
Sikap Sabian kini perlahan menunjukkan perubahan, perhatian demi perhatian ia berikan kepada Zea. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Zea. Ia masih merasa ragu untuk benar-benar menerima Sabian dalam kehidupannya, dimana yang ia ketahui jika Sabian dan Vania benar-benar saling mencintai.
Pada hari ini, Zea dan Maryam bermaksud untuk memeriksakan kandungannya untuk pertama kalinya. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Zea menyetujui usulan tersebut.
" Bu, Zea nanti absen dulu sebentar ya. Setelah nanti, kita langsung pergi."
" Siap non, bibik akan selalu siap menemani non kemana saja."
" Ibu ada-ada saja, sudah dua hari ini. Nafsu makan sedikit berkurang, kayaknya morning sicknessnya baru muncul bu."
Mendengar perkataan dari Zea, membuat Maryam segera memeriksa setiap sudut tubuh nonanya.
" Bener non, wajah non juga sedikit pucat. Sebaiknya kita harus cepat periksa sama dokter non, biar nanti dikasih vitamin dan obat anti mualnya. Semoga saja bayinya kuat dan sehat, oh iya. Bibik ambil perlengkapan dulu. Nanti Sinta dan Titik yang mengantikan pekerjaan yang ada. "
Menjawab dengan menganggukkan kepala, menunggu Maryam. Setelah semuanya siap, mereka pun segera berangkat. Tanpa berpamitan kepada Sabian, karena Zea tidak ingin mengganggu waktunya yang sedang saat itu sedang bersama dengan Vania. Setibanya di kantor, Zea segera menghampiri tempat untuk mengabsen kehadirannya. Lalu ia meminta izin kepada Arvin, dengan alasan akan menemani Maryam sebentar. Walaupun ada perasaan aneh pada diri Arvin, kenapa Zea menemani asisten rumah tangganya itu.
Dirumah sakit, mereka langsung mendatangi bagian kandungan. Karena sebelumnya Zea sudah mendaftar secara online, menghindari untuk mengantri terlalu lama. Hingga saatnya Zea mendapatkan giliran untuk diperiksa.
" Selamat pagi non Zea, suaminya?"
" Eh, suami saya sedang keluar kota dokter."
" Baiklah, ini kehamilan pertama. Kalau dilihat dari riwayat mentruasi akhirnya, sudah memasuki minggu ke sepuluh. Kita lihat dulu ya, mari."
Dokter Clara, merupakan seorang dokter kandungan yang berpengalaman. Walaupun usianya tergolong muda, namun pengalaman dan ilmunya tidak dapat diragukan lagi. Dibantu oleh seorang perawat, Zea berbaring diatas tempat tidur. Maryam begitu merasa khawatir, sebelum tau hasil dari pemeriksaan saat itu.
" Nah lihat, ini calon bayinya. Mari kita dengar detak jantungnya." Clara memainkan tombol pada alat yang berada dihadapannya, tak lama kemudian terdengarlah suara detakan jantung dari alat itu.
__ADS_1
" I i ni, benar suara detak jantungnya dok?" Seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Zea sangat terpukau dengan hal tersebut.
" Benar, nona. Ini, ukurannya normal. Cairan ketubannya juga bagus, untuk saat ini. Kondisinya aman."
Penjelasan tersebut, membuat Zea dan maryam tak bisa membendung air mata bahagianya. Kembali berhadapan dengan sang dokter, memberikan penjelasan yang lainnya untuk pengetahuan sang ibu dari bayi. Menambahkan beberapa vitamin yang dibutuhkan untuk menambah asupan pada Zea, tak lupa Zea meminta untuk obat anti mualnya.
" Untuk mualnya, lebih baik secara alami saja ya. Bisa dengan menikmati beberapa makanan ataupun minuman yang berasa asam, tentunya dengan jumlah yang tidak berlebihan."
" Baiklah dok, terima kasih atas bantuannya."
" Satu bulan lagi, ditunggu perkembangannya ya."
Zea menganggukkan kepalanya, dimana Clara memberikan jadwal berikutnya untuk pemeriksaan. Begitu bahagianya hati Zea dengan hasil pemeriksaan saat itu, begitupun dengan Maryam. Hanya saja, kabar baik itu harus mereka sembunyikan dari semua orang. Termasuk dengan kedua mertuanya, sebenarnya Maryam sangat ingin memberitahukan kabar tersebut kepada Vita, namun Zea tidak menginginkannya. Demi kebahagian dan kenyamanan Zea, ia harus mengikutinya.
Mereka pun berpisah, setelah selesai dari pemeriksaan. Maryam segera pulang kerumah besar, agar tidak menimbulkan kecurigaan dari tuan mudanya. Begitupun dengan Zea, ia segera kembali keperusahaan.
Terima kasih, sudah tumbuh didalam sana nak. Kamu adalah sumber kekuatan bunda, kita sama-sama harus kuat dan sehat ya. Zea.
" Kamu darimana saja, aku begitu sangat mengkhawatirkanmu." Suara Sabian terdengar begitu parau dan berat.
" E e." Tidak bisa untuk berkata-kata, Zea sangat kaget dengan sikap Sabian yang begitu padanya.
" Darimana? Kenapa tidak menghubungiku?" Melonggarkan pelukannya, dan menuntun Zea untuk duduk bersamanya.
" E e tadi nemenin bu Maryam sebentar. Dia mau membeli sesuatu, tapi kurang mengerti. Tadi, aku sudah izin dengan sekretaris Arvin. "
" Lain kali, kau harus bilang dan izin padaku. Tidak boleh dengan orang lain, oke." Kembali Sabian memeluk Zea dari arah samping.
__ADS_1
" Memangnya kenapa? Anda dan ruangan ini terlihat begitu berantakan."
Dengan sengaja Zea mengalihakan arah pembicaraannya, agar bisa lepas dari pelukan Sabian. Bukannya terlepas, tapi malah semakin erat saja.
Tak!!
" Akh! Kenapa anda menjitak kepala saya? " Mendapatkan kepalanya diketuk oleh Sabian, membuat Zea menjadi kaget dan protes akan perlakuannya itu.
" Masih mau mengelak lagi, sudah tau aku seperti ini karena mengkhawatirkanmu. Dasar tidak peka!"
" Hah, tumben." Tak kalah sinisnya Zea membalas perkataan Sabian.
Tak!!
" Ah! Sakit!"
Lagi-lagi, Sabian mendaratkan jarinya dikepala Zea.
" Tumben, tumben. Ya wajarlah, suami mengkhawatirkan istrinya. Masih nanya lagi!"
Mereka berduapun saling beradu argumen satu sama lain, hingga akhirnya Zealah yang mengalah. Berdebat dengan Sabian begitu menguras tenaga dan pikirannya, karena Sabian selalu merasa dia yang berkuasa dan Zea harus mematuhinya.
Disaat Zea yang beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk membereskan ruangan tersebut. Namun hal itu dicegah oleh Sabian.
" Jangan, biarkan OB saja yang membereskannya. Temani aku, aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu."
Menggenggam tangan Zea dengan sangat erat, Sabian membawanya ke gedung atas dari perusahaan tersebut. Bari kali ini Zea melihat pemandangan yang begitu indah dari atas, matanya begitu terpesona dengan hal tersebut.
__ADS_1
Melingkarkan tangannya dari arah belakang tubuh Zea, meletakkan kepalanya diatas bahu dan mencium aroma khas dari sang istri.
" Aku akan bercerai dari Vania."