
"... Istrimu sedang diculik, kau masih sempat-sempatnya seperti ini!" Teriak Osmond memaki Sabian, yang terlihat begitu tenangnya.
" Apa, Zea diculik?" Dengan akting yang terbaik, Sabian berpura-pura sangat terkejut untuk mengikuti permainan.
" Jika terjadi sesuatu pada Zea, akan aku lenyapkan kau!" Emosi Osmond semakin tidak terkendali.
Flashback on.
" Tuan, apa anda tidak ingin menghadiri jamuan dari nona Zea?" Kevin merapikan berkas-berkas yang sudah selesai ia periksa.
Suara ketukan jari pada meja, dengan tatapan kosong memandang kedepannya. Osmond tidak bergeming, disaat Kevin bertanya padanya.
Manusia ini, ditanya malah begong. Kesambet se**an baru nyahok, eh. Dia kan bosnya se**an, mana mungkin dia kesambet. Kevin.
" Tugasku sudah selesai, lebih baik aku menghadiri jamuan makan malam ini. Sekalian menghemat biaya, maklum saja ini akhir bulan." Kevin menyindir bosnya yang masih tampak melamun dan tidak bergeming sedikitpun.
Sengaja ia menghentakkan sekeras mungkin, berkas yang ia bawa ke atas meja. Biar bosnya itu sadar, namun malah sebaliknya. Ia masih mempermainkan jemarinya untuk membuat suara yang menjengkelkan.
Ddrrttt..
Ddrrttt..
Zea? Pasti dia mau memaksaku untuk datang kerumahnya, malas sekali rasanya. Osmond.
Walaupun merasa kesal, Osmond tidak sampai hati untuk menolak panggilan telfon itu. Apalagi dari orang yang begitu ia sayangi.
" Hallo Zea."
__ADS_1
" To long, tolong kak... " Suara teriakan.
Osmond tersentak dari tempat duduknya, mendengar suara teriakan dari sambungan telfon untuknya. Begitu pula pada Kevin, ia menjadi ikutan kaget disaat melihat bosnya seperti itu.
" Ada apa?" Dengan muka panik, Kevin menanyakan perihal tersebut.
Begitu cepatnya, Osmond beranjak dari tempat duduk dan sedikit berlarian. Tak mau ketinggalan pasal apa yang terjadi, mereka menghubungi para pengawal yang memang ditugaskan untuk menjaga kediaman dan juga Zea.
" Apa saja yang kalian kerjakan, hah! Kenapa sampai kecolongan seperti ini, dasar bodoh!" Maki Osmong yang sedang menghubungi pengawal disana.
Kecolongan? Memangnya kecolongan apaan? Kok bos bicara seperti itu? Pengawal.
" Tapi bos..." Belum saja mereka menanyakan maksud dari perkataan bosnya itu, sambungna telfon telah terhenti.
" Siapa yang menelfon?" Tanya pengawal yang lainnya.
" Si bos, tapi bos bilang kalau kita kecolongan. Saat ditanyakan, kita kecolongan apa. Eh, telfonnya mati." Jelasnya kepada temannya.
Perseteruan terjadi begitu alot, Osmond dengan amarahnya yang sudah siap untuk memberikan pembelajaran kepada Sabian atas kelalaiannya menjaga Zea. Dan juga para pengawal yang dianggap lenggah dalam menjalan tugasnya, tak luput dari hukuman.
Masih dengan tenangnya, Sabian tidak terlalu menanggapi perkataan dari kakak iparnya. Hal itu semakin memancing amarah Osmond, lalu ia memberikan satu pukulan telak kepada Sabian.
Bugh!
" Hei! Apa yang sudah kau lakukan?" Sabian mengerang atas pukulan yang ia terima.
" Masih banyak bicara, aku tidak akan memberi ampun padamu!" Osmond kembali akan memberikan pukulan kepada Sabian, disaat itu pula terdengar suara teriakan.
__ADS_1
" Jangan!" Terdengar teriakan suara yang mereka kenali.
Perhatian orang-orang yang berada disana saat itu, teralihkan pada suara teriakan tersebut. Pandangan mata mereka mencari sumber suara yang menjadi sumber utamanya, betapa terkejutnya Osmond saat melihatnya.
" Zea." Terperanggah dengan kemunculan wanita kesayangannya.
" Kakak apa-apaan si, kenala Sabian dipukul!" Zea yang keluar dari persembunyiannya, segera melerai sang kakak yang akan menyerang suaminya.
" Kamu, kamu tidak diculik?" Mulut Osmond membeo dengan kehadiran adiknya.
" Siapa bilang diculik, kakak jangan main pukul sembarangan!" Zea menarik Sabian dari hadapan kakaknya.
" Tadi di telfon..." Osmond kembali dikagetkan dengan kehadiran satu wanita lagi, Clara.
" Aku kan nggak bilang diculik, hanya bilang tolong kok. Maksudnya itu, tolong kakak datang kesini. Dasar tidak peka, Clara. Tolong kamu hadapin dulu pria keras kepala ini, aku mau membawa suamiku dulu ke kamar." Zea mendengus kesal kepada Osmond dna meninggalkannya begitu saja.
Saat Zea membawa Sabian menuju kamarnya, Sabian dengan begitu bahagia meraih tubuh istrinya dari samping dan memeluknya.
" Semoga saja, rencana kita berhasil sayang." Sabian berbisik ditelingga Zea.
" Aamiin, semoga saja Bee. Tangannya jangan curi-curi ya, kebiasaan." Zea menangkap sikap suaminya yang berbeda.
" Biarin, dari tadi aku sudah menahannya. Gara-gara kakak ipar, jadinya seperti ini. Dan sekarang, kamu nggak bisa menghinda lagi, sayang."
Keduanya pun tertawa penuh dengan kemenangan dan kebahagian, membiarkan orang yang mereka targetkan untuk menyapa satu sama lainnya.
Hah, kenapa harus aku? Adiknya saja tidak mau menghadapinya, apalagi aku yang hanya orang luar. Pria ini, sangat menyusahkan saja. Clara.
__ADS_1
Wanita aneh, selalu saja membuatku dalam situasi seperti ini. Malas sekali melihatnya. Osmond.