Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 19


__ADS_3

Hubungan baik itu terus berlanjut, melihat kedekatan yang mereka perlihatkan. Membuat penghuni rumah besar itu menjadi sangat senang, namun hal itu belum terjadi dalam hubungan pernikahannya. Zea belum siap untuk menyatu seutuhnya bersama Sabian, apalagi masih ada Vania diantara mereka. Tanpa diketahui oleh yang lainnya, Vania selalu memberikan ancaman demi ancaman pada Zea. Kejadian itu masih Zea rahasiakan, ia tidak ingin menjadi penyebab kerusakan dalam rumah tangganya.


" Non, sarapan dulu. Biar kuat ibu dan bayinya, bibik tinggal sebentar ya. Mau jemur pakaian, si Titik dan Sinta belum pulang dari pasar."


" Iya bu, terima kasih."


Maryam menginggalkan Zea yang saat itu sedang berada didapur, seperti biasanya ia akan sarapan disana. Menikmati setiap suapan demi suapan yang masuk kedalam mulutnya, Zea merasa nafsu makannya akhir-akhir ini meningkat sekali. Tiba-tiba, ada sesuatu yang melingkar pada bahunya.


" Uhuk, uhuk!! Uhuk."


" Kamu tidak apa-apa, sayang?! Ini, minum dulu."


Menerima uluran tangan yang memberikannya segelas air minum, Zea meneguknya air tersebut dengan cepat.


" Tu tuan! Anda!" Begitu terkejutnya Zea, melihat Sabian berada disana.


" Sayang, cinta, bebeb! Tidak ada kata tuan lagi, jika aku masih mendengarmu menggunakan kalimat itu. Bersiaplah menerima hukuman, paham! Jangan lagi sarapan terpisah, apa gunanya meja makan. Akan aku hancurkan meja itu, kalau kau tidak menggunakannya."


Berjalan dengan melingkarkan lengannya pada pinggang Zea dari arah samping, mereka kini duduk berdua. Berdampingan untuk menikmati hidangan di atas meja, situasi yang begitu menengangkan bagi Zea.


" Ada apa, sayang? Kamu harus terbiasa untuk makan bersamaku." Menuangkan berbagai macam lauk keatas piring dan memberikannya pada Zea dan dilanjutkan ia mengambil sendiri untuk dirinya.


" Sa ya sudah kenyang, lebih baik tuan saja yang makan."


Saat itu, Sabian yang sedang mengunyah makanannya. Dengan mendapati hal itu, senyuman penuh kemenangan terlihat pada wajahnya.

__ADS_1


Cups!


Seketika bola mata Zea melebar, karena ulah Sabian. Zea segera beranjak dari duduknya dan hendak pergi dari sana, tapi lagi-lagi Sabian mencegahnya.


" Itu adalah hukuman untukmu, sudah aku bilang. Tidak ada kata 'tuan' lagi, dan itu semua mulai berlaku pada hari ini. Apa perlu, kamarmu juga dipindahkan kekamarku?" Dengan menggenggam tangan Zea, Sabian ingin hubungan mereka semakin membaik dan erat.


" Ta tapi..."


Prok! Prok! Prok!


Suara tepukan tangan menggema dengan begitu kerasnya, melihat siapa pemiliknya. Dengan segera Zea menghempaskan genggaman tangan Sabian dari tangannya, memberikan jarak diantara mereka dengan bergerak menjauhinya.


" Ternyata, kalian sedang bermesraan ya. Wah, kedatanganku ini sangat tepat sekali bukan."


Plak!!


Tangan Vania dengan begitu cepatnya menampar pipi Zea, membuatnya meringgis dengan rasa sakit dari tamparan tersebut.


" Kau!" Sabian dengan cepat menghalau tubuh Zea menggunakan tubuhnya.


" Kenapa? Apa kau sekarang sudah mulai menyukainya? Heh! Bodoh." Vania menatap tajam pada Sabian dan juga Zea.


"Kau tidak berhak menamparnya, justru dirimu sendiri yang harus aku tampar. Kemana saja kau, hah? Tidak pulang dan menghambur-hamburkan uang, masih ingin pulang rupanua." Tak kalah dinginnya, Sabian tanpa sengaja sedang mengeluarkan semua kekesalannya.


" Aku adalah istri kamu, ya wajarlah aku menghambur-hamburkan uang kamu. Lagian aku juga kerja, menginap untuk beberapa hari bersama tim yang lainnya. tidak seperti istri tak dianggapmu ini!" Tatapan tajam itu semakin mengintimidasi orang yang menjadi sasarannya.

__ADS_1


" Istri! Apa tugas seorang istri hanya itu? Sayangnya kau tidak akan pernah sadar akan hal tersebut, sungguh membuatku menyesal telah menikahimu." Tidak ingin memperpanjang perdebatannya, Sabian meraih tangan Zea dan membawanya untuk pergi dari tempat itu.


" Tunggu Sabian, kau sediri yang bilang tidak akan menyukai wanita itu. Sabian, Sabian!!" Berteriak dan berteriak, itulah yang Vania lakukan saat mendapati Sabain lebih memilih Zea daripada dirinya.


Tanpa memperdulikan Vania yang masih mengomel tidak jelas, kini Sabian dan Zea sudah berada didalam mobil. Hari ini ia memang sengaja tidak melibatkan Arvin untuk menjemputnya, ia mengenderai sendiri.


" Kau sudah membuatku marah, Sabian. Akan aku buat kau jatuh miskin! Lihat saja nanti, dan kau wanita sialan. Hidupmu akan kubuat semakin hancur!" Lalu ia menuju kamar dimana ia dahulu bersama Sabian.


......................


Berjalan dengan sendiri-sendiri, ini adalah permintaan Zea kepada Sabian. Ia tidak ingin menimbulkan gosip baru pada perusahaannya, ia ingin berkerja dengan seperti yang lainnya.


" Tuan, ini yang harus anda tanda tangani." Memyerahkan beberapa berkas kepada Sabian yang sedang mengerjakan kerjaannya.


Tanpa menjawab dan merespon perkataan Zea, Sabian menatapnya dengan dingin. Memberikan kode dengan menggunakan jarinya, agar Zea mendekat. Hal itu membuat Zea mengkerutkan keningnya, lalu ia berjalan mengikuti arahan yang diberikan. Dan disaat jarak mereka sangat dekat, Sabian dengan cepat berdiri dan ...


Cups!


Lagi-lagi ia memberikan hukuman kepada Zea, namun tidak bagi Zea. Ia sangat marah dengan sikap Sabian seperti itu.


" Dasar pria mesum, ini bukan hukuman!" Wajah Zea begitu sangat prustasi, lalu ia segera berlalu dari hadapan Sabian untuk kembali ke meja kerjanya dengan berbagai umpatan untuk pria tersebut.


" Hahaha."


Tawa dengan begitu lepas yang Sabian keluarkan, memberikan aura positif jika dirinya begitu bahagia.

__ADS_1


__ADS_2