
Dengan pengawalan yang cukup lumayan, dan bisa dibilang aneh. Zea merasa seperti tawanan, yang kemana-kemana harus dengan pengawalan dan izin. Sesampainya mereka pada salah satu mall yang cukup besar di negaranya, Zea dan Lisa segera turun dari mobil dan berjalan menuju tempat yang menjadi tujuan utama mereka, yaitu swalayan. Keranjang yang mereka bawa, kini sudah hampir penuh dengan belanjaan.
" Bu, kita makan dulu ya. Soalnya perut sudah memberi kode, hehehe." Dengan lembutnya, Zea tersenyum kepada Lisa.
" Baik nona, bumil memang selalu lapar. " Mengetahui jika adik dari majikannya sedang hamil, Lisa turut memperhatikan keadaannya.
Memasuki sebuah lestoran yang menyiapkan berbagai hidangan, Zea dan Lisa segera memesan makanan yang mereka inginkan. Hingga tak butuh waktu lama, makanan tersebut telah tersaji dengan rapi diatas meja dihadapan mereka.
" Morgan, mari bergabung." Zea mengajak morgan untuk ikut serta menikmati makanan yang ada.
" Lebih baik, nona terlebih dahulu yang menikmatinya. Ibu hamil harus didahulukan." Morgan menolak ajaka tersebut, ia tahu jika ia menuruti ya. Maka, akan ada sanki yang harus ia terima dari bosnya. Bosnya semakin sensitif dengan sang adik, lebih baik tidak mencari api jika tidak mau terbakar.
" Hem, baiklah. Mari bu, kita makan."
" Baik nona."
Menikmati hidangan yang ada, membuat Zea begitu merasa bahagia. Dahulu, ia hanya bisa membeli makanan yang berada di warung-warung kecil. Untuk saat ini, setelah bertemu dengan sang kakak. Kehidupannya mulai mengalami perubahan, Zea pun bingung harus bahagia atau tidak. Dengan kehamilannya, ia tidak bisa merasakan perhatian dari suaminya. Bahkan, keberadaan sang bayi pun tidak diketahui oleh sang suami.
Setelah selesai, mereka pun beranjak dari lestoran tersebut. Disaat sedang berada di parkiran, sebuah tangan menarik lengan Zea dengan cukup kuat.
" Aakh!" Zea yang kaget dengan hal itu, sontak saja berteriak dan membuat kaget yang lainnya.
" Nona!" Lisa melihat seorang pria yang sedang mencengkram lengan Zea.
Morgan dengan sigap, menghalangi pria tersebut dari hadapan Zea. Dimana pria tersebut adalah Sabian, ia yang saat itu sedang menemui kliennya untuk menyelesaikan berbagai tudingan dan permasalahan pada perusahaannya di salah satu cafe di mall tersebut. Ia tidak sengaja melihat Zea dan segera menghampirinya.
" Tolong anda lepaskan tangan anda tuan!" Kalimat Morgan sangat penuh tekanan.
" Zea."
Kalimat itu seketika membuat Zea menjadi kaku, disaat ia pergi. Sabian mengalami amnesia dan tidak ingat akan dirinya, apalagi pernikahan mereka. Melihat wajah Zea yang berubah, Morgan segera menarik tangan Sabian dengan paksa. Melindungi Zea dibalik tubuhnya yang sedang ketakutan, Lisa segera memeluk Zea agar memberikan rasa nyaman dari ketakutannya.
__ADS_1
" Zea, jangan pergi lagi. Kembalilah, aku mohon."
Tidak ada tanggapan yang Zea berikan, ia hanya menatap Sabian dalam diamnya. Tak terasa, airmata mulai mengalir dari sudut matanya.
" Jika anda tidak bisa mengerti bahasa manusia, maka dengan..."
Brugh!
Morgan mendorong tubuh Sabian dari hadapannya dengan cukup keras, membuat Sabian terhempas mundur kebelakang.
" Sabian." Mulut Zea memanggil nama tersebut.
Dengan cepat, Sabian kembali berdiri dan menghampiri Zea. Walaupun Morgan masih menjadi benteng dari tubuh mereka berdua.
