Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 69


__ADS_3

" Sebenarnya, saya datang kemari untuk menagih janji anda tuan."


" Apa? Janji? " Osmond terkejut dengan ucapan yang ia dengar.


" Benar tuan, disaat anda membatalkan perjanjian kerjasama dengan perusahaan milik tuan David. Anda pada waktu itu mengucapkan kepada saya, 'bekerja untukku, jika kau dipecat."


" Benarkah aku mengatakan hal tersebut pada waktu itu? Jangan-jangan kau hanya membohongiku!"


Merasa dirinya dipojokan, jiwa bar-bar Clara kali ini sudah sangat ingin meledak.


" Anda bilang saya berbohong! Atas dasar apa saya harus berbohong kepada anda?"


" Bisa saja, kamu merencakan sesuatu untuk menjebak saya, bukan! Orang seperti kalian memang mempunyai seribu cara untuk bermain kotor, jika kamu menginginkan uang. Katakan saja, tidak perlu dengan cara seperti ini." Osmond tudak menyadari, jika dirinya saat itu tidak seperti biasanya. Menjadi lebih cerewet dan banyak bicara, terutama pada wanita.


" Dasar orang kaya tidak punya perasaan! Baiklah, lupakan saja ucapan anda kepada saya. Bagi kami rakyat kecil ini yang benar-benar membutuhkan uang, memang sangat penting untuk menagih janji pada orang besar seperti anda yang sering melupakannya. Semoga saja anda tidak akan bernasib sial dengan ucapan anda sendiri! Perkataan anda seperti parfum isi ulang, wangi tapi palsu!!" Kalimat tersebut penuh dengan penekanan dan amarah dari seorang Clara.


Mendapati dirinya telah di umpat oleh seorang wanita, membuat Osmond merasa terhina. Disaat ia menghampiri wanita tersebut, mau percaya atau tidak dengan perpatah. Bahwa doa orang yang teraniaya, akan cepat terkabulkan. Tanpa sengaja, kaki miliknya terbentur oleh meja kerjanya sendiri. Yang mengakibatkan tubuh kekarnya jatuh dan bertabrakan dengan tubun Clara, tepatnya tubuh Osmond terjatuh menimpa tubuh Clara yang kecil.


" Aaaaa..."


Bugbh!


Disaat terjatuh dan tidak merasakan sakit sedikit pun, Osmond melihat sekitarnya. Betapa terkejut dirinya, disaat mendengar suara yang sangat menyakitkan telinganya.


" Dasar galon air, menyingkirlah dari atas tubuhku!" Sekuat tenaga, Clara berteriak dengan suara yang begitu kencang.

__ADS_1


Betapa terkejutnya Osmond mendengarnya, matanya langsung terkunci melihat siapa yang menjadi sumber kekacauan. Mereka berdua saling mengumpat dan berusaha untuk bangkit, hingga tidak memperhatikan lagi tentang situasi yang ada.


Klek!


" Kakak!"


" Gila!"


Kehadiran orang terdekatnya secara tiba-tiba, membuat kedua orang yang masih sibuk dengan sikapnya untuk berdiri dari lantai menjadi kaget.


" Zea!"


" Hei galon air, cepat berdiri! Kau ingin membunuhku!" Clara lagi-lagi berteriak.


Gerakan yang begitu sangat cepat, Osmond berdiri dan merapikan pakaiannya. Wajahnya berubah menjadi merah seperti tomat cery yang ranum, begitupun dengan Clara.


" Benar sekali, wah bos. Kau benar-benar telah sembuh dari sindrom wanita rupanya, Ammar pasti senang ini." Kevin yang saat itu bermaksud menghantarkan Zea dan Sabian, namun ternyata ia mendapatkan kejutan besar dari bosnya.


" Diam kau!" Osmond menjadi salah tingkah dengan kejadian itu.


Zea berjalan menghampiri Clara, ia merasa kasihan dengan wanita bertubuh kecil seperti dirinya. Dengan tubuh sang kakak yang, ya hampir benar dengan apa yang dikatakan oleh Clara 'galon air'.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya Zea yang sudah berdiri disamping Clara.


" Ya nona, saya tidak apa-apa."

__ADS_1


" Zea, panggil saja seperti itu." Zea membawa Clara untuk duduk bersamanya, yang sebelumnya telah meminta izin dari suaminya yang masih betah menertawakan kakak iparnya.


Mereka pun saling bertanya dan menjelaskan tentang apa yang telah terjadi, sempat terjadi pertarungan yang cukup alot dari kubu Osmond dan Clara. Mereka masih menyela dan menutupi apa yang sudah terjadi. Tapi tidak bagi Kevin, ia sudah sangat puas mengoda bosnya saat itu. Bahkan saat ia keluar dari ruangan tersebut, masih sempat-sempatnya ia menertawakannya.


" Bos, lain kali pasang alarm. Biar nggak garing pas lagi berduan."


" Bang***at kai kevin!" Osmond berteriak atas ucapan Kevin yang sudah terlebih dahulu kabur.


Melihat hal itu, Sabian hanya tersenyum. Tidak ingin menambah keruhnya suasana, lalu ia menghampiri istrinya yang masih betah mengobrol bersama Clara.


" Sayang, sudah waktunya makan siang." Ajaka Sabian kepada Zea.


" Hem, benar juga. Kakak ikut ya, sekalian sama Claranya. Kita makan siang bersama."


" Tidak!" Jawab Osmond dan Clara bersamaan dan di akhiri dengan mereka yang saling bertatap muka.


Sabian meraih tubuh Zea dari samping dan menarik pinggulnya untuk berdiri bersamanya, berbisik sesuatu ditelinga Zea dan anggukan kepalanya menandakan jika ia mengerti.


" Baiklah kalau kalian tidak mau, Clara. Nanti malam, tidak ada penolakan dan tidak ada kata menghindar. Begitupun itu berlaku untuk dirimu kak, jika kalian tidak hadir. Bersiaplah untuk menerima hukuman dariku, oke. Kakak, camkan itu."


Zea langsung menarik tangan Sabian dan berjalan keluar dari ruangan itu, sesampainya diluar. Tawa itu langsung pecah, Zea sengaja untuk menjodohkan Osmond bersama Clara.


" Sayang."


" Biarkan saja kakak seperti itu, siapa tau jika Clara adalah jodohnya."

__ADS_1


Melihat istrinya begitu bersemangat dan penuh harap atas apa yang ia duga, Zea sangat ingin kakaknya berubah dan mendapatkan pasangan hidup.


__ADS_2