
" Jantungku berdetak sangat cepat dan kuat, saat wanita itu memelukku. Apa aku terkena serangan jantung, Vin?!"
Ccciitt!!!
Bugh!
" Aargh! Dasar sekretaris sialan, ba***sat! Kenapa tiba-tiba kau mengerem, kepalaku sakit!" Teriak Sabian setelah kepalanya membentur kursi didepannya.
" Ka kau bilang, istrimu memelukmu?!"
" Iya, wanita itu memelukku saat aku mengizinkannya untuk bekerja kembali. Dia terlihat begitu sangat senang, heh."
" Apa? Kau memberikan izin untuk dia bekerja kembali? Dasar pria tidak waras kau ini, benar-benar tidak waras dan gila. Bagaimana bisa kau mengizinkannya bekerja, sedangkan Vania. Kau beri segalanya, menghambur-hamburkan uang dalam jumlah yang tidak sedikit dan tidak jelas kemana. Aih, kau ini." Arvin kembali menjalankan laju mobilnya.
" Dia sendiri yang meminta, sudahlah. Kanapa jadi kau membelanya! Hei, dia itu istriku. Kenapa jadi kau yang begitu sewot, hah!".
" Istri??! Akan aku tagih ucapanmu itu."
" Hei!!! Ada apa denganmu hari ini, sungguh menyebalkan." Arvin kembali memfokuskan dirinya untuk mengendarai laju mobil tersebut.
Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Sekretaris ini selalu saja membuat emosiku naik turun. Sabian.
......................
Bersiap-siap untuk berangkat ke perusahaan tempatnya bekerja, Zea begitu semangat sekali. Menyantap makanan yang berada dihadapannya dengan sangat cepat, membuat Maryam dan Sinta melebarkan matanya.
" Bik, apa non Zea baik-baik saja? Kenapa makannya seperti orang kerasukan." Sinta yang sangat bingung dengan hal tersebut.
" Hush, sembarangan saja kalau bicara. Biarkan saja, lagian juga non Zea jarang sekali sarapan." Maryam kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan Sinta yang masih penasaran, berjalan mendekatinya dan bertanya kepada Zea untuk melepas rasa penasarannya.
" Non, pelan-pelan saja. Tumben semangat sekali pagi ini."
__ADS_1
" Ah, kamu Sin. Iya, aku harus segera berangkat. Karena tuan Sabian sudah memperbolehkan aku untuk kerja kembali."
" Apa? Non kerja?" Begitu terperangahnya Sinta mendengar jika Zea akan bekerja, padahal kekayaan dari Sabian sudah melebihi segalanya.
" Tenang saja Sin, aku bekerja untuk menggerakkan tubuhku. Tidak akan ada yang mengetahui statusku sebagai istri tuan Sabian, jangan kaget begitu."
" Eh non Zea, ya kagetlah non. Tuan Sabian kan hartanya sudah meluber non, wah wah wah. Non Zea bener-bener seterong banget dah."
" Strong Sin, bukan seterong."
Menggelengkan kepalanya dengan kelakuan Sinta, membuat Zea geli sendiri. Setelah selesai sarapan, Zea mencari keberadaan Maryam untuk berpamitan. Betapa terkejutnya Maryam mengetahui jika Zea akan bekerja, sempat ia melarang dan menahan Zea untuk tidak pergi bekerja. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Zea secara langsung, membuat Maryam mengerti akan maksudnya.
" Hati-hati ya non, jangan terlalu kecapean. Jangan lupa makannya."
" Iya bu, Zea berangkat ya. "
Melihat kepergian Zea yang semakin jauh, membuat hati Maryam begitu terenyuh, begitupun dengan Sinta. Mengetahui jalan hidup yang dialami oleh nonanya, begitu banyak lika liku yang harus dihadapi.
Non Zea sungguh mengagumkan, tidak sebanding dengan si kutu kupret itu. Sinta.
......................
Perjalanan menuju perusahaan membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit tanpa hambatan, jika ada hambatan. Maka, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk segera tiba disana.
Senyumam kembali menghiasi wajah cantik Zea, disaat iya melihat gedung dimana tempat ia bekerja. Disaat akan memasuki gedung besar tersebut, ada sebuah tangan yang meraih pundaknya.
" Zea, kamu Zea kan?!"
Suara yang begitu sangat ia kenal, suara itu juga yang sangat ia rindukan.
" Yola."
Merekapun saling berpelukan satu sama lain, melepas rasa rindu setelah lama tidak bertemu. Berjalan menuju tempat biasa, dimana mereka sering bertukar cerita.
__ADS_1
" Yol, aku ke ruangan pak Arvin dulu ya. Belum tau, aku akan ditempatkan dimana. Nanti kita lanjutin lagi ya, da!"
" Yah, aku kira kita satu bidang. Hem, ya sudahlah. Janji ya, kamu nggak main ilang-ilangan lagi."
" Iya bawel."
Zea pun beranjak meninggalkan Yola menuju ruangan Arvi, sang sekretaris dari tuannya. Dalam perjalan menuju ruangannya, Zea mendapati tatapan tajam dari berbagai teman satu profesinya terdahulu. Hal itu ia lalui dengan menguatkan hatinya.
Tok tok...
" Masuk."
" Permisi tuan, sa.."
" Silahkan masuk nona, tidak perlu sungkan dan bersikaplah seperti biasa. Terlalu formal untuk saya." Arvin mengetahui siapa yang sedang berada dihadapannya saat ini.
" Ah, i iya. Terima kasih."
Zea berjalan mengikuti arahan dari Arvin, untuk duduk pada salah satu sofa yang berada didalam ruangan tersebut.
" Baiklah nona, anda akan ditempatkan untuk menjadi sekretaris khusus tuan Sabian."
" Apa?!!"
Ucapan dari Arvin, seketika membuat Zea terkejut dan terperangah begitu saja. Ia pikir akan mendapatkan pekerjaannya yang terdahulu, sebagai cleaning servis. Namun semuanya itu kini berubah, bagaimana bisa ia menjadi sekretaris khusus untuk tuannya. Sedangkan saat dirumah saja, mereka tidak pernah saling menyapa satu sama lain. Jika tidak dalam keadaan terdesak.
" Apa anda tidak salah tuan, saya tidak akan bisa bekerja untuk posisi tersebut. "
" Arvin, panggil saja Arvin nona. Anda adalah istri dari pemilik perusahaan ini, sangat pantas jika menduduki posisi tersebut."
" A aku tidak bisa tuan, bisakah aku bekerja dengan pekerjaanku yang lama? Karena aku sangat nyaman dalam pekerjaan tersebut."
" Ini semua keputusan dari tuan sendiri, nona. Jika anda keberatan, silahkan protes langsung padanya. Saya hanya menjalankan perintahnya, apa anda siap?" Arvin menyakinkan Zea agar menerima pekerjaan itu, jika tidak ia dan Sabian akan beradu mulut kembali.
__ADS_1