" Pergilah, jangan menyiksa dirimu sendiri." Ucapan Zea bermaksud agar Sabian tidak mencari masalah.
Disaat Zea bergerak, sorot mata Sabian menangkap sesuatu yang berbeda daru tubuh Zea.
Zea yang kaget langsung menutupi tubuhnya menggunakan Lisa, ia tidak ingin Sabian mengetahui kehamilannya dan berpikiran yang tidak-tidak.
" Zea! Jelaskan! " Suara Sabian semakin meninggi.
Zea yang semakin ketakutan, membuat tubuhnya bergetar. Morgan semakin kehilangan kesabarannya, tanpa ragu ia memberikan sebuah pukulan telak yang mengenai rahang Sabian. Hingga membuatnya kembali terhuyung mundur kebelakang, namun hal itu semakin membuat Zea ketakutan. Lisa pun mencoba untuk menenangkannya dan membawa tubuh Zea untuk menyingkir dari sana, saat hendak membuka pintu mobil.
" Masuk, dan pulanglah!"
" Ka kak." Kehadiran Osmond menjadi kekuatan bagi Zea, ia pun langsung memeluk tubuh sang kakak dan menanggis.
" Pulanglah." Membalas pelukan sang adik dengan sangat kaku, Osmond menjadi salah tingkah. Karena selama ini, ia begitu anti dengan makhluk Tuhan yang bernama perempuan.
" Emm." Zea menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Zea! Kau pasti hamil karena pria itu kan! Jawab aku Zea! Kau benar-benar penipu!!" Sabian yang hilang kendali, melihat sang istri memeluk pria dihadapannya. membuat ia murka dan melontarkan kalimat-kalimat yang cukup menyakitkan bagi Zea, apalagi pria tersebut adalah kliennya sendiri.
" Masuklah!" Kalimat Osmond semakin tinggi, membuat Zea semakin ketakutan.
" Kak,..."
" Pulanglah ZEA!!"
Amarah tampat terlihat jelas pada wajah Osmond, Zea pun mengikuti perkataan sang kakak dengan segera masuk kedalam mobil. Setelah mobil yang membawa Zea telah pergi, Osmond berjalan mendekati Sabian.
" Jangan pernah kau mendekatinya lagi, jika itu masih terjadi. Siapkan nyawamu untuk menjadi taruhannya!!"
Osmond mencengkram leher Sabian dengan sangat kuat, namun tidak ingin merasa kalah. Sabian kembali menyerang Osmond, terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Morgan yang saat itu hendak menemani tuannya, mendapat perintah langsung untuk membawa Zea pergi.
" Dia istriku! Kalian, kalian benar-benar munafik. Cuih!"
" Istri?? Wow, akhirnya. Kau mau mengakuinya sebagai istri, sungguh memalukan." Osmond berdiri dan membenarkan pakaian yang ia gunakan.
" Kalian benar-benar manusia bre***ek! Bermain dibelakangku, hingga dia hamil! Kau yang menghamilinya kan??! Bed***ah!!!"
Makian terus berlanjut kepada Osmond, namun ia hanya tersenyum sinis untuk menanggapi perkataan Sabian.
" Kau memang pantas mendapatkan ja***ng seperti dia, tapi sayang. Hahaha, aku sudah terlebih dahulu mencicipinya."
Mendengar ucapan Sabian, yang menghina sang adik yang begitu ia sayangi. Membuat darah Osmond seketika mendidih, amarah yang begitu besar menyelimuti dirinya.
Bugh!
Bugh!
Bagaikan tak terkendali, Osmond menyerang Sabian secara membabi buta. Tanpa memberikan celah sedikitpun untuk Sabian, dikala amarahnya meningkat dan membuat Sabian menjadi babak belur. Dengan nafas yang terengah-engah, Osmond menendang tubuh Sabian bagaikan sampah.
__ADS_1
" Suatu saat, kau akan mengetahui kebenarannya. Dan disaat itu, aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk mengapainya. Camkan itu!" Osmond berjalan meninggalkan Sabian yang tergeletak tak berdaya.