Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 12


__ADS_3

Melewati olahraga yang begitu menguras tenaga, membuat kedua insan manusia tersebut tertidur pulas. Hingga tak terasa waktu berjalan dengam begitu cepatnya, membuat matahari telah tergantikan oleh bulan.


" Eegghh." Vania mengeliat, melonggarkan setiap persendian tubuhnya yang terasa begitu lemas.


Mengedarkan pandanganya pada sisi disebelahnya, ternyata sudah tidak ada orangnya. Dengan begitu malas, Vania bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa waktu, ia telah selesai dengam dirinya. Keluar dari kamar tersebut menuju dapur, tenggorokannya yang terasa sangat kering. Meraih sebuah botol air mineral, lalu meneguknya.


" Ah, leganya. Selalu saja ditingal sendiri, sesibuk apa kau David." Menggelengkan kepalanya, Vania pun segera meraih tasnya dan pergi dari apartemen tersebut.


Mengendarai laju mobilnya untuk segera pulang, ponselnya kembali berbunyi dan tertera nama sang penelfon.


...Sabian is calling......


Bersikap acuh dan tidak menanggapi panggilan telfon dari Sabian, ia kemudian memikirkan rencana selanjutnya untuk menyingkirkan Zea dari rumah tersebut.


Sedangkan dirumah Sabian, ia sengaja untuk pulang lebih awal. Agar bisa bertemu dengan Vania dan membicarakan persoalan mereka secara baik-baik, namun ternyata wanita tersebut belum kembali.


" Bik, Vania belum pulang?"


" Belum tuan." Maryam menjawab ucapan Sabian dengan sangat risih, bagaimana bisa tuannya itu menanyakan wanita siluman daripada istri sahnya sendiri.


Pikiran Sabian sudah sangat khawatir, merasa bersalah atas apa yang terjadi. Hingga menyebabkan wanitanya itu pergi, bermaksud untuk masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


Bugh!


" Aduh!" Tubuh besar Sabian dan Zea salimg bertabrakan, dimana yang Zea datang dari arah dapur.


Hal tersebut membuat tubuh ringan Zea terhuyung kebelakang dan disaat tubuhnya akan bersentuhan dengan lantai, gerakan tanpa disengaja dari Sabian. Membuat mereka saling berpandangan satu sama lain, kedua mata mereka bertemu. Tangan tersebut menahan, agar tubuh Zea tidak bersentuhan dari lantai.


" Ma maaf, aku tidak sengaja."


Mendapati tangan Sabian yang melingkar pada pinggangnya, membuat Zea langsung membenahi tubuhnya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Lalu ia menunduk sembari meminta maaf pada Sabian, ia sangat takut jika Sabian akan memarahi dirinya.


" Hem." Hanya mengeluarkan suara tersebut, lalu Sabian pun berlalu dari hadapan Zea.


Irama detak jantung keduanya saling beradu dengan begitu cepat, Sabian maupun Zea merasakan hal yang serupa. Namun Zea tidak ingin berharap banyak, ia segera menepis semua pikirannya saat itu dan tidak ingin menorehkan luka lagi pada hatinya yang belum seutuhnya sembuh.


Kini hidangan untuk makan malam telah tertata rapi diatas meja, hanya tinggal menunggu Sabian dan juga istrinya yang baru untuk menikmatinya. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah pintu utama, yang kemudian disusul oleh kehadiran seseorang.


" Rupanya kalian sudah menyiapkan makan malam, baguslah. Dan kau! Ternyata tau diri juga, tidak percuma kau ada disini." Tatapan sinis dan ucapan yang begitu tajamnya, di utarakan oleh Vania kepada Zea.


Mendapati kejadian itu, Zea hanya bisa menahan segala perasaan yang menerpanya. Tidak ingin membuat kegaduhan seperti sebelumnya, ia bermaksud untuk meninggalkan Vania disana dan kembali menuju dapur.


" Hei, mau kemana kau wanita sialan." Tanpa perasaan, Vania menarik rambut Zea dengan begitu kuatnya.

__ADS_1


" Argh." Teriak Zea yang begitu kaget dan merasakan rasa sakit pada rambut kepalanya.


" Aku belum selesai berbicara, sialan. " Langsung saja Vania menghempaskan Zea hingga terjatuh.


Zea yang saat itu kehilangan keseimbangannya, terjatuh dan kepalanya membentur sudut meja makan hingga mengeluarkan darah. Mendengar suara teriakan, membuat Maryam, Titik dan Sinta berdatangan. Mereka sangat kaget mendapati Zea seperti itu, dengan bermaksud untuk menolongnya.


" Berhenti kalian, jangan coba-coba untuk membantunya." Dan seketika itu juga, membuat Sinta dan Titik mengurungkan niatnya untuk membantu Zea.


Belum kembalinua keseimbangan pada tubuh Zea, Vania dengan emosinya kembali menyerang Zea.


" Dasar wanita peng***da, sialan. Aku sangat membencimu, tidak akan aku biarkan kau bisa bernafas dengan enak!" Kali ini, tangan Vania menampar kembali kedua pipi Zea.


Memberikan cakaran pada lengan Zea dengan kuku jari tangannya, hingga berakibat menimbulkan luka. Zea tidak bisa membalas semua perlakuan itu, karena ia memang tidak pernah berprilaku kasar terhadap orang lain.


" Ada apa ini?!"


Suasana seketika menjadi hening dan Vania menjauhkan dirinya daei Zea, menatap Sabian dengan tatapan tajamnya.


" Honey, kau sudah kembali." Mendapati istri sirihnya itu sudah pulang, Sabian pun lebih memperhatikannya.


" Aku tidak ingin wanita ini ada disini! Usir dia!" Dengan penuh amarah, Vania membentak Sabian.

__ADS_1


" Kenapa?" Kedua telapak tangan Sabian, masuk kedalam saku celananya.


" Aku bilang usir, ya usir!" Vania semakin meninggikan nada bicaranya.


__ADS_2