Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 34


__ADS_3

Setelah keadaan tubuhnya pulih dan diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit, Zea memutuskan untuk ikut tinggal bersama sang kakak. Walaupun hatinya belum sepenuhnya percaya dan menerima kehadiran Osmond dalam kehidupannya, namun hati kecilnya harus belajar menerima dan memahami, jika ini adalah jalan hidupnya.


" Sudah siap?"


Dengan anggukan kepalanya, Zea menjawab pertanyaan dari Osmond untuk dirinya. Kenzie pun dan beberapa anggotnya telah siap dengan membawa perlengkapan milik Zea.


Kenapa, Selalu ada orang-orang berpakain serba hitam yang selalu menemani mereka? Apa sebenarnya pekerjaan dari mereka ini? Dan, kejadian penembakan itu. Apa ada keterkaitannya? Zea.


Mereka berjalan meninggalkan ruang perawatan untuk menuju lobby, karena kendaraan yang akan mereka gunakan sudah menunggu disana. Tapi, disaat bersamaan.


" Tuan Osmond!" Sapa Arvin yang begitu kaget melihat kliennya tersebut sedang bersama Zea, sedangkan mata tajamnya tertuju pada Zea.


" Kak arvin."


" Kakak?" Ujar Osmond yang menatap Zea dengan penuh tanda tanya.


" Dia adalah seorang kakak yang selalu membantuku." Zea memberikan senyum manis untuk mereka.


" Apa kabar, tuan Osmond. Senang bertemu anda kembali." Sabian pun akhirnya menyapa mereka, ia pun menatap Zea dengan begitu lekat.


" Hem. Silahkan lanjutkan kegiatan anda, kami permisi." Osmond menggenggam tangan Zea, yang terasa begitu sangat dingin.


Jika dibiarkan terlalu lama, Osmond tidak ingin membuat Zea semakin terluka. Dengan keadaan Sabian yang masih mengalami amnesia, membuat mereka harus rela untuk saling melupakan.

__ADS_1


" Tunggu!"


Tiba-tiba saja Sabian menghentikan langkah kaki mereka, hal itu membuat Arvin merasa heran.


" Bukankah, wanita ini sebelumnya adalah adiknya Arvin? Apa aku salah?" Perkataan Sabian membuat Osmond menjadi merasa tersingung.


" Anda bisa mendapatkan penjelasan itu darinya!" Suara gigi yang beradu, menjelaskan jika Osmond saat itu sedang marah.


Sabian menahan lengan Zea, mencengkramnya sehingga membuatnya meringgis. Hal itu memancing amarah Osmond hingga menjadi tak terkendali.


" Akh!" Rintih Zea atas cengkraman tangan Sabian.


Bugh!


Bugh!


" Jangan pernah kau menyentuh adikku!" Begitu emosinya, Osmond mengerang kepada Sabian.


Mengatur nafasnya yang seperti diburu, betapa marahnya Osmond saat melihat pria yang sudah menghancurkan hidup sang adik. Bahkan, saat ini ia dicampakkan bagai sampah. Kakak mana yang tidak marah, mengetahui kehidupan adiknya begitu tragis.


" Maafkan kami, tuan." Arvin menyingkirkan tubuh bosnya, agar tidak terlalu berdekatan dengan kliennya tersebut.


" Aku seperti mengenalnya, Vin. Wanita itu..."

__ADS_1


Seperti mengenalnya? Ya kenal lah, itu istri lu Sabian. Ya Tuhan, kenapa aku jadi terjebak dalam situasi seperti ini. Arvin.


Memastikan keadaan sang adik baik-baik saja, Osmond segera berlalu dari sana. Membawa Zea menjauh dari orang tersebut, adalah keputusan yang terbaik. Dengan perasaan hancur, Zea pun mengikuti langkah sang kakak membawanya. Selama di perjalanan, tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara mereka. Dan ketika mereka telah tiba dirumah milik sang kakak, Zea sama saja seperti patung yang berjalan. Osmond hanya bisa menghembuskan nafasnya yang sangat berat, dengan sangat kuat. Memberikan perintah kepada para asisten rumahnya, agar menyiapkan kamar untuk Zea.


" Tidak usah terlalu dipikirkan, biarkan saja dia seperti itu." Menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat sejenak, pada sofa yang berada diruang tersebut.


" Tapi kak..." Air mata mengalir dari sudut mata Zea.


" Dia memang suamimu, tapi tidak untuk saat ini. Bahkan dirinya sendiri tidak dia ingat, Zea! Berhenti menyiksa dirimu sendiri seperti ini!!"


" Kau sedang mengandung, pikiran anakmu. Jika kau masih terus menyiksa dirimu seperti ini, akan kakak pastikan pria itu lenyap dari bumi ini!"



Osmond sudah begitu marah akan apa yang dialami Zea, ia merasa jika sang adik tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini. Menatap wajah sang adik dengan sangat tajam, perasaan bersalah didalam dirinya semakin besar.


" Beristirahatlah, pikirkan kesehatan kalian. Lisa! Hantarkan Zea kekamarnya."


Seorang perempuan dewasa dengan bergegas berjalan mendekati Zea, dia adalah kepala asistesten rumah tangga disana.


" Baik tuan. Nona, mari saya tunjukkan kamarnya. Lebih baik, nona beristirahat dahulu." Mengandeng tangan Zea, Lisa menuntuntunya untuk memasuki kamar yang sudah dipersiapkan.


" Kak."

__ADS_1


" Beristirahatlah."


Zea pun menuruti apa yang telah dikatakan oleh Osmond kepadanya.


__ADS_2