Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 35


__ADS_3

Memasuki kamar yang diperuntukkan untuknya, Zea benar-benar takjub melihat berbagai ornamen dan barang-barang yang berada didalamnya.


" Silahkan beristirahat nona, jika memerlukan sesuatu. Anda bisa memanggil saya, nona."


" Ee, iya bu. Terima kasih."


" Baik nona, saya permisi."


Pintu kamar telah tertutup, perlahan Zea merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang bisa dikategorikan sangat mewah baginya. Perlahan ingatannya kembali lagi terbayang-bayang akan wajah suaminya, airmata pun mengalir.


Seandainya kesalahan itu tidak terjadi, rasa sakit ini tentu tidak akan aku rasakan. Mengapa perjalanan hidupku seperti ini, apakah aku harus bersyukur atau sebaliknya? Zea.


Mencoba untuk menenangkan diri, dengan perlahan Zea melepaskan seluruh penat yang ada. Mata itu kini ia pejamkan, berusaha agar menyatu dengan alam mimpi yang pada akhirnya terwujudkan. Kini di ruang kerjanya. Sang kakak telah menghubungi seseorang yang mendapatkan tugas untuk melakukan suatu pekerjaan darinya.


" Lakukan seperti yang sudah aku katakan, jangan sampai kalian meninggalkan jejak sedikit pun." Pembicaraan melalui ponsel itu tak berlangsung lama.


" Tuan, ini yang anda inginkan." Kenzie yang baru saja tiba, memberikan sebuah berkas kepada bosnya.


Menerima berkas tersebut dan membukanya, terdapat beberapa helai kertas dan juga sebuah flashdisk disana. Mata itu berubah seketika menjadi sangat tajam, disaat melihat apa yang tertera pada kertas tersebut.


" Kau tau apa yang harus dilakukan! Jangan sampai Zea mengetahuinya." Berkas tersebut dilemparkannya begitu saja di atas meja, dan ia menancapkan flashdisk tersebut pada benda pipih berlayar datar.

__ADS_1


Dari layar tersebut, menampilkan beberapa tayangan video tentang aksi suatu kelompok. Mereka melakukan transaksi ilegal dengan jumlah yang sangat banyak, bahkan merek mengatasnamakan diring untuk melancarak kegiatan tersebut. Kepalan tangan Osmond menguat, terlihat sangat jelas jika saat itu ia sedang marah.


" Bre****ek!! Jangan biarkan mereka lolos, kau atur itu semuanya!"


" Baik tuan, segera saya laksanakan."


Kenzie pamit dari hadapan tuannya, ia tau jika tuannya saat ini sedang dalam suasana yang tidak baik. Apalagi, ia harus menjaga sang adik yang baru saja ia temukan.


......................


Beberapa hari setelah aksi saling pukul diantara Osmond dan Sabian, pikirannya selalu saja tertuju kepada wanita tersebut.


" Kenapa saat itu, Arvin mengakui dia sebagai adiknya. Dan disaat aku bertemunya kembali, ada seseorang pria yang mengakuinya sebagai adiknya lagi. Membingungkan."


" Tuan, klien kita sudah sampai." Suara Arvin membuyarkan lamunan Sabian.


" Ah, persilahkan mereka dan langsung saja mulai pembahasan."


Arvin mengangguk, klien mereka dipersilahkan untuk bergabung dan mereka segera melakukan kontrak kerjasama yang akan dijalani. Pertemuan berjalan dengan lancar, sedikit berbincang-bincang dan klien pun undur diri.


" Sepertinya aku perlu waktu untuk menenangkan diri sejenak, kau atur jadwalku untuk itu." Dengan memijit keningnya, Sabian memberikan Arvin pekerjaan lagi.

__ADS_1


" Kemana? Akhirat?" Dengan penuh candaan, Arvin mengejek bosnya.


" Sialan kau!" Lemparan sendok melayang dihadapan Arvin.


" Wow! Sendok terbang. Baiklah, akan aku atur. Aku mau berkeliling sebentar, ada pameran mobil di luar. "


Berfikir sejenak, Sabian merasa dirinya juga membutuhkan waktu untuk santai dari aktivitas pekerjaannya.


" Aku ikut." Sabian langsung berdiri dan berjalan didepan Arvin.


" Dasar bos se***an, selalu saja sesuka hatinya. Untung saja kau adalah bos, jika tidak. Sudah lama aku kirim ke negeri antah berantah, cocok sama si bunglon. "


" Aku mendengarmu, Arvin!" Sabian terus berjalan, tanpa membalikkan tubuhnya.


Memutar bola matanya dengan sangat malas, Arvin akhirnya mengikuti langkah kaki Sabian yang sudah terlebih dahulu mendahuluinya. Pameran yang dimaksud adalah pemeran daripada mobil-mobil mewah terbaru, memperlihatkan desain-desain yang sangat elegan. Tentunya, harganya pun terbilang dangat luar biasa.


Disaat yang bersamaan, ketika mereka berhenti untuk melihat salah satu mobil yang cukup menarik perhatiannya. Kedatangan dari pemilik perusahaan yang cukup terkenal tersebut, membuat pihak penyelenggara pamaren menjamu Sabian dan Arvin sebagai tamu istimewa. Tanpa disengaja, mata Sabian melihat salah satu dari pengunjung yang ikut melihat mobil tersebut.


Langkah kaki membawa dirinya untuk berjalan mendekati orang tersebut, takdir membawa mereka untuk bertemu kembali.


Cukup lama mereka saling manatap satu sama lain, dan kepergian Sabian membuat Arvin mencari sosok tersebut. Ketika mendapatkan apa yang ia cari, Arvin begitu kaget dengan apa yang ia lihat.

__ADS_1


" Zea." Mulut Arvin tanpa sadar dan seketika menyebutkan namanya.



__ADS_2