Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 18


__ADS_3

Sejak mengetahui dirinya sedang mengandung, Zea selalu memperhatikan semua kegiatannya dan juga asupan makanan yang ada. Walaupun hanya dirinya dan juga Maryam yang mengetahui hal tersebut.


" Hufh! Ternyata begini rasanya bekerja dengan keadaan sedang mengandung, cukup lumayan dan menyenangkan." Menatap setiap lembaran kertas dihadapannya, tidak menyurutkan semangat Zea untuk bekerja.


Meletakkan cemilan di atas mejanya, Zea mulai memfokuskan dirinya untuk bekerja. Karena terlalu fokus, membuat Zea tidak menyadari kehadiran Sabian yang baru saja tiba. Melihat Zea yang mengacuhkannya, kemudia ia melangkah mendekati wanita itu dan berdiri dibelakangnya. Tercium aroma yang begitu menyejukkan dan menenangkan, lemon.


" Sepertinya, kamu terlalu sibuk." Suara Sabian terdengar sangat jelas dari arah belakang telingga Zea, sontak saja hal itu membuat Zea menolehkan kepalanya.


Cup!


Tanpa disengaja, hal itu membuat bibir Zea bersentuhan dengan pipi Sabian. Bagaikan tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, membuat Zea menjadi begitu kagetnya. Dengan kejadian itu, senyuman manis terlihat pada wajah Sabian.


" Aa... Maaf tu tuan, sa ya tidak tau jika ada anda disana." Zea segera beranjak dari duduknya, hingga membuat jarak yang cukup jauh diantara mereka berdua.


" Kenapa harus meminta maaf, aku dengan senang hati memberikannya. Apa kau mau lagi?" Berjalan mendekati Zea, Sabian semakin memojokkan tubuh Zea yang akhirnya terhimpit diantara tubuh Sabian dan dinding yang ada.


" Tu tu an an da mau apa?" Dengan posisi mereka saat itu, membuat Zea semakin merasa ketakutan.


" Mau apa? Tentunya, menginginkan apa yang semestinya yang dilakukan oleh sepasang suami istri. Kenapa harus takut, bukannya kita sudah pernah melakukannya." Tangan kekar itu mulai menyapa wajah Zea dengan sangat lembut, pikiran Sabian sudah begitu lelah menahan egonya selama ini.


Klek!!!


(Suara pintu terbuka)


" Ops! Salah ruangan, lanjutkan!" Arvin yang saat itu ingin mengantarkan beberapa berkas untuk ditandatangani oleh bosnya, dengan terbiasa membuka pintu tanpa mengetuk. Memberikannya sebuah kejutan yang begitu sangat menegangkan dan membuat mata menjadi sakit, apalagi untuk para jomlo.


Dasar s**tan, kunci dulu kek tu pintu. Mana main nyosor-nyosoran, aih. Jiwa jombloku memberontak! Eh, tunggu... Jangan-jangan, mereka sudah... Ah, syukurlah kalau begitu. Arvin.


Pintu tersebut kembali tertutup, betapa malunya Zea saat Arvin melihat posisinya saat itu bersama Sabian. Tiba-tiba saja, tubuh Sabian bersandar pada dinding dan luruh jatuh kebawah. Memegang kepalanya dengan kedua buah tangannya, lalu terdengarlah suara isakan dari sana.


Membuat Zea semakin bingung dengan keadaan itu, apalagi melihat Sabian yang begitu rapuhnya. Ada perasaan was-was dalam diri Zea, namun hati kecilnya tidak dapat membiarkannya.

__ADS_1


" Tu tuan, anda tidak apa-apa?"


Tidak ada jawaban dari Sabian, ia masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu ia berdiri dan memeluk Zea dengan sangat erat, mendapatkan hal tersebut membuat Zea sangat tidak siap. Ingin rasanya ia memberontak, tapi. Ada perasaan hangat dan nyaman dalam pelukan itu.


" Maaf, maaf atas semua perbuatanku padamu. " Ucapan tersebut terdengar begitu tulus ditelingga Zea.


Dirinya juga tidak dapat memungkiri, jika ia sangat menantikan moment tersebut yang membuatnya merasa nyaman dan mendapatkan perhatian. Zea akhirnya membalas pelukan Sabian, dengan ikut melingkari tangannya.


