
Flashback On
Ketika mereka telah sampai diruangan kerja milik Sabian, langsung saja keluar pembahasan tentang pekerjaan yang cocok untukn Zea nantinya.
" Vin, posisi apa yang pantas untuk Zea? Aku tidak ingin dia bekerja sebagai pembersih lagi, memalukan."
" Kepikiran lu sama Zea? Kirain cuma si bunglon yang ada dalam otak lu, tumben waras." Sungguh sangat tajam ucapan yang Arvin berikan pada Sabian.
" Aku sedang tidak ingin berdebat." Suasana hati Sabian saat itu sedang sangat kusut, seperti buntalan benang yang tidak bisa gunakan lagi.
Arvin pun mulai merenung, memikirkan posisi apa yang tepat untuk istri dari si angkuh, Sabian.
" Semakin hari, aku melihat Vania selalu bersikap tidak baik pada Zea. Selalu menyakitinya baik secara fisik maupun mental, dan Zea pun tidak pernah membalasnya."
Otak Arvin pun mulai mendapatkan ide, mendengar cerita yang Sabian utarakan. Semakin membuat dirinya yakin, akan posisi pekerjaan yang akan diberikan kepada Zea.
" Ada satu yang membuatku merasa aneh."
Telinga Arvin sangat peka jika mendengar sesuatu yang berbau-bau gosip, segera ia memutar haluan wajahnya untuk melihat sang sumber berita.
" Aneh? Apa yang aneh? Bukannya kalian adalah pasangan terbucin, urat malumu saja putus jika sudah bersama si bunglon." Sindiran itu kembali terlontarkan dari mulut Arvin, mengalahkan pedasnya cabai.
" Vania tidak pernah mau aku ajak berhubungan sebagaimana suami istri, dia selalu menolak dan berkilah." Hembusan nafas kasar, keluar dari mulut Sabian.
" What? Ternyata belum belah duren lu sama si bunglon, Zea saja sudah duluan lu belah dan nikmati sebelum nikah. Nah ini, sidah nikah tapi belum di apa-apain. Sungguh membingungkan, atau..."
" Atau apa, hah?"
" Hei, katakan!"
__ADS_1
Tak!!!
Mendaratlah sebuah ketukan di kepala Arvin, yang berasal dari tangan Sabian.
" Ais! Dasar s**tan."
" Kau yakin belum menyentuhnya sedikitpun?"
" Seratus persen."
Mereka berduapun menjadi terdiam, keadaan semakin hening dengan diamnya kedua pria tersebut.
" Ah, nanti saja memikirkannya. Aku sudah mendapatkan posisi yang tepat untuk Zea."
" Apa?"
" Tunggu saja waktunya, bye!"
Flashback Off
Klek!!
Pintu ruangan CEO terbuka, tanpa ada ketukan dan ucapan permisi dari sang pembukanya. Mendapati seseorang memasuki ruangannya tanpa izin darinya, membuat Sabian menjadi emosi.
" Akan ku sumbangkan gajimu bulan ini, kepada pria-pria gila diluar sana. Dasar sekretaris s**tan." Sabian mengumpat tanpa melihat ke arah orang yang menjadi objek umpatannya.
" Karena kau bos s**tan, maka aku pun akan menurutimu. Masuklah nona." Mempersilahkan Zea untuk mengikutinya dan menunjukkan tempat duduk untuk ia tempati.
Mendengar kalimat 'nona', membuat Sabian memutarkan wajahnya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Arvin. Dan seketika itu juga, raut wajah Sabian menjadi datar melihat Zea yang sudah berada disana.
__ADS_1
" Perkenalkan tuan, ini adalah nona Zea Owen. Dia adalah sekretaris khusus anda, dan mulai bekerja hari ini. Silahkan anda bekerjasama dengannya, saya undur diri. Selamat bekerja nona, jika ada yang tidak anda mengerti. Silahkan untuk langsung menanyakannya kepada tuan, Sabian."
Tugasnya telah selesai dilaksanakan, Arvin segera keluar dari ruangan tersebut. Membiarkan kedua manusia didalam sana untuk saling bekerjasama dalam berbagai hal, terutama dalam masalah hati dan perasaan.
Selamat berjuang tuan, manfaatkanlah kesempatan yang ada sebelum kesempatan itu pergi. Arvin
Kepergian Arvin dari ruangan tersebut, meninggalkan keheningan diantara Sabian dan juga Zea.
Dasar sekretaris s***tan, tunggu saja kau Arvin! Sabian.
Mengumpulkan keberanian yang ada, akhirnya Zea menggeluarkan suaranya.
" Tu tuan, apa benar saya bekerja sebagai se..."
" Ya, sekarang kerjakan tugas pertamamu. Aku tidak suka dengan orang yang cerewet dan banyak tanya, apalagi membuatku pusing. Kerjakan!" Hanya melemparkan sebuah berkas kepada Zea, yang dimana Sabian tidak menjelaskan apa yang harus Zea kerjakan.
Apa-apaan ini, tidak boleh bertanya, tidak boleh membuat pusing. Padahal dia sendiri yang membuatnya, dasar pria aneh dan bre***ek. Zea.
Berkas tersebut hanya Zea letakkan di atas meja dihadapannya, tangannya tidak mengerjakan apapun. Memandangi berkas tersebut dengan wajah yang tidak bisa diartikan, hingga memakan waktu selama satu jam.
" Hei, aku menyuruhmu untuk mengerjakan berkas ini. Kenapa malah tidak kau kerjakan, kalau tidak bisa itu bicara. Membuang-buang waktu saja, huh!"
" Maafkan saya tuan."
" Maaf? Kau bilanh maaf. Memang aku sudah salah mengizinkanmu untuk kerja, dasar otak batu."
Mendapati dirinya dihina dan direndahkan oleh bosnya yang notabennya adalah suaminya sendiri, membuat Zea merasa sangat tersinggung.
" Otak batu! Maaf tuan, sepertinya anda harus merevisi setiap kata yang keluar dari mulut anda. Menyerahkan sebuah berkas kepada pegawai baru, yang posisinya sangat dipaksakan. Tanpa memberitahukan tentang apa yang harus dia kerjakan, menghitung laba, merevisi anggaran dan sebagainya. Apa anda sudah melakukan hal tersebut? Seorang CEO yang terpilih, mengartikan jika mereka memiliki otak dan pemikiran yang sangat luar biasa tapi tidak untuk anda. Jadi, sekarang apa yang harus saya kerjakan, tuan Sabian?"
__ADS_1
Pukulan telak telah Zea berikan kepada Sabian, meremehkan seseorang dan memanfaatkan kekuasaannya untuk bisa selalu menghina dan merendahkan ornag lain.
Apa! Wanita ini berubah menjadi macan dalam hitungan jam, tidak bisa diremehkan. Cukup menarik, akan kubuat dia selalu mengomel. Sabian.