan. Baku tembak terjadi diantara kelompok Dusa dan pihak Osmond, perlahan mereka mulai bisa menguasai situasi yang ada. Satu persatu musuh dapat mereka takhlukan, tanpa ampun. Osmond melampiaskan seluruh amarahnya kepada pihak lawan yang berhadapan dengannya, nyawa mereka langsung melayang disaat berhadapan dengan seorang leader dunia bawah.
Tak kalah dengan tuannya, Kenzie juga berperan dalam penyerangan tersebut. Begitu pula dengan Sabian dan lainnya, mereka juga ikut menyerang dan banyak sekali pertanyaan dalam hati mereka akan sosok Osmond.
Berjalan dengan mengendap, Osmond melirik dengan mata elangnya mencari keberadaan Zea.
Srat!
Tanpa disadari, pundak Osmond terkena sabetan senjata tajam. Ia pun kembali menyerang orang tersebut, tembakan dan baku hantam terjadi. Yang akhirnya, sang rival menampaka wajahnha.
" Selamat datang, tuan Osmond. Sudah lama kita tidak berjumpa, Hahaha."
" Benar, ini aku Mateo. Orang yang dahulu sudah kau hina, bahkan hampir mati! Dan sekarang, saatnya aku membalas semua yang sudah kau lakukan!" Mateo menyerang Osmond dengan senjata yang berada ditangannya.
Mereka berkelahi dengan sangat keras, pukulan telak dan tendangan yang Osmond berikan. Mampu menumbangkan Mateo dalam hitungan detik, namun semuanya itu tidak berlaku lama. Disaat leher Mateo berada dalam cengkraman tangan kekar itu, dengan tatapan licik.
Dor!
__ADS_1
Dor!
Terdengar dua tembakan terlepas, mata elang milik Osmond semakin tajam. Cengkraman tangan itu pun menguat, menekan saluran pernafasan. Bahkan, lutut itu ikut menekannya dengan sangay kuat.
" Arkh, arrkh!!"
" Kau pikir bisa membodohiku! Dimana adikku, katakan!" Merasa sangat geram, satu gerakan dari tangan Osmond menarik keluar dua bola mata dengan sangat mudah.
" Argh! Tidak, mataku!" Rintihan Mateo sangat memilukan.
" Cepat katakan! Dimana adikku? Ba***gan!!"
Dalam keadaan yang begitu tragis, Osmond masih menyerangnya dengan gelap mata. Mateo tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sedikitpun, disisi lainnya. Sabian dan lainnya menghadapi musuh yang semakin bertambah banyak, kekuatan Sabian sangat tidak bisa dihandalkan.
" Kau cari Zea saja, sangat payah sekali pertarungan yang kau punya. Pergilah, Zea sangat membutuhkan pertolongan." Ammar menyuruh Sabian untuk pergi, dia sangat risih jika Sabian bersamanya. Bukannya bertarung, tapi malah sibuk melindunginya dari serangan musuh.
" Awas saja kau, akan aku ratakan dengan tanah rumah sakit itu!" Sabian beranjak pergi meninggalkan Ammar yang masih mencibir dirinya.
Dalam langkahnya, Sabian melirik setiap ruangan yang ada. Harapannya agar segera bisa menemukan keberadaan Zea, dan membawa pergi dari sana. Serangan masih terus berlanjut, pada akhirnya. Bantuan itu tiba, pasukan dari pihak Osmond dengan jumlah yang sangat banyak langsung menyerang pertahanan lawan. Terlihat Hanafi, sang hacker yang memimpinnya.
__ADS_1
Langkah kaki Sabian terus menelusuri setiap lorong yang dilaluinya, hingga mata itu menangkap satu ruangan yang tertutup tanpa penjagaan. Perlahan ia mendekati ruangan tersebut, menekan pegangan pintu dan membukanya. Dengan minimnya cahaya disana, mata Sabian menyipit dan menangkap sesuatu.
" Zea!"