Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 33


__ADS_3

Kegiatan keseharian Sabian kembali seperti sediakala, dimana ia masih mengingat jika Vania adalah pacarnya. Hal itu sangat dimanfaatkan oleh Vania, berbagai usaha dirinya lakukan untuk kembali menjerat Sabian.


" Vin, keruanganku sekarang."


Seperti biasa, Arvin memasuki ruang kerja Sabian tanpa mengetuk pintu dahulu. Namun itu tidak berlaku, jika ada klien atau tamu istimewa yang datang.


" Ada apa?" Dengan santainya, ia berjalan menghampiri bosnya.


" Kenapa ada meja disana, kau yang menaruhnya? Singkirkan saja, membuat ruanganku menjadi sempit."


" Suruh saja OB yang melakukannya, kenapa juga harus aku." Begitu ketusnya, nada bicara Arvin.


Salah satu alis Sabian menjadi naik ke atas, ia menatap wajah Arvin dengan begitu tajam. Merasa heran dengan sikap sang sekretaris kepercayaannya, tidak seperti biasanya.


" Hei! Ada apa denganmu? Sungguh menyebalkan dengan sikapmu itu, biasanya kau akan langsung mengerjakan apa yang aku perintahkan. " Sebuah pena yang sedang berada pada tangannya, dengan cepat melesat mengarah kepada Arvin saat itu.


Tak!


" Pandangi saja meja itu, kau akan bernostalgia dengan melihatnya setiap saat." Merasa tidak ada yang begitu penting untuk dibahas, Arvin pun melangkah untuk meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Namun, baru saja beberapa langkah ia akan menyentuh pintu ruangan itu.


" Love! Sayang!"


Suara yang begitu khas dengan nada seperti disengaja, menampakkan wajah seorang wanita yang tidak ia sukai. Arvin segera membuang pandangannya dan menyingkirkan tubuhnya agar tidak bersentuhan dan berubah warna seperti bunglon. Lalu ia berhenti sejenak, melihat kepada pasangan yang menurutnya aneh.


" Heh! Kalian memang benar-benar pasangan yang begitu membuatku jijik, apalagi wanitanya seperti ini. Dasar bunglon dan pangeran kodok." Senyuman Arvin begitu membuat Vania menjadi merinding, ada aura yang mencekam disana.



Berjalan meninggalkan kedua pasangan yang aneh itu, benar-benar membuatnya sakit kepala. Entah sampai kapan ia harus menghadapi hal-hal seperti ini, kebodohan Sabian telah membuatnya ikut terjerumus ke dalam masalah besar. Apalagi ditambah amnesia yang dia alami, membuat Vania dengan leluasanya memanfaatkannya.


Melihat kepergian Arvin, semakin besar pertanyaan dalam diri Sabian. Ia merasakan keanehan dalam hidupnya, dan juga seakan-akan seperti ada bagian yang hilang dari jiwa dan hidupnya.


" Stop Vania, ini kantor. Jaga sikapmu." Perkataan Sabian memiliki penekanan, tangan kekar itu pula menepis tangan Vania yang mulai menyentuh wajahnya.


Kening Vania pun berkerut, ia begitu kaget dengan perubahan sikap Sabian kepadanya. Yang biasanya ia akan menuruti semua perkataan dirinya, namun kali ini. Ini sangat berlawanan dari biasanya, sungguh mengagetkan.


" Kau benar-benar sudah berubah, Sabian!" Dengan menghentakkan kakinya, Vania memasang wajah yang cemberut dan ia pun pergi meninggalkan Sabian.

__ADS_1


Tidak ada pencegahan yang dilakukan oleh Sabian, ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Memijit keningnya yang berdenyut, pikirannya sudah tidak bisa diajak berkompromi lagi. Menatap meja yang ia tanyakan kepada Arvin sebelumnya, seperti ada sesuatu yang pernah terjadi. Ia pun mencoba-coba untuk mengingatnya, namun rasa sakit yang timbul pada kepalanya sebagai akibat dari usahanya untuk memikirkannya.


" Akh! Ke kenapa kepalaku sakit seperti ini. Akh!" Berusaha menenangkan dirinya, namun ternyata itu tidak bisa ia atasi.


Dengan perlahan, tangan Sabian menekan tombol yang menghubungkan ruangannya dengan Arvin.


" Vin, Ar vin!"


Yang semulanya, mengetahui tanda intercom itu menyala, Arvin masa bodo'. Dan terdengar suara sayup-sayup seperti orang yanh sedang kesakitan, tersadar dari hal tersebut. Arvin bergegas menuju ruangan Bosnya, dengan berlarian agar ia dapat segera sampai disana.


Brak!!!


" Sabian!"


" Akh!"


Arvin menahan tangan Sabian, yang sedang menarik rambutnya dengam begitu kuat. Terlihat sangat, jika Ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Mencari dan mendapatkan obat yang biasa dikonsumsi oleh Sabian, segera Arvin berikan. Setelah beberapa saat, semuanya kembali tenang.


" Jangan terlalu memaksakan untuk mengingatnya, itu akan membuatmu sakit."

__ADS_1


" Aku merasa terjebak dalam keadaan ini, seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diriku." Memijat kening kepala menggunakan tangannya, Sabian memejamkan matanya.


Ya ilang lah, bini lu yang ilang s***tan! Arvin.


__ADS_2