
Setelah melakukan hal yang tak pantas tersebut, wanita itu baru menyadari jika ia sedang diperhatikan oleh orang.
" Vania!" Teriak Sabian dengan begitu lantangnya, membuat wanita tersebut menjadi kaget.
" Sa sabian." Dengan nada bicara terbata-bata, Vania sangat kaget dengan kehadiran Sabian.
Raut muka Sabian begitu merah, menahan amarah. Apalagi ia harus menyaksikan adegan yang begitu menjijikan dengan matanya sendiri, hal itu semakin membuatnya marah.
Hadeh, ni bunglon nyari perkara. Dasar tidak punya harga diri banget ni perempuan, bodoh. Arvin.
Vania segera bersembunyi dibalik tubuh David, ia tidak ingin mendapatkan serangan dari Sabian. Dimana saat itu Arvin sedang menahan tangan Sabian, agar tidak membuat onar, apalagi dengan emosinya yang saat ini sedang tidak dalam keadaan yang baik.
" Jaga emosimu, percuma saja melawan mereka disaat seperti ini." Arvin berbisik disamping telinga Sabian.
" Maaf, kami telah membuat kekacauan di perusahaan anda. Kami permisi."
Dengan segera Arvin menarik tangan Sabian untuk pergi dari sana, bagaimana pun juga akan sia-sia bila ingin menghadapi mereka. Disaat mereka sudah berada didalam mobil, kembali Sabian meluapkan kekesalannya.
" Akh! Kesabaranku tidak akan bisa tertahankan jika berhadapan dengan wanita itu! "
" Sudahlah, lu harus bisa melawan emosi diri sendiri. Makanya, lain kali kalau dinasehatin itu di dengerin. Jangan bisanya emosian doang lu, nyesel kan lu sekarang. Makan tu love love love." Dengan nada menyindir, Arvin begitu puas melihat wajah Sabian yang begitu masam.
" Lama-lama, mulut lu kembaran sama Ammar Vin! Sama-sama menjengkelkan!"
__ADS_1
" Heh, walaupun kami menjengkelkan. Kau sendiri bisa membuktikan kalau kami adalah sahabat sejati didalam hidup lu, bukan seperti tu bunglon. Hahaha."
Plak!!!
" Iaak!! Sakit se***tan! Marah ya marah, tapi jangan kepala gue juga yang lu deplak." Arvin tidak terima jika kepalanya terkena pukulan.
" Diam! Gue pecat jugo lu!"
" What? Pecat! Nggak salah dengar ni telinga gue? Bukannya lu udah bangkrut ya, dasar tidak sadar diri!"
Sabian pun tersadar dengan adanya perkataan dari Arvin, menyadari jika dirinya saat ini sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Hal itu membuatnya terdiam, sampai akhirnya mereka tiba dirumah. Mereka berdua merebahkan dirinya diruang keluarga, sedikit melepas penat yang ada.
" Lebih baik, dari sekarang kita harus menyusun strategi untuk merebut kembali yang sudah diambil oleh mereka." Melonggarkan dasi yang ia gunakan, Arvin menyampaikan apa yang ada disalam pikirannya.
" Zea." Sebuah nama yang ia lontarkan dalam keadaan mata yang tertutup.
Pluk!
Sebuah bantal melayang dan tepat mengenai kepala Sabian, biasanya ia akan marah jika seseorang menjahili dirinya. Namu tidak untuk kali ini, ia hanya diam dan mengambil bantal tersebut.
" Zea." Kembali Sabian menyebutkan nama tersebut.
" Hei! What's wrong?" Arvin menegur Sabian yang terlihat seperti ling lung.
__ADS_1
" Akh! Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku sangat merindukannya."
" Oh, kirain ada apa. Jadi gimana, apa yang harus kira susun? Apa perlu dokter gila itu kita undang kemari, biar lu terhibur?"
" Kalian ini, bisa tidak seha..."
" SABIAN !!!"
Tidak dapat meneruskan perkataannya, Sabian menjadi kaget dengan suara yang begitu keras memanggil namanya. Terlihat dari pintu utama, wanita paruh baya yang dengan terburu-buru memasuki rumah tersebut dan disusul juga oleh pria yang cukup berwibawa menghampiri Sabian. Dan mereka tak lain adalah orang tua dari Sabian, Reza dan Vita.
" Kamu ini, selalu saja membuat masalah yang tidak ada hentinya! Kemana wanita yang selalu saja kamu puja-puja itu, hah? Mama sudah sangat geram dengan wanita ular itu! Dimana dia?" Vita yang sudah sangat emosi, menarik daun telinga Sabian dengan cukup kuat.
" Aargh! Ma sakit, sakit. Lepasin dulu ma, nanti telinga Bian putus!" Menahan telinganya dari tarikan yang Vita lakukan, membuat Sabian terlihat seperti anak kecil yang bandel sedang menerima hukuman.
" Kamu itu ya, selalu saja membuat ulah. Mulai saat ini, mama nggak mau lagi dengar ataupun melihat kamu dengan wanita ular itu! Awas saja." Melepaskan telinga anaknya yang sudah begitu merah.
Menggosok-gosok telinganya yang terasa sangat panas dan nyeri, Sabian mengerutu dengan perlakuan mamanya yang sangat kekanak-kanakan baginya.
" Mmpphh, hahaha." Arvin tidak bisa lagi untuk menahan tawanya.
" Puas kau ya." Sabian pun tak terima ditertawakan oleh sahabatnya, ia lalu mengejarnya dengan sekuat tenaga. Namun ia tidak bis menangkap Arvin, karena ada pawangnya.
" Berhenti! Kalian berdua duduk!" Suara Reza terdengar sangat tegas, membuat kedua pria yang dimaksud menjadi menurut.
__ADS_1