
Tubuh Zea kini dibaringkan diatas brankar rumah sakit, yang kemudian dilakukan pemasangan alat-alat medis yang berfungsi untuk menunjang kehidupannya. Dengan begitu kalut, Sabian terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan Zea.
Kedatangan Osmond di rumah sakit, membuat Sabian tidak bisa menahan amarah. Tanpa berbicara sapatah kata pun, kepalan tangan itu langsung dilayangkan Sabian untuk Osmond.
Bugh!
Dengan keadaan yang tidak siap menerima serangan, Osmond terkena kepalan tangan dari Sabian. Membuat dirinya sedikit terhuyung mundur kebelakang, Kenzie yang mendapati tuannya mendapatkan serangan. Bermuka dingin dan datar, ia membalas serangan tersebut.
Bugh!
Bugh!
" Hentikan!"
Bermaksud untuk melerai pertikaian yang terjadi, Arvin menggunakan tubuhnya sebagai tameng bagi keduanya yang bertikai.
" Ini rumah sakit, jika ingin meluapkan emosi kalian. Silahkan pergi dari sini, cari tempat lain saja!" Dengan penuh penekanan, Arvin memberikan pernegasan menggunakan perkataannya.
" Dan kau! Aku tidak tahu hubungan di antara kalian itu seperti apa, menyembunyikan keberadaan Zea hingga membuat nyawanya terancam seperti ini! Kau sungguh bre****ek, Osmond!" Lagi-lagi Arvin memaki pria yang kini sedang berhadapan dengannya.
__ADS_1
" Jangan pernah mencampuri urusanku! Apa harus, aku membalaskan perlakuan kalian kepada adikku, hah! Bahkan kau! Sudah merenggut hal yang paling berharga pada dirinya! "
Rahang Osmond mengeras, urat-urat pada bagian wajah dan lehernya terlihat sangat jelas. Ingin rasanya ia menghabisi nyawa pria yang sudah melakukan hal tersebut kepada adiknya, namun ia kembali teringat akan perkataan wanita yang teramat ia sayangi itu, agar tidak menaruh dendam.
Tubuh Sabian seketika membeku, benar apa adanya. Dirinya pun sangat merasa bersalah dengan kejadian yang telah terjadi diantara dirinya dan sang istri. Bahkan dirinya begitu bodoh telah termakan rayuan oleh wanita gila, yang sudah memperdayainya. Kini, hanya penyesalan dan rasa bersalah ada dalam dirinya.
Menyia-nyiakan wanita yang begitu sangat berarti, bahkan dengan kehadiran sang buah hati yang sebelumnya sempat ia ragukan. Memberikan tuduhan perselingkuhan yang pada akhirnya terkuak, wanita yang ia anggap sebagai wanita hina dan tidak mempunyai keluarga lagi dan nyatanya malah sebaliknya.
Klek!
Terlihat Ammar keluar dari ruang tindakan dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
" Eh, berikan aku ruang untuk bernafas dulu bro. " Ammar yang merasa kaget, menjadi terpaku atas sikap Osmond.
" Katakan! Jika kau masih ingin hidup!" Tangan kekar itu menarik kerah baju sang dokter hingga tubuhnya ikut terangkat ke atas.
" Weh weh, apa-apaan ini?!" Mendapati dirinya melambung tinggi, dengan cepat Ammar menghempaskannya dan berhasil mendarat dengan bokong yang terasa sangat sakit.
" Auw, bokongku!" Rintih Ammar dengan mengusap-usap bagian yang terasa sakit.
__ADS_1
" Tuan!" Kenzie menarik bahu Osmond, sungguh merepotkan jika tuannya sudah berada dalam keadaan emosi.
" Makanya, jadi Dokter itu nggak usah banyak drama. Nyawa lu banyak ya, bisa-bisanya ngelawak disaat seperti ini."
Tak!
Menambahkan satu sentilan pada dahi yang lebar itu, Arvin menyeringai dengan tajam, membuat Ammar semakin geram.
" Kalian ini, jika mau cepat. Kalian saja yang jadi dokternya, nggak tau terima kasih! Huh, untuk kali ini dengar baik-baik. Saat ini, keadaan Zea bisa dikatakan vegetatif atau koma. Dan..." Ammar menghentikan perkataannya, sungguh sangat berat untuk mulutnua mengatakan hal tersebut.
" Dan apa?!" Arvin melanjutkan pertanyaan atas terhentinya penjelasan dari Ammar.
" Huhf, aku harap kalian bisa menerimanya. Terutama untuk kau, Sabian. Zea mengalami pendarahan hebat, cairan yang sudah ia telan sebelumnya. Adalah racun yang tingkat kematiannya sangat kuat, dan itu menyebabkan bayi yang sedang Zea kandung tidak dapat bertahan. Maaf, kami tidak bisa mempertahankannya."
Bugh!
" Woi, apa lagi ini!" Ammar benar-benar tidak menyangka, hari ini begitu terasa sangat apes untuk dirinya.
Pukulan keras kembali Osmond berikan kepada Ammar, mendengar kondisi Zea yang sangat tidak mereka inginkan. Kenzie menarik serta membawa tuannya untuk sedikit menjauh dari tempat tersebut. Sedangkan Sabian, dirinya terhempas jatuh ke lantai. Bagaikan tak bertulang, tubuh itu seketika mendarat dengan keras. Menundukkan kepalanya dan air mata pun mengalir begitu saja dengan sangat deras.
__ADS_1
" Maaf, maaf, ma af aku Zea."