Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 42


__ADS_3

Selama diperjalanan, Zea selalu mengkhawatirkan kedua orang yang ia sayangi.


" Anda tidak perlu mengkhawatirkan keadaan disana, nona. Tuan Osmond tidak akan menghabisi orang tersebut, mungkin hanya sekadar memberikan peringatan." Morgan berbicara sambil menjalankan kemudi mobil, ia melihat ada sesuatu kekhawatiran pada diri nonanya.


" Benar nona, tuan Osmond tidak akan berbuat sesuatu yang kejam jika tidak ada penyebabnya. Nona yang tenang ya, nanti bayinya akan ikut sedih." Lisa menggenggam tangan Zea yang terus ia remas.


Mencoba menenangkan diri dan pikirannya, Zea mencerna semua perkataan demi perkataan yang ia dengar.


" Tunggu, maksud perkataan kalian itu apa? Sebenarnya, pekerjaan kak Osmod itu seperti apa? "


Morgan dan Lisa menjadi terperanggah dan terdiam setelah mendengar perkataan Zea, mereka terjebak dalam situasi yang ada. Pada awalnya, mereka hanya ingin memberikan ketenangan untuk Zea. Tapi saat ini, Zea sudah mulai mencurigai adanya kejanggalan dalam kehidupannya.


" Kenapa kalian tidak menjawabnya?" Perasaan Zea semakin yakin, jika ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari dirinya.


Sedangkan Morgan dan Lisa, mereka menjadi kebingungan dengan hal tersebut. Keterdiaman itu berlanjut tetap terjadi, hingga mobil yang dikemudikan oleh Morgan memasuki perkarangan rumah. Zea pun begelut dengan rasa penasaran yang ada pada dirinya, dan pada akhirnya ia harus mencari sendiri jawaban atas kecurigaan yang ada.


" Hallo tuan, nona Zea sedang mencurigai pekerjaan anda."


Melihat Zea yang sudah memasuki rumah, Morgan segera menguhungi Osmond.


" Hallo tuan. Sepertinya, nona Zea sedang mencurigai pekerjaan anda." Morgan menjelaskan tentang apa yang terjadi, dan mereka pun segera mencari soluai untuk hal tersebut.


......................


Tubuhnya merasakan sakit, setelah mendapatkan hantaman dari rivalnya. Sabian kembali kerumahnya dalam keadaan babak belur, hal itu membuat Maryam menjadi terkejut. Disaat yang bersamaan, Arvin yang baru saja tiba dari perusahaan, juga merasa kaget dengan melihat keadaan Sabian.


" Lu pakek make-up?" Arvin bertanya, sembari meneguk air yang baru saja ia ambil dari dapur.

__ADS_1


Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Sabian, ia masih menempelkan ice bag pada wajahnya yang terlihat memar. Dengan santai dan sengaka, Arvin menyenggol memar tersebut.


" Akh! kau ini, sakit." Sabian mengumpat Arvin dengan penuh emosi.


" Salah sendiri, ditanya tapi nggak dijawab. Kenapa?"


" Aku bertemu Zea."


Ekpresi wajah Arvin seketika menjadi datar, berbagai dugaan yang ada kepalanya dengan melihat kondisi Sabian saat ini.


" Lalu."


" Dia hamil!"


" Uhuk, uhuk, uhuk!!" Arvin tersedak karena mendengar jawaban dari Sabian.


Brak!!


Maryam yang tidak sengaja mendengar percakapan tersebut, sontak saja menjadi sangat khawatir. Dirinya sangat mengetahui kejadian tentang kehamilan Zea, dan Sabian sudah salah dalam menilainya.


Tidak, nona Zea tidak seperti itu. Tuan Sabian seharusnya menyelidiki dulu sebelum menilai, kasihan nona Zea. Ya Tuhan, lindungilah nona Zea dan bayinya dimana pun dia berada. Maryam.


" Kau tidak salah lihat?"


" Aku melihatnya sendiri, Arvin! Bagaimana pria itu memperlakukan Zea, dan Zea pun tidak bisa menjelaskannya padaku dan pergi begitu saja!"


" Selama ini, aku sudah salah menilainya. Dengan berpura-pura polos, dia sudah menjebakku!"

__ADS_1


Luapan emosi Sabian semakin menjadi, bahkan Arvin ingin sekali membela Zea. Karena ia juga mengetahui tentang kehamilan itu, namun hal itu ia urungkan.


" Cari tau dulu sebelum menilai orang seperti itu, jangan sampai penilaianmu itu menjadi bumerang untuk dirimu sendiri."


" Aku sangat yakin, jika itu adalah anak dari pria sialan, bre***sek!"


Dengan penuh keyakinan, Sabian menganggap Zea telah berselingkuh bahkan hamil dari pria tersebut. Dirinya sudah dibutakan oleh rasa cemburu dan hancur.


Tok


Tok


Tok


Titik dengan segera menghampiri pintu utama, mendengar jika ada yang mengetuknya.


" Permisi nona, apakah tuan Sabian ada?" Tanya seorang pria yang berpenampilan sangat rapi, namun dibelakang tubuh pria tersebut. Banyak sekali orang yang berpakaian hitam-hitam, hal itu membuat Titik menjadi ketakutan.


" A ad ada."


" Bisakah kami bertemu?"


" Ee e si silahkan tuan."


Titik berlarian kecil menghampiri tuannya dan menjelaskan kehadiran tamu mereka, lalu Titik langsung kabur dari hadapan mereka karena ketakutan.


Serem amat yak tu orang, manusia apa .... Ah takut! Titik.

__ADS_1


__ADS_2