Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 23


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu, disaat ini hubungan Zea dan Sabian semakin dekat. Bahkan Sabian sering tidur dikamar Zea, walaupun kamar tersebut sangat kecil dan tidak lebih hanya tidur. Hal tersebut tanpa sepengetahuan dari Vanian, mengingat Vania yang masih kekeh tidak mau berpisah, karena bukti-bukti untuk membongkar kebusukan Vania belum lengkap. Sabian terpaksa harus berakting kembali, menahan semua gejolak dalam dirinya.


Sebelumnya, Zea yang tidak pernah disentuh oleh suaminya. Kini, ia mulai dengan perlahan mencoba membuka diri dan hatinya untuk Sabian.


" Sudah siap berangkat, sayang?" Tangan kekar milik Sabian telah melingkar pada perut Zea, yang saat itu sedang membuat sarapan di dapur.


" Eh, anda mengejutkan saya tuan."


Cup!!


" Hukuman bagi sang pelupa." Dengan terkekeh, Sabian tersenyum mendapati Zea yang masih lupa akan panggilan untuknya.


" Ya Tuhan." Dengan malasnya Zea menggelengkan kepalanya, begitu pelupanya hingga ia harus mendapatkan hukuman yang baginya tidak adil.


" Hahaha, tapi aku suka. Ayo sarapan dahulu."


Duk!!


" Aduh! Aduh! Mataku, mataku." Terlihat Sinta yang sedang mengelus keningnya dan menutup matanya.


" Sinta."


" I i ya non, saya nggak liat non. (Duk!!) Aduh, kejedot lagi ni kepala." Sinta menjadi salah tingkah, saat mempergoki kedekatan dari kedua majikannya.


Merasa risih dengan sikap Sabian, Zea pun dengan cepat melepaskan tangan kekar tersebut dari tubuhnya dan menjara jarak diantara mereka.

__ADS_1


" Kenapa?" Sabian menaikan salah satu alis matanya.


" Dasar mesum, tuh! Kasian sama mereka, bisa rusak nanti matanya melihat sikap anda seperti ini." Begitu sewotnya Zea.


" Tapi aku suka, sayang?" Kembali Sabian menunjukkan sikapnya, dengan menggenggam erat tangan kanan Zea serta menciumnya.


" Ya ampun." Muka Zea semakin bertekuk menghadapi sikap Suaminya.


Dengan kejahilan Sabian terhadap Zea, membuat mereka mengabaikan salah satu orang yang sudah sedari tadi mengawasi mereka berdua.


Rupanya kau sudah mencintai wanita itu, sungguh memalukan. Menjilat ludahmu sendiri, yang awalnya tidak mau menjadi sangat norak, heh! Lihat saja, aku akan segera menyingkirkan kamu. Dasar wanita pengganggu! Vania.


Meninggalkan pasangan yang sedang bercengkrama dengan begitu mesranya, membuat Vania sangat risih dan marah. Ia pergi begitu saja dari sana dan menghubungi seseorang.


" Laksanakan tugas kalian, aku tidak ingin mendengar kata gagal." Ucapan Vania melalui telfon genggamnya dan memutuskannya segera.


Bekerja seperti biasanya, Zea berangkat kekantor dengan menggunakan angkutan umum. Sebelumnya, Sabian telah memkasanya untuk ikut bersamanya. Namun Zea tidak mau, dengan alasan tidak ingin orang lain mengetahui hubungan mereka. Akhirnya Sabian pun habis akal untuk membujuk istrinya itu, walaupun menggunakan angkutan umum. Sabian masih mengikutinya dan memastikan Zea sampai ke kantor dengan selamat.


" Sepertinya, kau mempunyai tugas baru." Suara Arvin terdengar di telingga Sabian.


" Heh, masuk dan keluar ruangan orang tanpa permisi! Dasar sekretaris s***tan."


" Bosnya s***tan, masak pengawainya manusia! Nih, berkas dari klien Osmond Owen. Dia akan datang hari ini, membicarakan tentang kesepakatan yang terdahulu." Meletakkan berkas yang akan dibutuhkan Sabian, Arvin dengan tenangnya menghempaskan tubuhnya pada sofa.


" Kenapa mendadak?" Tanya Sabian dengan raut muka yang begitu bingung.

__ADS_1


" Aku tidak tau, mereka menghubungiku pagi ini." Baru saja hendak menyandarkan kepalanya, tiba-tiba ia pun langsung berdiri.


Kedatangan Zea, yang baru saja tiba. Membuat Arvin meresa tidak enak, jika sikapnya terlihat seperti preman yang sedang memalak seseorang.


" Selamat datang nona." Sapa lembut Arvin.


" A... Selamat pagi sekretaris Arvin, tidak perlu formal. Silahkan." Zea sedikit menundukkan kepalanya dan tersenyum, menghormati Arvin yang notaben dalam usia dan kedudukan lebih tua dan tinggi dari dirinya.


Mendapati perlakuan itu, membuat Arvin merasa tidak enak. Bagaimana bisa seorang istri dari bosnya, bersikap seperti itu pada bawahan suaminya. Sungguh Arvin sangat tersanjung, dengan hal tersebut.


Plak!!!


" Akh!" Suara Arvin terdengar mengerang, disaat sebuah pukulan dari sebuah berkas, mendarat cantik diatas kepalanya.


" Jangan menggoda istriku! Kau mau, gajimu untuk bulan ini aku sedekahkan pada panti asuhan, hah!" Mata Sabian melebar dengan begitu besar, menatap Arvin yang sedang berinteraksi dengan istrinya.


Arvin pun tak mau kalah, ia pun mengikuti sikap bosnya. Menatapnya dengan ekor mata yang begitu tajam, tangannya mengepal menahan amarah dan tepatnya menahan malu dihadapan Zea.


" Ee... Sudah-sudah, kenapa kalian jadi bertengkar. Sekretaris Arvin, maaf ya. Harap dimaklumi saja, bos kita sepertinya sedang bertengkar dengan istrinya." Zea berjalan menuju meja kerjanya, meninggalkan dua pria yang masih saling melempar pandangan dengan sangat tajam.


" Apa!! Tunggu sayang." Sikap cool Sabian seketika luntur, mendapati istrinya mengacuhkan dirinya.


" Ow ow ow, rupanya raja singa sedang merayu sang ratu. Pantasan saja!" Senyuman Arvin begitu renyah, menertawakan Sabian yang sekarang menjadi bertekuk pada Zea.


Makan tu cinta, baru sadarkan lu. Kalau istri lu ini berbeda dengan si bunglon, ah. Aku ikut senanh melihatnya. Arvin.

__ADS_1


" Diam kau!! Urus semua berkas yang diperlukan klien kita nanti, pintu itu sudah menunggumu."


" Dasar S***tan." Arvin pun tidak ingin merusak moment mereka, ia memilih meninggalkan ruangan tersebut.


__ADS_2