
Zea menatap wajah wanita yang berada dihadapannya, setelah membersihkan dan memberikan sedikit pijatan pada sebagian tubuhnya agar lebih rilek.
" Ma, gimana kabarnya hari ini? Ma, Zea kangen. Mama masih betah tidur ya, jangan lama-lama ma. Papa, Bian, Zea dan juga masih banyak yang merindukan mama. Apalagi bu Maryam, katanya kangen dengan pekerjaan khusus dari mama."
" Mama tau nggak, sekarang Bian sudah banyak berubah ma. Mama pasti bangga dengan anak kesayangan mama itu, Zea bersyukur dengan semuanya ini ma. Mama bangun ya, Zea mohon ma. Jangan tinggalin Zea lagi, Zea tidak mau kehilangan mama."
Tanggis itu pun pada akhirnya pecah, dengan terisak. Zea menumpahkan segala kerinduannya kepada wanita tersebut, penuh harapan untuk kesembuhannya. Disaat Zea memeluk tubuh Vita, ia merasakan sesuatu yang bergerak dalam genggamannya.
" Mama." Zea sangat terkejut, lalu ia mencari sumber dari pergerakan itu.
Jemari tangan yang sudah lama kaku, kini bergerak dengan sangat perlahan. Kedua bola matanya juga ikut bergerak, Zea sungguh sangat merasakan kebahagian yang tak terhingga. Segera ia memanggil Reza untuk segera memasuki kamar tersebut.
" Pa, papa!" Teriakan itu bisa menyaingi besarnya suara ledakan.
" Ada apa Zea? Kenapa teriak-teriak." Dengan tergopoh-gopoh, Reza berlarian mendekati sumber suara dan juga beberapa pekerja di rumah tersebut terlihat berdatangan.
__ADS_1
" Mama bergeral pa, ayo pa lihat." Tanpa sadar, Zea menarik tangan Reza untuk secepatnya melihat apa yang Zea katakan sebelumnya.
Reza hanya bisa pasrah, saat dirinya ditarik menantunya dengan cukup kuat. Setibanya mereka dihadapan Vita, tubuh wanita itu tidak bergerak sedikit pun seperti apa yang Zea katakan padanya. Ada perasaan kecewa yang Raza rasakan, terlalu berharap akan kebenaran yanh disampaikan. Namun, harus kembali menelan rasa pahit.
" Ma, ini papa sudah datang. Papa mau lihat gerakan yang mama lihatin sama Zea seperti tadi, bisa kan ma." Zea berharap hal itu akan terulang kembali, namun sepertinya takdir tidak berpihak padanya. Zea terus mencoba membangkitkan semangat pada Vita, agar harapan yang selama ini mereka pertahankan telah membuahkan hasil.
" Sudahlah nak, tidak apa-apa. Mungkin mama masih butuh waktu untuk beristirahat." Saat itu, Reza memahami sikap Zea. Karena mereka semua juga berharap akan ada yang namanya keajaiban.
Zea masih terus mencobanya, di saat sudah merasa menyerah. Zea kembali membisikan sesuati di telinga Vita.
" Ma, ..."
" Mama!" teriakan itu keluar dari mulut Reza, mendapati istrinya kini telah sadar dari tidur lamanya.
" Pa pa." Ucap Vita yang masih terbata-bata.
__ADS_1
Kebahagian itu akhirnya kembali, mereka langsung menyambutnya dengan penuh suka cita.
" Kenapa ponsel Bee tidak aktif? Kak Kevin juga, apa mereka sedang sibuk?" Zea bermain dengan alam pikirannya sendiri, bermaksud untuk memberikan kabar bahagia itu kepada suaminya. Tapi malah susah untuk dihubungi.
Di tempat lain, Sabian dan Kevin baru saja selesai dari bertemu klien mereka. Membahas program kerja dari kerjasama yang mereka lakukan, perusahaan Reza sudah sangat mempunyai nama. Jadi, tidak terlalu sulit untuk mempertahankan hubungan pekerjaan.
" Vin, apa jadwalku selanjutnya?" Tanya Sabian setelah mereka berada didalam mobil.
" Sepertinya tidak ada, ada apa?" Kevin menjalankan laju mobil tersebut, untuk kembali ke perusahaan.
" Aku sudah ada janji, menjemput Zea di rumah papa. "
" Kau periksa dulu berkas yang aku berikan tadi, setelah itu pulanglah. Pasti om dan tante juga sudah kangen sama lu, dasar anak kurang ajar. Sudah bucin, sama orangtua lupa. Untung saja, istrinya nggak ikut-ikut seperti suaminya."
" Makanya lu juga cari pacar, biar tau rasanya jatuh cinta. " Sabian merasa menang.
__ADS_1
Sesampainya mereka di perusahaan, Sabian dan Kevin langsung menuju ruangan milik sang pemimpin. Betapa terkejutnya mereka, melihat siapa yang berasa disana.
" Kau?!!"