
" Selamat datang." Ujar wanita tersebut.
Suara yang begitu sangat mereka kenali, disaat melihat wajah dari orang tersebut. Sabian dan Zea sangat kaget, dan mereka seakan tidak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan.
" Kenapa, kaget?" Wanita tersebut adalah Vania.
" Sabian Sabian, kamu masih tetap bo***oh. Sangat mudah sekali untuk membawa kalian, bahkan tanpa perlawanan sedikitpun. Hahaha." Vania merasa dirinya sudah sangat menang dengan membawa mangsanya.
Masih berusaha untuk tenang, Sabian terus memberikan pengertian kepada Zea untuk tetap tenang. Walaupun kondisi mereka berdua dalam keadaan tangan terikat pada kursi yangbmereka duduki, air mata Zea sudah mengembun pada sudut matanya.
" Rupanya, kau sedang hamil ya. Wow, kejutan yang sangat besar." Vania mulai mendekati Zea.
" Jangan coba-coba untuk menyentuhnya!" Tegas Sabian atas sikap Vania yang telah membuat Zea takut.
" Wah, rupanya ada pahlawan kesiangan. Dulu wanita ini begitu sangat tidak kau sukai, tapi lihat sekarang. Kau sepertinya sudah sangat mencintainya." Gertak Vania yang mulai menyentuh wajah Zea.
Menghembuskan nafasnya dengan sangat kuat, Sabian melihat adanya pergerakan yang mencurigakan dari beberapa orang suruhan Vania. Dari balik topi hitamnya, orang tersebut melirik Sabian. Seakan-akan memberikan tanda padanya, hal itu membuat Sabian menjadi tenang. Orang tersebut adalah pengawal yang ditugaskan oleh Osmond untuk menjaga adiknya, mereka sengaja mengulur waktu sampai bantuan dari pasukan lainnya tiba.
" Kau harus merelakan wanita ini dan anak kalian, untuk aku lenyapkan. Jika aku tidak bisa menjadi milikmu, maka tidak ada seorang pun yang pantas untuk menggantikan posisiku! Kau harus lenyap ditanganku, Zea!"
Kemarahan pada diri Vania begitu besar, apalagi kini ia telah menjadi manusia yang paling hina dan juga tidak memiliki kekayaan apapun setelah David mencampakkannya begitu saja. Dari tangan Vania, terlihat ia memegang senjata tajam yang ia sembunyikan dibalik tubuhnya.
__ADS_1
" Matilah kau!" Vania menyerang Zea dengan begitu murka.
Begitu sigapnya, Sabian menggerakan tubuhnya untuk melindungi istri dan calon anaknya. Dengan menjadika dirinya sebagai tameng perlindungan, senjata tajam yang Vania lanyangkan pada Zea. Kini benda itu mendarat pada lengan Sabian, merobek pakaian yang ia gunakan.
" Aaaa ." Zea berteriak begitu keras.
" Cepat habisi mereka, jangan sampai mereka lepas." Teriak Vania kepada suruhannya, agar mereka segera menghabisi kedua tawanannya.
Pada saatnya tiba, seluruh orang-orang tersebut tidak melakukan pergerakan sedikitpun. Hal itu membuat Vania menjadi bingung, padahal orang-orangnya masih berdiri dengan tegap disekitarnya. Disaat mereka akan menyerang, maka saat itu juga tubuh mereka mendapatkan penekanan dari sebuah senjata dari balik tubuhnya. Jika mereka tetap bergerak, maka bersiaplah untuk kehilangan nyawa detik itu juga.
" Kenapa kalian pada diam, ayo serang mereka!" Vania kembali berteriak dengan begitu lantangnya, namun tetap tidak ada pergerakan dari orang suruhannya. Keadaan tersebut semakin membuat Vania bingung.
Suara tepukan tangan menggema didalam ruangan itu, seseorang muncul dari balik tubuh orang suruhannya.
" Hebat sekali permainanmu, nona Vania." Osmond yang baru saja muncul dihadapan Vania, seketika membuat Vania menjadi sangat tercengang.
" ka kau!" Mulut Vania membeo, melihat keberadaan Osmond disana.
Tanpa Vania sadari, tubuh Zea dan Sabian telah diselamatkan oleh orang dari pihak Osmond. Mereka pun segera dilarikan oleh Kenzie ke tempat yang cukup aman, apalagi keadaan Zea yang mengalami kram pada perutnya.
" Kenapa? Kau kaget dengan kedatanganku?" Osmond berjalan semakin mendekati tubuh Vania yang bergetar.
__ADS_1
" Jangan mendekat, jangan mendekatiku!"
" Aku tidak akan pernah menyakiti siapa pun, terutama dengan kaum wanita. Tapi, itu hanya berlaku untuk orang lain. Tidak berlaku pada wanita gila sepertimu!" Semakin dekata jarak mereka berdua, tanpa ragu. Osmond mulai memberikan hadiah kecil untuk Vania, dengan satu kali hentakan dari kakinya. Membuat tubuh Vania terpental dan ambruk.
" Aaakrh!" Erang Vania dengan tubuh yang mendarat pada lantai, mengeliat menahan rasa sakit pada tubuhnya.
" Jangan pernah, tangan kotormu ini menyentuh tubuh adikku! Kau pantas untuk mendapatkannya."
Tangan kekar itu menarik rambut panjang Vania dengan mudahnya, tanpa belas kasih. Melemparkannya pada tumpukkan kayu-kayu yang berada didalam ruangan, hingga kayu tersebut berhamburan. Mengeluarkan sesuati dari balik saku celananya, lalu ia arahakan pada wanita yang sedang menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. Sebuah pistol kecil yang ia miliki, dan kini siap memuntahkan isi pelurunya. Saat menarik pelatuknya, maka saat itu juga telingga Osmond terkena tarikan dari sebuah tangan mungil.
" Yiak!"
" Berhenti bermain-main pada senjata, lebih baik kita menyusul Zea. Aku tidak suka tanganmu menghabisi wanita biadab seperti dia, nanti tanganmu ini terlena virus jahatnya." Clara yang muncul secara tiba-tiba, segera mencegah Osmond untuk melakukan hal yang lebih extream.
" Sweety!" Osmond begitu kaget dengan kehadiran Clara disana dan menariknya untuk segera menjauh dari kerumunan.
" Sweety sweety, hampir saja kau membunuhnya. " Clara semakin menguatkan tarikan tangannya pada telingga Osmond.
" Iyak, lepaskan dulu tangannya. Telinggaku bisa putus kalau begini."
Clara seakan menutup telingganya dari teriakan Osmond kepadanya, sebelum meninggalkan tempat itu. Osmond memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk membereskan keberadaan Vania dan juga ornag suruhannya.
__ADS_1