
Hari pun berlalu, hubungan Sabian dan Zea semakin harmonis. Begitu pula dengan sang kakak, walaupun sikapnya terkadang menyebalkan. Dengan perlahan, Sabian memberitahukan keadaan dari mamanya kepada Zea. Yang dimana, kini sang mama telah dirawat dirumah sendiri. Hal itu disarankan agar bisa memberikan perkembangan dalam masalah kesehatannya, seperti kedekatan kepada orang-orang yang menyayanginya.
" Bee, hari ini mau dimasakin apa?" tanya Zea kepada Sabian, yang kini sudah memiliki panggilan khusus.
" Apa saja yang kamu masak, akan aku habiskan. Jangan lupa buahnya sayang, rasanya tidak enak kalau tanpa buah. "
Kini, Sabian dan Zea telah menempati rumah mereka sendiri. Walaupun sebenarnya sang kakak masih sangat berat untuk melepasnya, dengan alasan keamanan yang pada akhirnya membuat Zea dan Sabian harus menerima beberapa bodyguard dari Osmond.
" Benar juga, bee. Nanti aku mau kerumah mama dan papa ya, sekalian mau lihat perkembangan mama."
" Iya sayang, pulangnya nanti aku jemput. Oke!"
Merangkul pinggang Zea, mereka berdua berjalan menuju pintu utama. Zea menghantar Sabian pergi bekerja, lalu ia kembali ke dalam rumah dan memulai aktivitasnya sebagai istri dan juga pemilik rumah tersebut. Hingga menjelang waktu makan siang, pekerjaannya telah terselesaikan. Zea bergegas berangkat menuju kantor suaminya dengan di antar oleh supir pribadinya, serta beberapa orang utusan dari Osmond.
Sesampainya di perusahaan sang suami, Zea berjalan menuju ruangan Sabian. Hampir seluruh karyawaan disana, berdecak kagum dengan pesona yang Zea tampakkan.
" Zea." Suara tersebut membuyarkan pandangan Zea.
__ADS_1
" Kak Kevin." Sapa Zea dan berjalan mendekat.
" Mau ketemu Bian? Langsung saja." Kevin mengarahkan Zea agar bisa segera sampai bertemu suaminya.
" Iya kak, kakak sudah makan? Kebetulan Zea bawa banyak, bisa makan bersama Sabian. Ayo kak." Ajak Zea kepada Kevin.
" Benarkah? Syukurlah kalau begitu, baru saja mau cari makan."
Mereka berjalan berdua, terlihat seperti pasangan yang serasi. Bahkan para karyawan disana mengira, jika Zea dan Kevin berpacaran.
Tok tok...
" Bee."
" Hem, jangan terlalu lelah." Sabian asyik memberikan perlakuan yang cukup romantis kepada Zea, sampai melupakan kehadiran orang lain disana.
" Iya bee, terima kasih." Zea membalas perlakuam Sabian dengan memeluk tubuh yang lumayan berotot.
__ADS_1
Dari sudut yang berbeda, Kevin mulai tidak tahan dengan sikap pasangan yang berada dihadapannya.
" Masih ada manusia lain disini, woy. Emangnya gue penampakan apa, kayak nggak dianggap. Gini ni, kalau orang sudah bau-bau jatuh cinta. Nggak mikirin yang lain lagi, susah senang hanya milik berdua. Dasar bos se***an, nggak berubah. Laper nia cacing perut gue, dari tadi nungguin orang yang lagi kasmaran sampai lupa diri." Dengan begitu sinis, Kevin meluapkan kekesalannya.
" Bee, benar tuh kata kak Kevin. Lebih baik kalian makan saja dulu, lagian makanannya juga masih hangat. Ayo." Zea memarik lengan Sabian untuk duduk bersama dengan Kevin.
Menata satu persatu hidangan yang ia bawa dari rumah diatas meja, lalu mempersilahkan kedua pria tersebut untuk menikmatinya. Zea pun pamit untuk segera pergi menuju rumah mertuanya, meninggalkan kedua pria yang masih saling rebutan untum menikmati santap siangnya.
Membutuhkan waktu setidaknya selama tiga puluh lima menit, Zea kini telah sampai di kediaman mertuanya.
" Apa kabarnya pa?" Sapa Zea kepada Reza dan tak lupa untuk mencium punggung tanganya, sebagai tanda hormat seorang anak kepada orangtuanya.
" Baik nak, tidak bersama Bian?" Tanya Reza, yanh melihat kedatangan menantunya itu sendirian.
" Bian masih kerja pa, katanya ada berkas-berkas yang masih perlu direvisi."
" Anak itu, maafkan papa ya nak. Seharusnya suamimu itu tidak sesibuk seperti ini, semoga kamu bisa mengatasinya."
__ADS_1
" Iya pa, tidak apa-apa. Zea kekamar mama dulu ya pa, kangen." Senyum manis Zea berikan.
Reza mempersilahkan menantunya untuk menemui istrinya, sudah cukup lama keadaan sang istri belum ada perubahan. Semenjak hubungan Sabian dan Zea membaik, Zea rutin mendatangi mereka dan merawat serta mengajak istrinya berbicara. Walaupun belum menampakkan perkembangan yang lebih baik, setidaknya bisa memberikan semangat agar istrinya bisa sembuh.