
Sabian membawa Zea menuju perusahaan yang kini ia pimpin, dengan penuh rasa penasaran. Setibanya mereka berdua di ruangan kerja milik Sabian, Ara melihat bangunan tersebut berbeda dari sebelumnya.
" Tuan, apa kita tidak salah masuk gedung?"
Dengan tersenyum, Sabian memeluk tubuh Zea daei belakang. Membenamkan wajahnya pada tengkuk leher milik sang istri untuk beberapa saat, lalu ia menghela nafasnya untuk menghilangkan keraguan didalam dirinya.
" Maaf, memang ini bukan perusahaanku. Ini adalah milik papa, yang kini aku pimpin." Jelas Sabian.
" Perusahaan papa? memangnya perusahaan anda kenapa, bukannya..."
Sebelum Zea menyelesaikan perkataannya, tanpa ragu dan menunda. Sabian membalikkan tubuh Zea dan mengecup bibir ranum miliknya, yang selama ini sudah sangat lama ia rindukan. Tidak ada perlawanan yang Zea berikan, pada awalnya Zea cukup kaget dengan perlakuan yang Sabian berikan kepadanya. Namun pada akhirnya ia menyadari, jika pria yang berada dihadapannya ini berhak akan dirinya. Semakin terbawa dalam suasana, Zea mengakhiri kegiatan mereka.
" Kenapa?" Tanya Sabian yang merasa heran dengan sikap Zea.
Wajah itu berubah menjadi kemerahan, akibat dari ulah Sabian. Dengan sikap malu-malunya, Zea mencubit perut Sabian.
" Aawww... Sakit sayang, memangnya kenapa? " Sabian masih sangat penasaran akan perubahan pada Zea.
__ADS_1
" Dasar tidak peka, ini kan tempat umum. Sembaranga saja main cium-cium, nanti ada orang yang masuk gimana?"
" Jadi, itu alasan kamu mencubit aku? Ya ampun." Sabian tidak habis pikir, jika Zea sampai berpikiran seperti itu.
" Emm, iya. Aaaaa... Kamu mau apa? Turunkan aku."
Merasa sudah ada lampu hijau dari sang istri, Sabian tidak bisa menahan gejolak dari dalam dirinya. Dengan terpaksa, ia mengendong Zea seperti membawa karung beras, menuju ruang pribadinya.
" Jangan terlalu banyak bergerak sayang, itu akan membuatmu terjatuh."
Saat sudah berada didalam ruang pribadinya, Sabian melempar Zea ke atas tempat tidur.
" Kamu mau apa? Jangan aneh-aneh, Sabian!" Karena merasa ketakutan, Zea mengumpat Sabian dengan beragam umpatan.
Sabian ikut membaringkan tubuhnya disamping Zea, sudah lama ia ingin merasakan kembali kehangat Zea yang sempat menghilang dalam kehidupannya.
" Ssstt, biarkan seperti ini. " Memeluk Zea yang masih dalam keadaan emosional, Sabian menahan tubuhnya untuk berdekatan bersama istrinya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Melihat Sabian yang begitu tenang, Zea merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi didalam hubungan pernikahannya. Menatap wajah teduh itu, Zea memberanikan diri untuk membelai wajah pria yang sudah mempunyai ruang tersendiri didalam hatinya.
" Maaf atas semua kejadian yang terjadi, semoga saja ini adalah awalan yang baik untuk hubungan kita selanjutnya."
Tanpa Zea sadari, Sabian hanya memejamkan matanya namun tidak tertidur. Tangan dan jemari halus yang sedang menari-nari diatas wajahnya, kini ia genggam dengan erat.
" Kamu tidak tidur?" Zea kaget, saat tangannya telah digenggam oleh Sabian.
" Aku berjanji, berusaha tidak akan mengulangi semua perbuatanku dahulu. Yang sudah menyakitimu, dan sekarang sampai akhir nafasku. Aku akan menjaga dan membahagiakanmu selamanya, terima kasih telah menjadi wanita terhebat dalam hidupku."
Kedua mata mereka saling bertemu, dalam suasana keheningan. Sabian mengutarakan keinginannya untuk menyatukan kembali hati mereka berdua kepada Zea, tanpa menolak. Zea menyetujui keinginan dari suaminya tersebut, Sabian pun perlahan menyatukan kedua bibir mereka. Meresapi setiap jengkal pada bagiannya, kedua tangan milik Sabian mulai berjalan disetiap bagian tubuh milik Zea. Hingga beberapa saat, mereka berhasil menyatukan dirinya kembali setelah sekian lama terpisahkan.
💐💐💐
Adengannya intinya kena skip ya, mohon maaf atas ketidaknyamanan dalam membacanya. Jangan lupa tinggalkan jejak, bisa melalui komenan, vote, hadiah ataupun like. Terima kasih 🙏😊.
__ADS_1