" Bisakah kita memulainya dari awal lagi, Zea? A a ku sangat menyesali semuanya." Suara yang tulus itu, terucap dari seorang Sabian yang notabennya seperti batu yang kokoh.


" E e.." Zea seperti terperangkap dalam situasi tersebut.


" Tak perlu menjawabnya sekarang, aku tau kau masih belum mempercayaiku. A aku benar-benar meminta maaf padamu, aku baru sadar akan kebodohanku selama ini."


Berusaha dengan begitu kuatnya, Sabian ingin mengembalikan kepercayaan Zea padanya.


" Maaf tu tuan, bisakah kita berbicara dengan keadaan yang tidak seperti ini. A aku susah bernafas." Karena pelukan Sabian begitu eratnya, hingga Zea merasa sedikit sesak.


Menyadari hal itu, Sabian segera melepas pelukannya dari tubuh Zea. Menggenggam tangannya dan mengajaknya untuk duduk bersama, sungguh Zea merasa sangat kaget dengan perubahan Sabian.


Perubahan sikap yang diberikan oleh Vania kepada Sabian, dari hari ke hari semakin berubah. Merasakan keanehan dan kejanggalan demi kejanggalan dalam hubungan mereka, membuat Sabian akhirnya menyewa beberapa penyidik untuk mengikuti kegiatan Vania.


Merenungi hal tersebut, pikiran Sabian terbayang akan sosok Zea yang selalu menghiasi pikirannya. Timbul sedikit rasa bersalah dalam dirinya, menyianyiakan wanita yang ia nikahi secara sah. Walaupun hal tersebut merupakan paksaan dari kedua orangtuanya, wanita yang tidak pernah mengeluh. Bahkan disaat ia mengacuhkan dirinya, dia tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Hanya saja, keegoisan Sabian yang terlalu tinggi untuk digapai. Membuat semuanya seperti tiada artinya, ia buta akan rasa cintanya pada Vania.


Disaat dalam perjalanan menuju perusahaannya, sebuah panggilan dari orang yang ia bayar untuk mengikuti Vania.


" Tuan, saya sudah mendapatkan informasi mengenai wanita itu. Saya akan mengirimkannya pada anda!"


" Hem."


Ketika panggilan itu berakhir, notifikasi email masuk. Dengan begitu tidak sabarnya, Sabian segera membukanya. Melihat beberapa foto disana dan juga beberapa informasi lainnya, membuat aliran darahnya seakan-akan ingin meledak.

__ADS_1


" Dasar wanita s***an, bang***at!"


Teriakan itu membuat Arvin terkejut dan menghentikan laju mobilnya seketika, melihat wajah bosnya dari kaca spion.


" Ada apa?"


" Wanita itu sudah mempermainkanku! Sial!" Erangnya dengan mengepalkan tangan yang masih menggenggam ponsel.


" Siapa?"


" Pantas saja, selama ini dia tidak pernah mau aku sentuh. Rupanya dia sudah bermain dengan laki-laki lain! Argh!!"


" Si bunglon?! " Arvin menyakinkan perkiraannya.


" Siapa lagi kalau bukan dia, Vania sialan!! Lihat saja, akan kubuat perhitungan dengannya. Antarkan aku menuju lokasi pemotretannya, akan aku hancurnya hidupnya saat ini juga!"


" Boleh kasih saran?"


" Hem, katakan!"


" ..... "


Mendapat saran yang Arvin berikan, Akhirnya Sabian mengikutinya. Tidak ada salahnya memberikan pelajaran dengan seseorang yang memang harus mendapatkannya.


" Satu lagi."


" Apa?!"


" Perbaiki hubungan dengan Zea, kau sudah mendapatkan jawabannya kan?! Jika tidak mau ya sudah."


" Hem." Hanya itu yang Sabian katakan, setelah beberapa lama terdiam.

__ADS_1


Dasar S***tan! Orang nanya panjang, jawabnya cuma hem, hem, hem. Gue doain lu bakalan cinta mati sama Zea, biar mampus tu bunglon. Arvin.


Flashback Off


__ADS_2